Lifestyle

Cerita Alfina Rahmatia: Dibesarkan Mandiri Sejak Kecil, Kini Jadi PhD Mother di Turki

Advertisement

TURKI – Menanamkan kemandirian, nilai, dan kepercayaan sejak dini menjadi kunci dalam membentuk perempuan tangguh di masa kini. Hal ini tergambar jelas dalam kisah Alfina Rahmatia, 30 tahun, yang kini tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di Turki. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa S3, ibu, peneliti, dan aktivis organisasi, Alfina mengaku fondasi kuat yang membawanya sejauh ini tak lepas dari pola asuh orangtuanya sejak kecil.

Alfina dan suaminya saat ini sama-sama tengah menempuh studi di Turki berkat program beasiswa YTB dari pemerintah setempat. Ia menceritakan bahwa orang tuanya membesarkannya dalam lingkungan yang memberi ruang kebebasan, namun selalu diiringi ketegasan dan penanaman nilai-nilai yang kuat.

Dibesarkan dengan Kebebasan dan Tanggung Jawab

“Orang tua saya cukup tegas, tapi tetap berusaha memahami. Mereka membebaskan saya dalam mengambil keputusan, sekaligus mengajarkan bahwa setiap pilihan punya konsekuensi,” ujar Alfina saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Sebagai anak pertama, Alfina menyadari bahwa orang tuanya juga turut belajar dalam proses mendidiknya. Dinamika dalam pola asuh tersebut, meski tidak selalu sempurna, justru membentuknya menjadi pribadi yang lebih matang.

Tempaan Kemandirian Sejak Pesantren

Salah satu keputusan penting yang membentuk kemandirian Alfina terjadi setelah ia lulus sekolah dasar. Orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke pesantren di luar pulau, sebuah langkah yang kala itu menuai pandangan miring dari lingkungan sekitar. Tak sedikit yang berkomentar miring, menganggap orang tuanya “membuang anak”.

Namun, di balik keputusan tersebut, terdapat keyakinan kuat bahwa pesantren adalah tempat terbaik bagi Alfina untuk mendalami ilmu agama. “Kepribadian saya banyak terbentuk di pesantren. Di sana saya belajar mengurus diri sendiri dan menghadapi berbagai situasi,” kata Alfina.

Pendidikan dan Religiusitas sebagai Fondasi Utama

Selain kemandirian, nilai lain yang sangat ditekankan dalam keluarga Alfina adalah pentingnya pendidikan dan religiusitas. Orang tuanya meyakini bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan harus berjalan beriringan.

“Mereka sangat menekankan pendidikan. Tapi bagi orangtua saya, ilmu tanpa agama juga tidak cukup,” tuturnya. Nilai inilah yang kemudian menjadi pegangan Alfina dalam menjalani berbagai fase kehidupan, termasuk saat mengambil keputusan besar seperti melanjutkan studi ke luar negeri, menikah, hingga membangun rumah tangga.

Advertisement

Orang Tua Sebagai Arah dan Dukungan

Alfina menjelaskan bahwa orang tuanya tidak pernah memaksakan kehendak. Peran mereka lebih sebagai pemberi arahan dan pendukung, sementara keputusan akhir tetap berada di tangannya. “Sejak kecil saya sudah diajarkan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas itu. Jadi ketika menghadapi keputusan besar, orangtua cukup memberi nasihat dan menjadi support system,” jelasnya.

Belajar Kuat, Sekaligus Belajar Terbuka

Perjalanan Alfina menuju titik saat ini tidak selalu mulus. Ia mengakui pernah berada di fase sulit yang membuatnya cenderung menutup diri, merasa harus menghadapi segala sesuatu sendirian karena terbiasa mandiri. Namun, ia akhirnya menyadari pentingnya membuka diri, termasuk kepada orang tuanya.

“Saya belajar bahwa bukan hanya orangtua yang belajar menjadi orangtua, tapi saya juga belajar menjadi anak,” ungkapnya. Dalam menghadapi tekanan maupun kegagalan, satu nasihat orang tuanya yang paling ia ingat adalah untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap proses. “Sholat, mengaji, berdzikir, dan bersyukur. Itu yang selalu diingatkan,” katanya.

Menjalani Peran Ganda dengan Nilai yang Sama

Kini, Alfina menjalani peran ganda sebagai mahasiswa S3 di Turki, ibu, sekaligus aktif dalam organisasi. Ia menyebut pola asuh orang tuanya sangat memengaruhi caranya menjalani berbagai peran tersebut. Sejak dalam kandungan, ia telah terbiasa melihat orang tuanya aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, yang secara tidak langsung menanamkan semangat untuk terus berkontribusi.

“Saya merasa mewarisi semangat untuk berbuat kebaikan. Tapi ada juga pola asuh yang tidak ingin saya ulang, dan ada yang ingin saya teruskan,” ujarnya.

Pelajaran untuk Membesarkan Anak Perempuan Tangguh

Bagi Alfina, pelajaran terpenting dari orang tuanya dalam membesarkan anak perempuan adalah membangun keberdayaan dari dalam diri. “Perempuan itu mulia. Maka kemuliaan itu harus dijaga dan diberdayakan, lewat peran apa pun yang kita jalani,” tuturnya.

Ia pun berpesan agar perempuan tidak ragu untuk terus belajar dan berkarya. “Berbahagialah menjadi perempuan. Sibukkan diri dengan ilmu dan amal baik,” pungkasnya.

Advertisement