Lifestyle

Perjuangan Ivany, Srikandi Bluebird yang Menembus Batas demi Anak

Advertisement

Ivany Rosaline (45), seorang ibu tunggal, menemukan takdir tak terduga di balik kemudi taksi Bluebird. Sejak awal 2024, seragam biru perusahaan transportasi itu menjadi simbol harapan dan perjuangan demi kelangsungan hidup keluarganya. Keputusannya memegang kemudi taksi lahir dari desakan kebutuhan mendesak yang tak bisa lagi ia tunda.

Sebelum terjun ke dunia transportasi, Ivany telah malang melintang melalui berbagai fase kehidupan yang penuh tantangan. Kehidupannya berubah drastis pasca-berpisah, memaksanya untuk menghidupi anak-anaknya seorang diri. Tekanan finansial yang semakin berat menjadi pemicu utama Ivany untuk berpikir keras demi menjamin masa depan buah hatinya.

“Terjun ke Bluebird karena enggak punya duit sama sekali. Beneran, enggak punya duit sama sekali. Anak-anak mau makan, buat sekolah, karena aku kan single parent ya, jadi muter otak, ‘Gimana nih untuk kehidupan anak-anak’. Karena kita enggak bisa ngandelin orang lain,” ungkap Ivany kepada Kompas.com di Bluebird Group Headquarters, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Perjuangan Ivany sebagai Orang Tua Tunggal

Keputusan Ivany menjadi pengemudi taksi bukanlah keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang. Jauh sebelum tahun 2024, Ivany dikenal sebagai seorang wirausahawan yang gigih.

Titik Terendah di Ruang ICU

Ujian hidup terberat Ivany terjadi pada tahun 2023. Di tengah masa sulit usahanya yang sedang diuji, sang anak bungsu harus dilarikan ke ruang Unit Perawatan Intensif (ICU) akibat komplikasi diabetes. Momen tersebut terasa meruntuhkan dunianya.

“Saat anak saya yang bungsu masuk ICU kena gula. Dan hampir collapse, hampir meninggal. Itu yang terberat. Dunia saya runtuh,” tutur Ivany dengan nada getir.

Dalam kepasrahan, Ivany menyadari bahwa perannya bukan hanya sebagai pendamping, melainkan juga sebagai penjamin masa depan anak-anaknya, terutama di tengah badai ekonomi yang menerpa.

“Saya cuma bilang, kalau misalnya takdirnya dia harus lewat, ambil dengan segera. Tapi kalau misalnya ada lagi tugas yang harus dia kerjakan di dunia ini, mohon pulihkan. Itu yang terberat,” kenang Ivany.

Mencari Kepastian di Atas Aspal

Setelah tabungannya terkuras habis akibat berbagai kegagalan usaha dan membengkaknya biaya pengobatan sang anak, Ivany terpaksa mencari pekerjaan yang mampu memberikan penghasilan cepat dan pasti. Profesi pengemudi taksi menjadi pilihan yang menarik baginya, menawarkan fleksibilitas namun tetap menjanjikan secara finansial untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Keselamatan menjadi pertimbangan utama Ivany saat memutuskan bergabung dengan Bluebird. Sebagai seorang perempuan yang harus menghabiskan belasan jam di jalanan, ia membutuhkan jaminan keamanan yang diberikan perusahaan kepada para mitra pengemudi perempuannya.

“Kenyamanan keamanan perempuan di dunia transportasi, yang saya lihat Bluebird. Makanya saya putuskan untuk bergabung,” jelas Ivany.

Melalui pelatihan intensif selama tiga hari dan bimbingan dari para senior, Ivany perlahan menemukan ritme kerjanya. Baginya, konsistensi adalah kunci untuk meraih penghasilan yang layak demi membiayai sekolah anak-anaknya di sekolah swasta.

Advertisement

Keajaiban Sedekah dan Rezeki Tak Terduga

Kehidupan di jalanan ternyata membawa Ivany pada berbagai pengalaman spiritual yang tak terduga. Ia meyakini bahwa rezeki telah diatur dan sering kali datang melalui cara-cara ajaib, terutama jika disertai dengan niat baik dan kebiasaan bersedekah.

Salah satu “mukjizat kecil” yang dialaminya terjadi ketika ia tengah menghadapi keresahan untuk melunasi uang buku sekolah anaknya yang mencapai jutaan rupiah. Tiba-tiba, seorang penumpang memberinya uang tambahan dan mengisi saldo e-toll dalam jumlah besar.

“Saya kaget, bapak-bapak masuk, judes banget. Tiba-tiba dia ngasih 500 ribu. ‘Pak ini uang apa ya?’, ‘Udah itu dari saya, pegang aja’,” cerita Ivany, masih terheran.

Tak hanya itu, Ivany juga memegang teguh prinsip untuk selalu berbagi, bahkan di saat kondisi finansialnya sulit. Suatu pagi, ia berniat bersedekah di masjid, namun terlewat karena terburu-buru mengejar antrean di bandara. Ia kemudian memberikan uang tersebut kepada seorang pengemis tunanetra yang ditemuinya di jalan.

Tak disangka, hari itu ia mendapatkan omzet yang melonjak tajam hingga menembus angka jutaan rupiah hanya dengan melayani sedikit penumpang.

“Argo saya Rp 1,4 juta hari itu, saya cuma narik lima orang. The power of sedekah. Seru banget deh. Banyak pokoknya hal-hal yang ibaratnya di luar nalar kita,” ujar Ivany penuh semangat.

Menepis Rasa Bersalah demi Masa Depan

Sebagai ibu yang bekerja dengan jam operasional panjang, dari subuh hingga malam, Ivany tak menampik adanya perasaan bersalah karena harus meninggalkan anak-anaknya di rumah. Namun, ia telah berdamai dengan kenyataan bahwa kemandirian finansial adalah bentuk kasih sayang yang nyata demi memastikan kebutuhan pendidikan dan kesehatan anak-anaknya terpenuhi.

Fasilitas mess khusus serta bantuan pinjaman pendidikan dari perusahaan turut meringankan beban mentalnya. Ivany kini merasa lega karena dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya tanpa lagi dihantui rasa gagal sebagai orang tua.

“Jujur kalau misalnya dibilang rasa bersalah, saya ibu yang ngerasa bersalah. Karena buat, saya dua-duanya prioritas. Kerja, anak. Semuanya harus jalan. Kalau saya cuman di anak, anak saya enggak bisa makan, enggak bisa sekolah,” ucap Ivany.

Meskipun rasa lelah kerap menghampiri, melihat anak-anaknya dapat makan dengan layak dan bersekolah dengan tenang menjadi bahan bakar utama bagi Ivany untuk terus melintas di atas aspal. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya, selama seorang ibu memiliki tekad kuat untuk berjuang menembus batas kemampuannya.

Advertisement