Demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Perjuangan Kaltim di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) pada Selasa (21/4/2026) berakhir ricuh. Massa memprotes kebijakan dan gaya hidup mewah Gubernur Kaltim, menyoroti anggaran pengadaan mobil dinas senilai Rp 8,5 miliar serta renovasi rumah dinas yang mencapai Rp 25 miliar. Aksi ini sebelumnya juga telah berlangsung di Gedung DPRD Kaltim.
Fakta Demonstrasi di Kantor Gubernur Kaltim
Aksi unjuk rasa yang melibatkan ratusan warga dan mahasiswa di Samarinda, Kalimantan Timur, pada Selasa (21/4/2026) menarik perhatian publik karena berujung pada bentrokan. Massa yang menuntut evaluasi kebijakan pemerintah daerah dan pemberantasan korupsi, kolusi, serta nepotisme (KKN) tersebut awalnya menyampaikan aspirasi secara tertib.
1. Kronologi Awal Aksi
Demonstrasi dimulai sejak pagi hari di Samarinda, dengan ratusan peserta dari berbagai elemen, termasuk mahasiswa dan masyarakat sipil. Mereka berkumpul di Masjid Baitul Muttaqiren Islamic Center sebelum bergerak menuju Gedung DPRD Kaltim. Massa melakukan konvoi kendaraan sambil membawa spanduk dan bendera organisasi, serta menyampaikan orasi secara bergantian.
2. Kericuhan Dipicu Ketiadaan Respons
Situasi di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jalan Gajah Mada, Samarinda, berubah memanas menjelang petang. Massa yang bertahan sekitar enam jam tidak mendapatkan respons langsung dari Gubernur maupun Wakil Gubernur. Kericuhan pecah setelah aparat kepolisian meminta massa mundur dari area kantor gubernur sekitar pukul 18.00 Wita. Peserta aksi kemudian melempar botol dan air minum ke arah petugas, bahkan membakar kardus dan kembali melakukan pelemparan.
3. Tiga Tuntutan Utama Massa
Dalam aksinya, massa demonstran mengajukan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak evaluasi seluruh kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Kedua, menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Ketiga, meminta DPRD Kaltim menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal. Perhatian terbesar massa tertuju pada anggaran Rp 25 miliar untuk rumah jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, termasuk fasilitas seperti akuarium laut dan alat fitnes, serta pembelian mobil dinas mewah jenis Range Rover senilai Rp 8,5 miliar.
4. Sejumlah Demonstran Diamankan
Bentrok antara massa dan aparat kepolisian berlangsung hingga sekitar pukul 20.00 Wita sebelum situasi berhasil dikendalikan dan massa dibubarkan. Kapolda Kalimantan Timur, Endar Priantoro, menyatakan bahwa aksi tersebut secara umum masih dalam batas wajar dan terkendali. “Terima kasih seluruh lapisan masyarakat, mahasiswa, dan peserta unjuk rasa. Hari ini pelaksanaan unjuk rasa bisa berjalan dengan damai, tertib, dan aspirasi juga sudah disampaikan,” ujarnya. Meskipun demikian, ia mengakui ada beberapa peserta aksi yang diamankan dan masih menjalani pemeriksaan. “Ada beberapa yang diamankan, tapi masih dalam tahap pemeriksaan. Pendekatan hukum represif akan kita lihat, tergantung tingkat kesalahannya. Jika tidak fatal, bisa menjadi pembinaan,” jelas Endar.
5. Gubernur Kaltim Tidak Menemui Massa
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menjadi sorotan karena tidak menemui massa aksi dan memilih tidak memberikan pernyataan saat meninggalkan Kantor Gubernur Kaltim pada Selasa (21/4/2026) malam. Rudy keluar dari kantor sekitar pukul 21.10 WITA dengan pengawalan ketat dan langsung menuju rumah jabatannya tanpa memberikan tanggapan kepada awak media. Wartawan yang mencoba meminta komentar terkait tuntutan massa dan kericuhan tidak mendapatkan respons. Endar Priantoro mengonfirmasi bahwa gubernur dan wakil gubernur berada di dalam gedung saat aksi berlangsung, namun pemerintah provinsi memutuskan untuk tidak menerima massa untuk audiensi langsung. “Gubernur ada tadi di kantor, tapi memang tidak menerima mereka untuk audiensi,” ujar Endar di lokasi.






