Money

Rupiah Sentuh Rp 17.180 per Dollar AS, Utang Negara Rp 833,96 Triliun Jadi Sentimen Buruk

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di pasar spot pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026). Mata uang Garuda melemah 38 poin atau 0,22 persen, ditutup pada level Rp 17.180 per dollar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengidentifikasi sejumlah faktor yang memberikan sentimen negatif bagi rupiah. Salah satu yang paling signifikan adalah beban utang pemerintah yang jatuh tempo pada tahun ini, mencapai Rp 833,96 triliun.

Ibrahim menjelaskan bahwa pemerintah menghadapi tekanan likuiditas yang besar pada 2026, seiring dengan akumulasi utang jatuh tempo yang menjadi rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Lonjakan kewajiban ini menandai periode krusial dalam pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian di pasar keuangan global.

“Fenomena ini sebagai ‘tembok utang’ atau debt wall, yakni kondisi ketika beban jatuh tempo utang menumpuk dalam satu periode tertentu,” ujar Ibrahim kepada wartawan pada Rabu sore. Ia menambahkan, “Nilai jatuh tempo 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sebesar Rp 800,33 triliun, dan menjadi puncak dalam siklus pembayaran utang periode 2025-2036.”

Besarnya kewajiban utang ini, menurut Ibrahim, merupakan akumulasi dari penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) selama pandemi Covid-19. Dari total utang yang jatuh tempo pada 2026, sekitar Rp 154,5 triliun berasal dari instrumen kerja sama tersebut.

Volume utang yang besar memaksa pemerintah untuk melakukan strategi pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar. Namun, langkah ini tidak luput dari risiko.

Suku Bunga Acuan BI Tetap Stagnan

Di sisi lain, Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuannya, atau BI Rate, di level 4,75 persen. Keputusan serupa juga diambil untuk suku bunga Deposit Facility yang tetap di 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility di 5,5 persen.

Advertisement

Langkah ini konsisten dengan upaya BI untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. BI berupaya menahan dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat ketegangan di Timur Tengah.

Tensi Geopolitik Timur Tengah Beri Tekanan Eksternal

Secara eksternal, pelemahan rupiah juga dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan niatnya untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, situasi tetap volatil.

Trump juga mengindikasikan Angkatan Laut AS akan mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang.

Hingga kini, belum ada komentar langsung dari para pemimpin senior Iran mengenai perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Trump. Kantor Berita Tasnim, yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Iran, melaporkan bahwa Iran tidak meminta perpanjangan tersebut dan menegaskan kembali posisinya untuk mematahkan blokade AS dengan kekerasan.

Kondisi ini berdampak pada lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global. Pada Selasa (21/4/2026), lalu lintas pengiriman di jalur tersebut dilaporkan hampir terhenti, dengan hanya tiga kapal yang berhasil melewati dalam 24 jam terakhir.

Di wilayah lain, militer Israel melaporkan bahwa Hizbullah melancarkan serangan roket ke arah pasukannya di Lebanon selatan. Israel menuding kelompok yang didukung Iran tersebut melanggar gencatan senjata menjelang perundingan yang dimediasi AS dengan Lebanon pekan ini. Hizbullah sendiri belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut.

Advertisement