PASURUAN, KOMPAS.com – Perjalanan Andreas Bambang menjadi petani hidroponik tidaklah mulus. Berbekal tekad otodidak, ia bertahan menekuni metode pertanian urban ini sejak 2014, bahkan pernah merasakan pahitnya tak dilirik pembeli.
Di lahan terbatas di pojok area perumahan Griya Sultan Agung Permai, Jalan Sultan Agung Gang V, Kelurahan Krampyangan, Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Andreas dan istrinya, Irine Rosa, tampak sibuk memeriksa barisan selada yang siap panen. Kesibukan itu terekam pada Senin (20/4/2026).
Irine tak kalah sigap, ia menyiapkan potongan busa padat atau rock media, media dasar untuk pembibitan selada dan aneka sayuran hidroponik lainnya seperti kangkung, sawi daun, dan pakcoy.
“Kita ngobrol di sini saja mas, ini gabus atau busa yang nantinya dibuat untuk membibit awal selada,” kata Irine kepada Kompas.com, sembari memegang busa basah.
Awal Mula yang Penuh Tantangan
Andreas dan Irine menceritakan bahwa jalan menjadi petani urban tidaklah mudah. Sebelum terjun ke hidroponik pada 2012-2014, keduanya sempat mencoba budidaya ikan sidat dan nila di pekarangan orang tua mereka yang menganggur. Namun, usaha perikanan itu tak bertahan lama.
“Kolam akhirnya pecah, karena kondisi tanah masih bergerak, sebagian kolam rusak,” tutur Andreas.
Pada tahun 2014, mereka memutuskan beralih ke pertanian sayuran hidroponik secara otodidak. Hasil mulai terlihat, namun permasalahan baru muncul. Produk sayuran hidroponik mereka minim peminat karena belum dikenal luas oleh masyarakat.
Andreas bahkan harus turun tangan mengenalkan produknya dari pintu ke pintu, menawarkan kepada tetangga, komunitas, hingga ke pasar. Ia tak segan menggratiskan dagangannya selama beberapa bulan.
“Saat itu masih ingat, untuk mengenalkan saja, saya menaruh sayuran dalam kemasan ke pedagang pasar bahkan saya gratiskan selama beberapa bulan. Minimal kenal dulu kalau sayur hidroponik lebih enak dan awet, karena dalam kemasan,” ungkap Andreas.
Jejaring Sosial Buka Peluang
Perlahan namun pasti, usaha mereka mulai membuahkan hasil. Memasuki pertengahan 2014, dengan memanfaatkan jejaring sosial, sayuran seperti selada, kangkung, dan pakcoy mulai diminati.
Keterlibatan Irine juga sangat signifikan. Ia menceritakan bagaimana ia mulai mengenalkan produk mereka kepada para wali murid, yang akhirnya membuka jalan bagi sayuran hidroponik mereka dikenal lebih luas.
“Di pasar awalnya tak dilirik sama pembeli, akhirnya mamanya anak-anak (istrinya) itu mengenalkan pada wali murid akhirnya banyak yang ke sini,” ujar Andreas.
Advertisement
Cuaca Ekstrem Jadi Musuh Utama
Tantangan lain yang dihadapi Andreas sebagai petani urban hidroponik dalam tiga tahun terakhir adalah cuaca yang ekstrem dan tidak menentu. Kondisi ini menuntut perlakuan intensif terhadap tanaman.
“Kalau dulu musim kemarau atau musim penghujan dapat diprediksi. Namun, saat ini tidak bisa. Siang panas, ternyata malamnya hujan deras,” keluhnya.
Saat cuaca panas, tanaman hidroponik seperti sawi dan selada rentan terserang jamur pada tangkai dan akar. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan, membuat daun mengecil dan mengkerut.
“Kalau musim panas, air nutrisi ikut hangat, rawan timbul jamur di akar. Adanya pusarium, jamur di akar dan Pitiu, jamur di pangkal batang. Jadi harus ekstra pengawasan,” jelasnya.
Potensi Keuntungan dan Diversifikasi
Meski menghadapi berbagai tantangan, Andreas menilai profesi petani urban dengan metode hidroponik sangat menguntungkan. Harga sayuran hidroponik cenderung stabil dibandingkan sayuran konvensional.
“Karena masa panennya cenderung cepat dan bisa jadi pemasukan harian,” katanya.
Saat ini, harga selada berkisar Rp 25.000-Rp 30.000 per kilogram dengan masa panen enam minggu. Kangkung dijual Rp 20.000 per kilogram dengan siklus panen tiga minggu. Pakcoy atau sawi daging dan sawi daun juga dibanderol Rp 20.000 per kilogram, siap panen dalam empat minggu.
“Kalau untuk paket sekali masak, saya jual Rp 10.000 yang isinya berbagai sayur,” tambah Irine.
Selain sayuran, Kebun Gracia yang dikelola Andreas dan Irine juga membudidayakan puluhan tanaman anggur. Rencananya, pada bulan Agustus atau September mendatang, kebun anggur tersebut akan dibuka untuk umum dengan konsep petik langsung dari pohon.
“Nanti kalau musim anggur, Agustus atau September, mas nya bisa ke sini nanti ada panen, pengunjung bisa petik sendiri,” pungkas Andreas.





