Reni Wulandari menorehkan sejarah baru di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dengan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Direktur Operasi. Kepemimpinannya ini menggarisbawahi pergeseran paradigma di industri semen yang secara tradisional didominasi laki-laki, sekaligus menjadi inspirasi dalam peringatan Hari Kartini.
Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di industri semen, sebagian besar dihabiskan di area operasi yang identik dengan kaum pria, Reni membuktikan bahwa kompetensi dan dedikasi tidak mengenal gender. Ia resmi menduduki posisi strategis tersebut sejak April 2023, setelah melalui perjalanan karier yang gemilang di lingkungan SIG Group.
Lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan Magister Business Administration dari Swiss German University ini memulai kiprahnya di PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), salah satu anak usaha SIG, sebagai General Manager Pabrik Tuban dan Pabrik Narogong. Pengalamannya kemudian berlanjut sebagai Direktur Operasi di PT Semen Gresik sebelum akhirnya dipercaya memegang tampuk Direktur Operasi SIG.
“Sejak hari pertama mengemban amanah sebagai Direktur Operasi SIG, saya menerapkan pendekatan visible-felt leadership. Kehadiran pemimpin dan interaksi langsung di lapangan sangat penting, terutama di area operasi yang didominasi karyawan laki-laki,” ujar Reni dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Reni menyatakan, sebagai bagian dari minoritas gender, ia tidak menemukan kendala terkait bias gender dalam menjalankan perubahan untuk mendukung kinerja operasi. “Ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender di SIG bukan sekadar slogan, melainkan telah terimplementasi di seluruh lini,” tambahnya.
Penghargaan The Most Extraordinary Women Business Leaders 2024 dari Majalah SWA yang diraihnya menjadi bukti nyata kontribusinya. Reni menekankan bahwa peluang berkarier di sektor industri berat seperti semen menuntut kompetensi dan konsistensi tinggi.
Ia berpandangan, kesetaraan gender mampu meningkatkan profitabilitas, inovasi, dan produktivitas melalui keberagaman perspektif. “Bukan melalui argumentasi atau perdebatan untuk memperoleh perlakuan setara, tetapi dengan menunjukkan,” tegas Reni.
Lebih lanjut, Reni menilai SIG dan BUMN lainnya telah memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki untuk berkembang. Hal ini merupakan respons terhadap kebutuhan bisnis, di mana kesetaraan gender menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan kinerja organisasi.
“Dalam lingkungan kerja berbasis merit, fokus pada kompetensi, kualifikasi, kinerja, dan profesionalisme akan menjadi keunggulan bagi organisasi,” jelasnya.
Komitmen SIG pada Kesetaraan Gender
Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, menambahkan bahwa perusahaan menerapkan kebijakan fair employment opportunity policy yang menjamin kesempatan adil dan setara bagi seluruh karyawan. Kebijakan ini sejalan dengan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
“Kami memastikan tidak ada diskriminasi dalam proses rekrutmen maupun seleksi untuk posisi manajemen dan senior. Seluruh proses dilakukan secara transparan berdasarkan kompetensi dan kinerja, bukan faktor gender,” ujar Hadi.
SIG juga menyediakan berbagai fasilitas pendukung bagi karyawan perempuan, meliputi cuti melahirkan, ruang laktasi, dan dispensasi haid. Selain itu, dibentuk komunitas karyawan perempuan Srikandi SIG sebagai wadah pemberdayaan dan pengembangan talenta.
“Sebagai bagian dari komitmen menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, SIG juga menerapkan Respectful Workplace Policy untuk melindungi seluruh insan perusahaan dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan. Dengan demikian, tercipta lingkungan kerja yang aman, kondusif, dan produktif,” tutup Hadi.






