Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama elemen masyarakat dan TNI melakukan penangkapan massal ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung pada Jumat (17/4/2026). Operasi yang melibatkan warga, pasukan oranye, serta personel Kementerian Kelautan dan Perikanan ini berhasil mengangkat 68.880 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat 6,98 ton dalam waktu 3,5 jam.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyatakan bahwa penangkapan skala besar ini merupakan langkah strategis jangka pendek untuk menekan populasi ikan yang dinilai mengganggu ekosistem sungai. “Operasi semacam ini, selanjutnya diupayakan bisa dilakukan dalam skala yang lebih besar dengan frekuensi lebih sering,” ujar Hasudungan.
Ikan sapu-sapu yang ditangkap kemudian dimatikan dan dikubur untuk mencegah kembalinya ke perairan, diperjualbelikan, serta dimanfaatkan sebagai kompos alami. Langkah ini diambil karena ikan sapu-sapu berisiko dikonsumsi manusia akibat kandungan residu logam berat, seperti timbal (Pb), yang melebihi ambang batas aman.
Asal Usul dan Penyebaran Ikan Sapu-sapu
Ikan sapu-sapu, yang dikenal dengan nama latin Pterygoplichthys pardalis, sebenarnya bukan spesies asli perairan Indonesia. Di habitat aslinya di Amazon, Amerika Selatan, ikan ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan memakan alga dan menjadi mangsa predator alami.
Diperkirakan, ikan sapu-sapu pertama kali masuk ke Indonesia pada era 1970-an. Kehadirannya di perairan tawar Indonesia diduga kuat melalui jalur perdagangan ikan hias. Bentuk tubuh dan kemampuannya sebagai pembersih alami pada akuarium membuatnya populer di kalangan pencinta ikan hias.
Tingginya permintaan dari para kolektor ikan hias menyebabkan ikan ini banyak didatangkan dari Amerika Selatan. Akibatnya, ikan sapu-sapu yang kini ditemukan di perairan Indonesia dikategorikan sebagai spesies introduksi, atau yang sengaja dimasukkan dari negara lain.
Seiring waktu, ikan sapu-sapu menunjukkan kemampuan adaptasi dan reproduksi yang tinggi di lingkungan baru. Ukuran tubuhnya membesar dan pola makannya meluas, tidak hanya mengonsumsi alga, tetapi juga telur ikan lain. Perubahan ini kerap mendorong pemiliknya untuk melepaskan ikan tersebut ke perairan umum, termasuk Sungai Ciliwung.
Ancaman sebagai Spesies Invasif
Menurut International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), ikan sapu-sapu diklasifikasikan sebagai spesies invasif. Kemampuannya beradaptasi di lingkungan tercemar dan tingkat reproduksinya yang cepat berkontribusi pada penurunan populasi spesies ikan endemik sungai.
Data pada tahun 2009 menunjukkan laju kehilangan spesies endemik di Sungai Ciliwung mencapai 92,5 persen. Dari sekitar 187 spesies awal, jumlahnya menyusut menjadi 20 spesies, di mana lima di antaranya merupakan spesies introduksi.
Bahaya Konsumsi dan Praktik Ilegal
Overpopulasi ikan sapu-sapu membawa ancaman lain, yaitu akumulasi logam berat dalam tubuhnya yang berbahaya bagi manusia. Sayangnya, praktik penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan, seperti siomay, diduga masih terjadi demi menekan biaya produksi.
Wandi (56), seorang penjual siomay di Cengkareng, Jakarta Barat, mengakui adanya praktik tersebut di kalangan pedagang lain. “Ada lah udah enggak usah saya rahasiakan juga semua orang pasti sudah tahu, ya memang ada aja sih yang kayak gitu (pakai ikan sapu-sapu), tapi saya enggak ya,” ujarnya.
Menurut Wandi, harga ikan sapu-sapu yang lebih murah, berkisar Rp 25.000 hingga Rp 35.000 per kilogram, menjadi daya tarik bagi sebagian pedagang. Bandingkan dengan harga ikan tenggiri yang bisa mencapai hampir Rp 100.000 per kilogram.
Senada, Angga (25), penjual siomay di Palmerah, Jakarta Barat, menegaskan bahwa ia menggunakan ikan tenggiri dan tuna sebagai bahan baku utamanya. Ia juga menyebutkan ciri siomay berbahan ikan sapu-sapu cenderung memiliki warna lebih gelap, meskipun ia belum pernah menemukan praktik tersebut secara langsung.
Pakar penyakit dalam Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, menekankan risiko kesehatan dari konsumsi ikan sapu-sapu, terutama yang berasal dari perairan tercemar. “Pertama, tentu berbahaya jika ikan itu tercemar dengan berbagai macam bakteri, kemudian juga kuman, dan juga biasanya logam berat yang ada pada ikan tersebut,” kata Ari.
Ia menjelaskan bahwa logam berat dalam tubuh ikan tidak dapat hilang sepenuhnya melalui proses memasak. Konsumsi ikan tercemar dapat menimbulkan dampak jangka pendek seperti muntah-muntah, dan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal maupun liver.


![[HOAKS] Sandiaga Uno Promosikan Platform Ivenstasi, Keuntungan Rp 5 Juta Per Hari [HOAKS] Sandiaga Uno Promosikan Platform Ivenstasi, Keuntungan Rp 5 Juta Per Hari](https://www.beritakarya.id/wp-content/uploads/2026/04/680e10c31645b-768x512.jpg)
![[HOAKS] Pentagon Sebut Ali Khamenei Masih Hidup pada April 2026 [HOAKS] Pentagon Sebut Ali Khamenei Masih Hidup pada April 2026](https://www.beritakarya.id/wp-content/uploads/2026/04/69a35d38a1733-768x512.jpg)
![[KLARIFIKASI] Video Gempa di Jepang pada 2024, Bukan 20 April 2026 [KLARIFIKASI] Video Gempa di Jepang pada 2024, Bukan 20 April 2026](https://www.beritakarya.id/wp-content/uploads/2026/04/693b9309a9106-1-768x512.jpg)
![[KLARIFIKASI] Video Tentara Israel Minta Dievakuasi Merupakan Rekayasa AI [KLARIFIKASI] Video Tentara Israel Minta Dievakuasi Merupakan Rekayasa AI](https://www.beritakarya.id/wp-content/uploads/2026/04/60d9c94a9f7d9-768x512.jpg)
![[HOAKS] Kabar SBY Masuk Rumah Sakit pada 21 April 2026 [HOAKS] Kabar SBY Masuk Rumah Sakit pada 21 April 2026](https://www.beritakarya.id/wp-content/uploads/2026/04/68c3de6aa2373-768x512.jpg)