Remaja perempuan disebut lebih rentan terhadap tekanan di media sosial dibandingkan laki-laki, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Cambridge University Press & Assessment pada 2022. Platform digital ini memang membuka ruang untuk berekspresi dan berjejaring, namun di sisi lain, media sosial juga menyimpan tekanan tersendiri, terutama bagi anak perempuan yang cenderung lebih rentan terhadap penilaian sosial dan standar yang ditampilkan di ruang digital.
Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa tekanan ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari standar kecantikan hingga dinamika pertemanan.
Tekanan dari Standar Sosial dan Penampilan
Menurut Vera, anak perempuan umumnya menghadapi tekanan yang lebih besar terkait penampilan fisik, hubungan pertemanan, dan kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan. Media sosial sering kali menampilkan standar kecantikan, popularitas, serta gaya hidup tertentu yang memicu perbandingan.
“Medsos banyak menampilkan standar kecantikan, popularitas, dan perbandingan gaya hidup yang menambah tekanan tersebut serta membuat anak perempuan lebih mudah merasa kurang,” ujar Vera saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Selain itu, relasi sosial pada anak perempuan cenderung lebih sensitif terhadap dinamika pertemanan. Respons sederhana di media sosial, seperti jumlah “like” atau komentar, bisa memiliki dampak emosional yang signifikan. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, anak bisa merasa diabaikan atau tidak dihargai.
Validasi Eksternal dan Rasa Percaya Diri
Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat memengaruhi pembentukan identitas diri anak. Vera menilai, ketika anak terlalu bergantung pada respons orang lain di media sosial, penilaian terhadap diri sendiri menjadi tidak stabil. Anak bisa merasa percaya diri saat mendapat banyak apresian, tetapi sebaliknya menjadi mudah terpuruk ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membuat anak menggantungkan harga diri pada validasi eksternal.
Tanda-Tanda Anak Mengalami Tekanan
Orangtua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak yang bisa menjadi sinyal adanya tekanan dari media sosial. Beberapa tanda yang dapat dikenali antara lain kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terlalu fokus pada penampilan, serta kecemasan terhadap respons di media sosial.
Selain itu, perubahan suasana hati seperti mudah murung setelah bermain media sosial, menarik diri, mudah tersinggung, hingga gangguan tidur juga patut diwaspadai. Dalam beberapa kasus, anak mulai mengungkapkan penilaian negatif terhadap dirinya, seperti merasa tidak menarik atau tidak disukai.
Dampak Serius Cyberbullying
Tekanan di media sosial juga dapat muncul dalam bentuk cyberbullying. Vera menegaskan bahwa dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Dalam jangka pendek, anak dapat mengalami perasaan sedih, takut, cemas, dan malu, serta kesulitan berkonsentrasi.
Jika tidak ditangani, dampaknya bisa berlanjut menjadi masalah yang lebih serius, seperti rendah diri, depresi, trauma, hingga gangguan kecemasan. “Karena terjadi di ruang digital, anak sering merasa sulit untuk menghindar, sehingga tekanan yang dirasakan bisa lebih berat,” jelasnya.
Mengapa Anak Enggan Bercerita?
Meski mengalami tekanan, tidak sedikit anak yang memilih untuk memendam masalahnya. Salah satu alasannya adalah rasa takut disalahkan atau dimarahi oleh orangtua. Ada juga kekhawatiran bahwa mereka akan dilarang menggunakan gadget.
Selain itu, sebagian anak merasa orangtua tidak memahami dunia digital mereka atau tidak dapat membantu. Kurangnya komunikasi terbuka dalam keluarga juga menjadi faktor yang membuat anak enggan berbagi cerita.
Peran Orangtua dalam Mendampingi Anak
Untuk mengurangi dampak negatif media sosial, orangtua memiliki peran penting dalam mendampingi anak. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melibatkan anak dalam menyusun aturan penggunaan media sosial, seperti durasi penggunaan dan waktu bebas gadget. Penting bagi orangtua untuk menjelaskan alasan di balik aturan tersebut, sehingga anak memahami bahwa batasan yang dibuat bertujuan melindungi, bukan mengontrol.
Di sisi lain, orangtua juga perlu membantu anak membangun ketahanan mental. Anak perlu diajak memahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh.
Mendorong aktivitas offline, seperti olahraga dan interaksi sosial langsung, juga dapat membantu anak memiliki keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, Vera menekankan bahwa hal terpenting adalah menjadikan orangtua sebagai tempat yang aman bagi anak untuk bercerita. Dengan komunikasi yang terbuka dan dukungan yang konsisten, anak akan lebih siap menghadapi berbagai tekanan, termasuk yang datang dari media sosial.






