Perubahan drastis kadar hormon estrogen setelah melahirkan menjadi salah satu penyebab utama berbagai kondisi kulit yang dialami ibu pascapersalinan. Penurunan hormon ini, ditambah dengan kurang tidur dan stres, memicu beragam keluhan mulai dari kulit kering hingga kerontokan rambut.
Associate Professor Dermatologi di Duke University School of Medicine, Anne Marano, MD, menjelaskan bahwa estrogen yang sebelumnya berperan penting menjaga kesehatan kulit selama kehamilan, akan berkurang signifikan setelah bayi lahir. “Ketika terjadi penurunan estrogen secara tiba-tiba setelah melahirkan, manfaat estrogen pada kulit ikut berkurang,” ujar Marano, dikutip dari Parents.
Penurunan kadar estrogen ini membuat kulit menjadi lebih kering, sensitif, dan rentan terhadap berbagai masalah. Kondisi ini umum dialami oleh banyak perempuan dan seringkali bersifat sementara.
10 Perubahan Kulit yang Umum Terjadi Pasca Melahirkan
Berikut adalah sepuluh perubahan kulit yang kerap dilaporkan oleh para ibu setelah melahirkan:
1. Kulit Kering, Gatal, dan Eksim
Kulit yang terasa kering dan gatal merupakan keluhan paling lazim. Faktor penyebabnya meliputi penurunan estrogen dan dehidrasi akibat hormon stres, kortisol. Kondisi ini juga berpotensi memicu munculnya eksim, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat sebelumnya.
“Eksim sangat umum terjadi pada periode postpartum karena perubahan hormon dan cairan tubuh. Oleh karena itu, penggunaan pelembap setiap hari sangat penting,” kata Marano.
2. Munculnya Jerawat
Perubahan hormon dan peningkatan kadar kortisol dapat memicu timbulnya jerawat. Berbeda dengan kondisi kulit yang cenderung lebih cerah selama kehamilan, pascamelahirkan jerawat bisa kembali muncul.
Marano menyarankan untuk membersihkan wajah dua kali sehari menggunakan pembersih yang lembut. Ia juga menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan, terutama bagi ibu menyusui.
3. Timbulnya Skin Tag dan Cherry Angioma
Skin tag adalah pertumbuhan kecil yang tidak berbahaya, lazim ditemukan di area lipatan kulit seperti leher atau ketiak. Sementara itu, cherry angioma berupa bintik merah kecil yang berasal dari pembuluh darah. Keduanya sering muncul selama kehamilan dan dapat menetap setelah melahirkan. Meskipun tidak berbahaya, keduanya dapat dihilangkan jika mengganggu penampilan.
4. Melasma atau Flek Hitam
Melasma ditandai dengan munculnya bercak gelap pada wajah, terutama di area pipi, hidung, dan dagu. Kondisi ini dipicu oleh perubahan hormon dan dapat bertahan lama setelah melahirkan. Paparan sinar matahari dapat memperburuk melasma, sehingga penggunaan tabir surya menjadi sangat krusial.
5. Keringat Berlebih dan Ruam Panas
Banyak ibu mengalami peningkatan produksi keringat, terutama di malam hari. Fenomena ini dipicu oleh penurunan estrogen yang menimbulkan sensasi serupa dengan hot flashes.
“Keringat berlebih dan ruam panas biasanya berkaitan dengan penurunan estrogen. Ruam terjadi karena keringat dapat menjadi iritan bagi kulit,” jelas Marano.
6. Kulit Menipis dan Lebih Sensitif
Penurunan estrogen turut berdampak pada berkurangnya produksi kolagen. Akibatnya, kulit bisa menjadi lebih tipis, mudah mengalami iritasi, dan bereaksi sensitif terhadap produk perawatan yang sebelumnya aman digunakan.
7. Stretch Mark dan Ruam PUPPP
Stretch mark umumnya muncul di area perut, paha, atau payudara. Selain itu, beberapa ibu juga bisa mengalami Pruritic Urticarial Papules and Plaques of Pregnancy (PUPPP), yaitu ruam merah yang disertai rasa gatal hebat.
“PUPPP merupakan reaksi hipersensitivitas akibat perubahan cairan tubuh dan pembengkakan, yang bisa terjadi selama atau setelah kehamilan,” tambah dia.
8. Perubahan pada Puting dan Areola
Area puting dan areola menjadi lebih sensitif pascamelahirkan, terlebih bagi ibu yang sedang menyusui. Gesekan, kelembapan, dan perubahan hormon dapat menyebabkan iritasi, kekeringan, bahkan luka pada area tersebut.
9. Mati Rasa atau Kesemutan
Meskipun jarang terjadi, beberapa ibu melaporkan sensasi kesemutan atau mati rasa pada bagian tubuh tertentu seperti paha atau perut. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh tekanan saraf selama proses persalinan dan diharapkan membaik seiring waktu.
10. Rambut Rontok Berlebihan
Kerontokan rambut pascamelahirkan seringkali mengejutkan banyak ibu. Kondisi ini biasanya terjadi dua hingga empat bulan setelah persalinan, dipicu oleh perubahan hormon dan stres fisik.
“Kerontokan rambut terjadi sebagai respons ‘fight or flight’ tubuh setelah melahirkan. Kondisi ini biasanya berlangsung 6 hingga 12 minggu,” tandas Marano.
Perubahan kulit setelah melahirkan merupakan fenomena normal yang dialami oleh mayoritas perempuan. Meskipun demikian, penting untuk tetap memperhatikan kondisi kulit dan tidak ragu berkonsultasi dengan dokter apabila muncul gejala yang mengganggu atau tidak kunjung membaik.






