• Sabtu, 3 Desember 2022

Permintaan Sepeda

- Minggu, 27 Februari 2022 | 06:26 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RODA-roda berputar hilir mudik di lapangan dusun. Anak-anak riang mengayuh pedal ke sana kemari. Tetapi Mail malah gundah gulana menyaksikan keasyikan teman-teman sepantarannya itu. Ia merasa iri sebab ia tak punya sepeda seperti mereka. Ia hanya terus menonton mereka, sembari menahan keinginannya untuk bebas melakoni hal serupa. 

Tetapi pada hari-hari kemarin, saat ia masih nimbrung, ada saja di antara teman-temannya yang capai dan meminjaminya sepeda di tengah keseruan semacam itu. Atau, ketika ia berhasrat untuk segera bersepeda, ia akan sedia memenuhi perintah sang pemilik sepeda, semisal memanjat jambu air, membeli camilan di toko, atau mencuci sepeda setelah memainkannya. 

Namun bergantung pada sepeda pinjaman, tidaklah menyenangkan. Begitu pun baginya. Itu karena ia baru akan bersepeda ketika pemiliknya tidak sedang menggunakannya. Ataukah, ia mesti bersabar untuk menghinakan dirinya kalau ia ingin segera menungganginya. Karena kondisi itu, ia merasa rendah diri atas keadaannya yang tidak setara dengan teman-temannya.

Baca Juga: Orangnya Telah Pergi, Cintanya Masih Ada

Sungguh besar harapannya untuk segera memiliki sepeda. Ia telah meminta kepada Nurdin, ayahnya, agar dibelikan sepeda. Tetapi sang ayah tak juga mengabulkannya. Setiap kali ia merengek, sang ayah hanya akan berjanji untuk memenuhinya tanpa mematok waktu. Hingga akhirnya, janji sang ayah hanya tinggal janji. Lagi, dan lagi. 

Peliknya, janji surga sang ayah kerap dibarengi dengan persyaratan. Kata sang ayah, ia akan dibelikan sepeda jika ia mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, giat bekerja di kebun, dan rajin beribadah. Tetapi setelah persyaratan itu ia penuhi, sang ayah tak juga memenuhi janji dan malah terus memintanya untuk menunaikan segala macam perintah. 

Memang sial baginya, sebab ibunya telah meninggal dua tahun yang lalu. Padahal, sang ibu sangat memedulikannya. Sang ibu selalu berupaya mewujudkan keinginannya, termasuk dengan membujuk dan memaksa sang ayah demi dirinya. Karena itulah, di usianya yang kedelapan tahun, ia jadi putus harapan untuk memiliki apa-apa dari kemurahan hati sang ayah.

Baca Juga: Putih Mata Memerah

Tak pelak lagi, ia berpandangan bahwa ayahnya tidak mengasihinya, meski ia adalah anak tunggal. Buktinya, sang ayah yang merupakan tukang ojek pangkalan, malah lebih suka menghabiskan uang untuk membeli rokok dan aksesoris motor, atau mentraktir seorang janda di warung sebagaimana gosip warga, ketimbang ditabung untuk mewujudkan permintaannya.

Halaman:

Editor: Irfan Luthfi Arief

Sumber: Sebuah Cerpen Karya Ramli Lahaping

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cerpen Sedih: Dari Aku yang Tak Tahu Malu

Kamis, 16 Juni 2022 | 01:32 WIB

Permintaan Sepeda

Minggu, 27 Februari 2022 | 06:26 WIB

Putih Mata Memerah

Kamis, 24 Februari 2022 | 06:10 WIB

Orangnya Telah Pergi, Cintanya Masih Ada

Minggu, 20 Februari 2022 | 07:43 WIB

Terpopuler

X