Stigma negatif kerap melekat pada gaya hidup anak punk, mulai dari citra urakan, hidup di jalanan, hingga dianggap tidak menjaga kebersihan diri. Namun, realitas di lapangan kerap menunjukkan sisi yang berbeda. Hafid (22), yang akrab disapa Kipli, pemuda asal Pemalang, Jawa Tengah, menjadi salah satu contoh yang mematahkan anggapan tersebut. Kini ia merantau ke Solo, bekerja di sebuah depot sayur, dan menjalani keseharian layaknya pekerja pada umumnya, sembari tetap mempertahankan identitasnya sebagai anak punk.
Kipli mengaku mulai mengenal dunia punk saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Lingkungan tempat tinggalnya kala itu cukup akrab dengan komunitas punk, yang kemudian menumbuhkan rasa penasaran dalam dirinya. “Awalnya saya juga melihat anak punk itu hidupnya di jalan dan tidak jelas. Tapi setelah dipelajari, ternyata tidak sesederhana itu,” ujarnya saat ditemui Kompas.com di Solo, Selasa (21/4/2026).
Seiring berjalannya waktu, pandangan Kipli terhadap punk mengalami perubahan. Ia mulai memahami bahwa punk bukan sekadar gaya berpakaian atau penampilan yang nyentrik, melainkan juga sebuah cara pandang hidup.
Punk sebagai Identitas dan Cara Hidup
Bagi Kipli, menjadi seorang anak punk berarti memiliki keberanian untuk mandiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Prinsip ini ia pegang teguh dalam menjalani kesehariannya. Keputusan untuk mandiri inilah yang membawanya merantau ke Solo, tempat ia kini bekerja sekaligus melanjutkan hidup dengan caranya sendiri.
Ia kini bekerja di depot sayur milik rekannya, Hilman Ramadhon, yang ia temui melalui komunitas vespa. Setiap pukul 5 pagi, Kipli telah berangkat ke pasar untuk berbelanja sayuran yang dibutuhkan para pelanggan. “Yang penting bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Mau bekerja apa saja, yang penting usaha dan halal, tidak merugikan orang lain,” kata dia.
Nilai kemandirian tersebut menjadi salah satu fondasi utama dalam gaya hidup punk yang ia jalani. Baginya, bertahan hidup dari usaha sendiri jauh lebih penting daripada sekadar penampilan luar.
Fashion sebagai Bentuk Ekspresi
Tak dapat dipungkiri, fashion merupakan bagian penting dari identitas seorang anak punk. Kipli pun mengakui hal tersebut. Menurutnya, atribut seperti jaket, sepatu boots, hingga rambut mohawk bukan sekadar gaya, melainkan penanda identitas. “Itu bentuk ekspresi diri, biar orang tahu kita punk,” ujarnya.
Menariknya, sebagian besar atribut yang ia gunakan dibuat sendiri. Ia merancang dan memodifikasi pakaiannya dengan bahan sederhana, yang menunjukkan sisi kreatif yang juga lekat dengan budaya punk.
Menepis Stigma yang Melekat
Salah satu stigma yang paling sering ia rasakan adalah anggapan bahwa anak punk identik dengan hidup kotor dan tidak terurus. Kipli menilai, pandangan tersebut muncul karena masyarakat hanya melihat sebagian kecil dari realitas. “Padahal tidak semua seperti itu. Saya tetap mandi setiap hari, tidur di dalam rumah, kerja juga seperti biasa,” katanya.
Ia juga mengaku pernah mendapat perlakuan kurang menyenangkan, seperti dibicarakan atau dipandang aneh saat berada di tempat umum. Namun, hal tersebut tidak membuatnya gentar. Menurut Kipli, cara terbaik untuk melawan stigma adalah dengan menunjukkan sikap dan tindakan nyata. “Kita buktikan saja kalau punk juga bisa kerja, bisa mandiri,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Penampilan
Kisah Kipli menunjukkan bahwa gaya hidup punk tidak bisa disederhanakan hanya dari penampilan luar. Di balik jaket kulit dan rambut mohawk, terdapat nilai kemandirian, kreativitas, dan tanggung jawab yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Kipli, menjadi punk bukan berarti menolak norma secara membabi buta, melainkan memilih jalan hidup sendiri dengan penuh kesadaran.
Ia berharap masyarakat dapat melihat anak punk secara lebih utuh, tidak hanya dari stereotip yang selama ini melekat. “Yang penting kita jalanin hidup dengan baik. Tidak semua anak punk seperti yang orang pikir,” kata dia.






