Otomotif

Regenerative Braking, Bisa Tambah Jarak Tempuh hingga 10 Persen

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com — Teknologi regenerative braking menjadi salah satu fitur krusial pada kendaraan listrik modern yang dirancang untuk mengoptimalkan efisiensi energi. Fitur ini bekerja dengan cara mengubah energi yang seharusnya terbuang saat proses pengereman menjadi energi listrik yang kemudian digunakan untuk mengisi ulang baterai kendaraan.

Mekanisme dasarnya adalah ketika pengemudi melepaskan pedal akselerator atau mengaktifkan rem, motor listrik pada kendaraan akan bertransformasi menjadi sebuah generator. Energi kinetik yang dihasilkan dari pergerakan mobil selanjutnya dikonversi menjadi energi listrik dan disimpan kembali ke dalam baterai. Hasilnya, kendaraan listrik dapat menempuh jarak yang lebih jauh dengan sekali pengisian daya.

Product Planning and Strategy GAC Aion Indonesia, Iqbal Taufiqurrahman, mengonfirmasi bahwa kontribusi regenerative braking terhadap peningkatan jarak tempuh kendaraan listrik cukup signifikan. Ia menjelaskan bahwa pengaruhnya dapat mencapai sekitar 5 hingga 10 persen, meskipun nilai pastinya sangat bergantung pada kondisi medan yang dilalui oleh kendaraan.

Menurut Iqbal, kondisi jalan menurun merupakan skenario yang paling ideal untuk memaksimalkan kinerja sistem regenerative braking. Saat kendaraan meluncur di turunan tanpa memerlukan banyak input akselerator, energi yang berhasil dikonversi menjadi listrik akan lebih besar dibandingkan dengan saat kendaraan berjalan di medan datar atau menanjak.

Bahkan dalam penggunaan sehari-hari di perkotaan, efek positif dari teknologi ini tetap dapat dirasakan. Hal ini terutama terasa saat kendaraan menghadapi lalu lintas padat yang mengharuskan pengemudi untuk sering berhenti dan bergerak kembali. Dalam situasi seperti itu, proses pengereman yang berulang secara efektif menjadi peluang untuk mengisi ulang energi baterai kendaraan secara bertahap.

Advertisement

“Jika misalnya, dari Lembang (Bandung) turun, itu bisa menambah sekitar 10 hingga 15 kilometer jarak tempuh. Namun, jika jaraknya tidak terlalu jauh, sistem akan menyesuaikan juga,” jelas Iqbal kepada Kompas.com pada Jumat (17/4/2026).

Bagi sebagian pengguna, regenerative braking mungkin dapat dianalogikan sebagai sebuah “bonus energi gratis” yang diperoleh selama perjalanan. Meskipun fitur ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan pengisian daya baterai secara konvensional, perannya dalam meningkatkan efisiensi dan memperpanjang jarak tempuh kendaraan listrik tidak dapat diabaikan.

“Karena itu sangat membantu efisiensi baterai. Bahkan saat jalan menurun, ketika regenerative braking diaktifkan, daya baterai bisa bertambah,” pungkas Iqbal.

Advertisement