Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, memperpanjang status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga akhir Desember 2026. Langkah antisipasi ini diambil menyusul prediksi musim kemarau panjang yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran dan bencana asap.
Penetapan status tersebut dikukuhkan melalui apel kesiapsiagaan yang melibatkan ratusan personel gabungan dari unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA). Acara dilaksanakan di halaman GOR Biduk Kajang, Kayuagung, Rabu (22/4/2026).
Koordinasi Lintas Instansi Sejak Dini
Bupati OKI, Muchendi, menyatakan bahwa penetapan status siaga darurat yang dilakukan lebih awal bertujuan untuk memperkuat koordinasi antarinstansi. Ia menilai potensi karhutla tahun ini cukup tinggi, terutama dengan ancaman kondisi iklim ekstrem.
“Penetapan status siaga darurat karhutla telah dilakukan sejak pekan lalu dan hari ini diperkuat melalui apel besar pasukan dan peralatan,” ujar Muchendi, mengutip Tribun.
Plt Kepala Pelaksana BPBD OKI, Nova Triyussanto, menambahkan bahwa penetapan ini merupakan yang pertama di Sumatera Selatan pada tahun 2026. “Status siaga darurat ini kami tetapkan lebih awal sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diprediksi cukup ekstrem tahun ini,” katanya.
Status siaga darurat ini berlaku berdasarkan Surat Keputusan Bupati OKI Nomor 135/KEP/BPBD/2026, terhitung sejak 14 April hingga 31 Desember 2026.
Lahan Gambut dan El Nino Tingkatkan Risiko
Muchendi menjelaskan bahwa Kabupaten OKI termasuk wilayah yang sangat rawan karhutla. Dominasi lahan gambut menjadi faktor utama, karena mudah terbakar saat kondisi kering. “Karena itu semua unsur kita libatkan, mulai dari TNI, Polri, BPBD hingga MPA dan tokoh masyarakat,” tambahnya.
Selain karakteristik lahan, potensi fenomena iklim El Nino juga menjadi faktor yang memperbesar risiko kebakaran. Kondisi ini dapat memicu peningkatan suhu dan memperluas peluang munculnya titik api.
Data dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla di Sumatera Selatan sepanjang 2025 mencapai 5.939,8 hektare. Rinciannya adalah:
- Lahan mineral: 5.558,2 hektare
- Lahan gambut: 381,6 hektare
Kabupaten OKI tercatat sebagai wilayah dengan luas kebakaran terbesar, mencapai 1.361,9 hektare. Rinciannya adalah:
- Lahan gambut: 333,4 hektare
- Lahan mineral: 1.028,5 hektare
Patroli dan Penguatan Sarana Prasarana
Selama masa siaga darurat, seluruh personel akan melaksanakan patroli rutin untuk memantau wilayah rawan kebakaran, baik melalui jalur darat maupun udara. Pemerintah daerah juga berupaya memperkuat kesiapan sarana dan prasarana.
Pemkab OKI menerima dukungan peralatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) senilai sekitar Rp1,5 miliar. Koordinasi dengan Kementerian Pertanian juga dilakukan untuk menjaga produktivitas sektor pertanian selama musim kemarau, termasuk penyediaan pompa air.
Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam pencegahan karhutla. Sosialisasi kepada masyarakat terus diintensifkan, khususnya di wilayah yang rentan terbakar.
“Kami berharap semua pihak bergerak bersama mencegah kebakaran hutan, kebun, dan lahan,” ujar Nova Triyussanto.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, karena selain merusak lingkungan, tindakan tersebut juga dapat berujung pada sanksi hukum. Perusahaan perkebunan juga diminta berperan aktif menjaga wilayah konsesi masing-masing agar tidak terjadi kebakaran yang meluas.
“Perusahaan juga sudah kita minta menjaga wilayahnya sesuai radius yang ditetapkan,” pungkas Muchendi.






