Ikan sapu-sapu, yang kerap dianggap sebagai hama invasif di perairan Jakarta, ternyata memiliki peran ekologis yang signifikan, terutama dalam mengolah limbah organik di sedimen sungai. Namun, keberadaannya yang meluas di 30 persen perairan Indonesia juga memunculkan kekhawatiran tersendiri.
Triyanto, seorang peneliti di Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan bahwa ikan yang berasal dari Amerika Selatan ini memiliki fungsi vital dalam rantai transfer energi dan materi di ekosistem perairan yang tercemar.
“Secara harfiah, semua makhluk hidup ini memiliki fungsinya. Dia ada bagian dari transfer energi atau transfer materi. Ikan sapu-sapu ini mampu memanfaatkan organik-organik dan bahan pencemar tersebut. Ini bagian dari mengurangi sumber materi pencemar,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Fungsi “Sapu” yang Sebenarnya
Sesuai dengan namanya, ikan sapu-sapu menjalankan fungsi pembersihan, baik di akuarium maupun di habitat aslinya di sungai. Mereka aktif memakan lumut dan berbagai jenis kotoran organik yang menempel di dasar serta pinggiran perairan.
Melihat peranannya ini, Triyanto mengaku kurang sepakat jika ikan sapu-sapu dimusnahkan. Ia lebih menekankan pada upaya pengendalian populasi.
“Jangan dimusnahkan ya, saya tidak sepakat dengan istilah memusnahkan, tapi kita mengendalikan karena dia pasti punya fungsinya. Yang perlu diwaspadai adalah ikan sapu-sapu ini jangan dikonsumsi,” tegasnya.
Ancaman “Klekap” Setelah Penangkapan Massal
Triyanto menyoroti potensi dampak dari aksi penangkapan ikan sapu-sapu secara besar-besaran yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia mengemukakan bahwa kondisi perairan perlu dipantau secara cermat dalam kurun waktu lima bulan ke depan.
Tanpa kehadiran ikan sapu-sapu sebagai predator alami alga dan lumut, ada kemungkinan pertumbuhan lumut di dasar sungai akan meningkat pesat. Fenomena ini dalam istilah perikanan dikenal sebagai “klekap”.
“Biasanya nanti lumut-lumut di dasar sungai itu akan banyak dan nanti mungkin akan kembali naik ke permukaan, itu kalau di bahasa perikanan namanya klekap. Klekap ini sangat digemari sama ikan sapu-sapu,” jelas Triyanto.
Menyebar di 30 Persen Perairan Indonesia
Persebaran ikan sapu-sapu kini telah menjadi isu yang mengkhawatirkan. Data riset menunjukkan bahwa spesies invasif ini telah menyebar ke hampir 30 persen perairan di Indonesia, mencakup wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara dan Bali.
“Ada 39 lokasi di Pulau Jawa bahkan sudah diinfokan terdapat ikan sapu-sapu. Yang belum ada informasi adalah di wilayah Papua dan Maluku. Mudah-mudahan belum sampai ke sana,” tambah Triyanto.
Meskipun BRIN belum dapat melakukan riset khusus yang berfokus hanya pada ikan sapu-sapu karena keterbatasan pendanaan, Triyanto memastikan timnya terus memantau distribusi spesies ini sebagai bagian dari penelitian komunitas ikan secara umum.
Ia juga mengajak media dan masyarakat untuk turut berperan dalam memantau kondisi sungai-sungai di Jakarta pasca-pengurangan populasi ikan sapu-sapu. Tujuannya adalah untuk mengamati apakah kualitas air mengalami perbaikan atau justru muncul permasalahan ekologi baru.






