Tren

Studi Ungkap Lama Feses di Usus Bisa Pengaruhi Kesehatan Tubuh

Advertisement

Lama waktu feses tertahan di dalam usus ternyata memiliki kaitan erat dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan, bukan sekadar aspek pencernaan biasa. Sebuah tinjauan studi yang dirangkum pada tahun 2023 mengungkap adanya perbedaan signifikan pada mikrobioma usus antara individu dengan waktu transit feses yang cepat dan lambat, yang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan.

Waktu transit usus, yang merujuk pada durasi makanan diolah menjadi feses dan dikeluarkan dari tubuh, terbukti memengaruhi komposisi bakteri di dalam usus. Kondisi mikrobioma usus ini sangat penting mengingat perannya yang besar dalam menjaga kesehatan tubuh.

Waktu Transit Lambat Berkorelasi dengan Peningkatan Risiko Penyakit

Studi tersebut juga mengindikasikan bahwa waktu transit usus yang cenderung lambat, termasuk kondisi sembelit, berhubungan dengan berbagai gangguan kesehatan. Seperti dilaporkan oleh Science Alert pada Senin (20/4/2026), gangguan ini mencakup masalah metabolisme, peradangan, hingga penyakit neurologis seperti Parkinson.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa sistem pencernaan memiliki keterkaitan yang lebih luas dengan berbagai fungsi tubuh. Para peneliti berpendapat bahwa pemahaman mendalam mengenai waktu transit usus dapat membuka jalan bagi pendekatan pengobatan penyakit yang lebih inovatif.

Metode Pengukuran Waktu Transit Usus

Pengukuran waktu transit usus tidak hanya bergantung pada frekuensi buang air besar (BAB). Berbagai metode ilmiah telah dikembangkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.

Salah satu metode yang digunakan adalah kapsul khusus yang dilengkapi sensor. Kapsul ini ditelan dan mampu melacak perjalanannya di sepanjang saluran pencernaan. Selain itu, Skala Tinja Bristol, sebuah alat visual, juga dimanfaatkan untuk mengklasifikasikan bentuk dan konsistensi feses.

Beberapa penelitian juga menggunakan indikator yang lebih sederhana, seperti pewarna biru atau jagung manis, untuk memperkirakan durasi proses pencernaan. Tujuan utama dari semua metode ini adalah untuk mengestimasi berapa lama makanan berada di dalam usus besar.

Advertisement

Hubungan Mikrobioma Usus dengan Kecepatan Transit

Analisis hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mikrobioma yang jelas antara individu dengan waktu transit cepat dan lambat. Individu dengan waktu transit cepat cenderung memiliki dominasi bakteri yang tumbuh pesat, yang sering dikaitkan dengan pola makan tinggi karbohidrat.

Sebaliknya, waktu transit lambat lebih sering dikaitkan dengan keberadaan bakteri yang berkembang pada asupan protein. Kedua kondisi ekstrem ini dilaporkan memiliki tingkat keragaman mikrobioma yang lebih rendah dibandingkan dengan kondisi transit yang normal.

Lingkungan usus yang bergerak terlalu cepat atau terlalu lambat dapat memicu dominasi spesies bakteri tertentu dan berujung pada ketidakseimbangan mikrobioma.

Pentingnya Memahami Ritme Usus Individu

Penelitian ini menegaskan bahwa waktu transit usus merupakan faktor krusial yang seringkali terabaikan dalam upaya memahami kesehatan pencernaan. Perbedaan kecepatan transit ini dapat menjelaskan mengapa respons tubuh terhadap pola makan yang sama bisa berbeda pada setiap individu.

Bahkan, respons tubuh terhadap probiotik, suplemen, hingga obat-obatan juga dapat dipengaruhi oleh seberapa cepat usus bergerak. Para peneliti menilai bahwa pemahaman terhadap ritme usus individu dapat menjadi kunci untuk merancang strategi pengobatan dan pola makan yang lebih personal dan efektif.

Pendekatan ini berpotensi meningkatkan efektivitas dalam pencegahan, diagnosis, serta penanganan berbagai penyakit, tidak hanya yang berkaitan dengan sistem pencernaan tetapi juga organ tubuh lainnya.

Advertisement