Global

Jaga-jaga Perang Lagi, Iran Klaim Percepat Perbaikan Peluncur Rudal

Advertisement

TEHERAN – Di tengah ketegangan yang masih membayangi pasca gencatan senjata dua pekan lalu, Iran mengklaim telah mempercepat upaya pemulihan dan pembaruan armada peluncur rudal serta drone mereka. Klaim ini disampaikan oleh Komandan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Iran, Majid Mousavi, yang menyatakan bahwa kecepatan perbaikan kini melampaui kondisi sebelum konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan tersebut diungkapkan melalui sebuah video yang dibagikan oleh media pemerintah Iran. Dalam rekaman tersebut, Mousavi terlihat tengah meninjau fasilitas rudal bawah tanah. Kendati demikian, keaslian video itu belum dapat diverifikasi secara independen oleh kantor berita Reuters.

Ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel memuncak setelah operasi militer gabungan yang dilancarkan pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut diklaim bertujuan untuk melumpuhkan kekuatan serangan rudal Teheran. Meski demikian, Mousavi menegaskan bahwa kemampuan pertahanan Iran tetap utuh.

Klaim Kemenangan Iran

Dalam pernyataannya, Mousavi tidak ragu menyampaikan sindiran dan klaim kemenangan terhadap pihak lawan. “Mereka telah kalah dalam fase perang ini! Mereka telah kehilangan Selat, Lebanon, dan kawasan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa terdapat perbedaan mendasar dalam logistik militer antara Iran dan musuhnya. “Berbeda dengan Iran, musuh tidak mampu mengisi ulang amunisinya selama gencatan senjata,” ungkap Mousavi.

Hingga kini, baik Amerika Serikat maupun Israel belum memberikan tanggapan resmi terhadap klaim yang dilontarkan oleh Iran tersebut.

Intelijen AS Tawarkan Gambaran Berbeda

Sebaliknya, sejumlah laporan intelijen dari Amerika Serikat menyajikan gambaran yang tidak sepenuhnya sejalan dengan klaim Iran. Penilaian intelijen tersebut menyebutkan bahwa Iran kemungkinan masih memiliki sekitar 60 persen dari total peluncur rudalnya.

Advertisement

Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, telah menyatakan bahwa kampanye pengeboman yang dilakukan oleh AS dan Israel telah “secara fungsional menghancurkan” program rudal Iran, sehingga membuat militernya “tidak efektif dalam pertempuran selama bertahun-tahun.”

Namun, pejabat AS lainnya mengindikasikan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk menggali kembali atau memperbaiki peluncur rudal yang rusak atau terkubur akibat serangan tersebut.

Laporan Media Israel dan Tekanan Trump

Di sisi lain, laporan dari media Israel mengindikasikan bahwa pihak keamanan negara tersebut telah mengidentifikasi peluncur rudal yang diarahkan ke wilayahnya dan siap digunakan jika gencatan senjata, khususnya antara Israel dan Lebanon, gagal tercapai.

Situasi ini disebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan dari Presiden AS Donald Trump agar Israel segera mencapai kesepakatan dengan Lebanon. Trump bahkan secara mengejutkan menyatakan bahwa Israel dilarang “membombardir Lebanon lagi,” sebuah pernyataan yang mengundang reaksi dari pemerintah Israel.

Sumber keamanan juga menyebutkan bahwa AS dan Israel tengah mempersiapkan kemungkinan konflik lanjutan dengan Iran, terutama di tengah ketegangan yang masih membayangi Selat Hormuz yang mengancam kelancaran proses negosiasi damai.

Advertisement