Fenomena hujan meteor Lyrids diprediksi akan menghiasi langit pada April 2026, menawarkan pertunjukan “bintang jatuh” yang memukau bagi para pengamat langit di Indonesia. Hujan meteor Lyrids, salah satu yang tertua tercatat dalam sejarah Bumi, berpotensi menyajikan pemandangan meteor terang, bahkan bola api yang dramatis.
Hujan meteor adalah peristiwa ketika sejumlah besar meteor terlihat melintas di langit dalam periode waktu singkat, seolah-olah berjatuhan dari satu titik tertentu. Fenomena Lyrids dikenal dengan meteornya yang cepat dan terang, seringkali meninggalkan jejak cahaya yang bertahan lama, serta sesekali menampilkan ledakan visual yang menarik.
Menurut data NASA, pada tahun 1803, 1922, 1945, dan 1982, tercatat hingga 100 meteor Lyrid terlihat setiap jamnya. Namun, ledakan aktivitas seperti itu sangat sulit diprediksi.
Kapan dan Bagaimana Mengamati Hujan Meteor Lyrids di Indonesia?
Pakar Astronomi dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengonfirmasi bahwa fenomena hujan meteor Lyrids dapat diamati dari Indonesia. Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah pada dini hari Kamis, 23 April 2026, hingga sebelum matahari terbit.
“Hujan meteor Lyrids bisa diamati dari Indonesia pada dini hari malam Kamis, 23 April 2026 sampai sebelum matahari terbit,” ujar Thomas kepada Kompas.com pada Senin (20/4/2026).
Periode dini hari sendiri merujuk pada waktu setelah tengah malam hingga menjelang fajar. Waktu matahari terbit bervariasi di setiap wilayah di Indonesia. Sebagai contoh, di Jakarta, matahari diperkirakan terbit pada Senin, 20 April 2026, pukul 05.53 WIB.
Hujan meteor Lyrids terjadi ketika Bumi melintasi jejak debu dan puing-puing yang ditinggalkan oleh Komet C/1861 G1 (Thatcher). Komet ini mengorbit matahari setiap 415,5 tahun. Saat Bumi melewati medan puing komet ini setiap tahunnya, partikel-partikel tersebut terbakar di atmosfer planet, menciptakan ilusi “bintang jatuh” di langit malam.
Komet Thatcher terakhir kali melintasi tata surya bagian dalam pada tahun 186 dan diperkirakan baru akan kembali sekitar tahun 2276.
Tips Mengamati Hujan Meteor Lyrids
Thomas Djamaluddin memperkirakan intensitas hujan meteor Lyrids kali ini berkisar antara 10 hingga 20 meteor per jam. Meteor-meteor tersebut diperkirakan akan melintas dari arah rasi Lyra yang terletak di langit utara.
Untuk memaksimalkan peluang pengamatan, disarankan untuk mencari lokasi yang jauh dari polusi cahaya perkotaan. Media Live Science menyarankan untuk memeriksa prakiraan cuaca dan peta polusi cahaya di area pengamatan.
Proses adaptasi mata terhadap kegelapan sangat penting. Sabar adalah kunci, karena meteor bisa muncul secara tak terduga di bagian langit mana pun.
Menariknya, pengamatan hujan meteor Lyrids tidak memerlukan alat khusus. “Pengamatan cukup dengan mata tanpa alat,” tegas Thomas.
Ia menambahkan, penggunaan teleskop justru dapat membatasi pandangan. “Kalau menggunakan teleskop, medan pandangnya jadi sempit, sulit mengikuti arah meteor,” pungkasnya.






