Di tengah kesibukan sebagai Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat, Budiwanto menyisihkan waktu untuk menggarap pertanian organik terpadu di pekarangan rumahnya seluas 400 meter persegi di Karawang. Lahan yang sebelumnya hanya ditumbuhi semak belukar itu kini disulap menjadi kebun yang produktif dengan berbagai jenis tanaman dan ternak.
Di bagian depan, pot-pot bekas galon air mineral berjejer rapi menampung tanaman cabai dan tomat. Sisi kanan lahan dipenuhi beragam sayuran seperti kangkung, kacang panjang, kol, terong, pare, serta buah kawista. Sebuah saung kecil berdiri di tengah area, menjadi tempat istirahat bagi Budiwanto atau pekerjanya. Sementara di bagian belakang, tanaman melon dan mentimun tumbuh subur.
Tak hanya tanaman, kebun Budiwanto juga dilengkapi kandang ayam petelur dan ayam kampung. Pakan untuk ternak ini diformulasikan sendiri secara organik. Prinsip yang sama juga diterapkan pada kolam ikan yang dihuni lele, gurame, dan patin. Kolam tersebut dirancang dengan sistem terasering untuk menghemat penggunaan listrik.
Pakan ikan pun berasal dari sumber organik, meliputi dedaunan dan azola yang ditanam di kebun itu sendiri. “Air kolam ikan nantinya digunakan untuk menyiram. Kami juga beri pupuk dari sampah organik yang diberi molase dan air lindinya,” jelas Budiwanto, Sabtu (18/4/2026).
Bagi Budiwanto, kesibukannya sebagai wakil rakyat tidak menjadi halangan untuk berkontribusi pada ketahanan pangan. Minimal, ia dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga dengan pangan yang ramah lingkungan. Ia juga mengaku senang melihat dampak positif yang ditimbulkan pada lingkungan sekitar.
“Jadi jika ingin memasak, sebagian kami ambil dari kebun,” kata Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat itu.
Kehadiran kebun organik ini rupanya menarik perhatian satwa. Sejak bertanam, sejumlah kupu-kupu hingga capung kerap singgah di kebunnya, sebuah pemandangan yang berbeda saat lahan tersebut masih berupa semak belukar.
Dalam merawat kebunnya, Budiwanto dibantu oleh pekerja yang ia beri arahan mengenai manajemen pengelolaan. Tak jarang, ia turun tangan langsung. Aktivitas berkebun ini juga menjadi sarana self reward baginya, terlebih saat melihat tanaman mulai tumbuh.
“Apalagi pas awal-awal namem, pas tumbuh senang banget,” ungkap Budiwanto.
Budiwanto meyakini bahwa bertanam dapat dilakukan oleh siapa saja, meskipun memiliki lahan yang terbatas. Pemanfaatan pot atau media tanam lain dapat menjadi solusi. Kunci utamanya, menurutnya, adalah kemauan dan konsistensi.
Ia berharap pemerintah dapat lebih gencar mengedukasi masyarakat untuk berkebun demi mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. “Beri juga media hingga bibit, jangan yang masih biji, saya yakin masyarakat akan antusias,” ujar dia.






