Lifestyle

Sering Belanja Berlebihan di Supermarket? Ini Alasan di Baliknya

Advertisement

Pergi ke supermarket dengan daftar belanja sederhana namun pulang dengan keranjang penuh barang di luar daftar menjadi fenomena yang lumrah. Kebiasaan berbelanja berlebihan ini, bahkan ketika niat awal sudah tertulis, ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan emosional yang seringkali tidak disadari.

Psikolog di Kaiser Permanente, Jackie Shiels, PsyD, menjelaskan bahwa dorongan impulsif saat menyusuri lorong swalayan memiliki akar yang dalam. Salah satu penyebab utamanya adalah berbelanja dalam kondisi lapar.

“Berbelanja saat lapar adalah salah satu alasan utama kita berbelanja berlebihan,” ujar Shiels, mengutip Real Simple, Senin (20/4/2026). Ketika perut kosong, otak cenderung memprioritaskan rasa kenyang yang segera. Hal ini dapat membuat seseorang mengesampingkan daftar belanja dan membeli makanan secara impulsif.

Terapis kesehatan mental berlisensi, Kiki Jacobson, LCMHCA, turut mengamini. Ia menambahkan bahwa rasa lapar dapat menguras sumber daya kognitif yang krusial untuk pengaturan diri. Akibatnya, segala jenis makanan yang terlihat mendadak menjadi sangat menggoda. Selain rasa lapar, tingkat stres dan kecemasan harian juga memberikan dampak signifikan.

Membeli barang mewah atau sekadar camilan manis saat merasa lelah atau sedih dapat memberikan suntikan dopamin instan bagi otak. Keranjang belanja yang penuh juga bisa memberikan ilusi kendali atas kehidupan yang terasa kacau. “Otak suka menciptakan kepastian dan prediktabilitas karena itulah salah satu cara otak terhubung untuk membuat kamu tetap aman,” jelas Jacobson.

Faktor Psikologis di Balik Kebiasaan Berbelanja Berlebihan

1. Pengaruh Rasa Lapar dan Emosi

Kondisi lapar menguras kemampuan otak untuk membuat keputusan rasional. Jacobson menambahkan bahwa stres dan kecemasan juga memicu pembelian impulsif untuk mendapatkan kepuasan sesaat.

2. Trauma Masa Lalu dan Mentalitas Penimbunan

Pengalaman traumatis, seperti melihat rak-rak kosong saat pandemi atau krisis pangan sebelumnya, dapat memicu mentalitas penimbunan. Obsesi untuk membeli selama barang tersedia menjadi respons psikologis.

Generasi yang pernah mengalami masa sulit ekonomi juga dapat secara tidak sengaja mewariskan rasa cemas ini. “Secara psikologis, keyakinan bahwa ‘lebih baik memiliki lebih daripada tidak cukup’ itu nyata,” kata Shiels.

Advertisement

3. Jebakan Potongan Harga dan Dopamin

Ilmuwan perilaku dan pendiri Buyer Behavior Inc., Kieva Hranchuk, PhD, menyoroti potongan harga sebagai jebakan visual yang ampuh. “Ketika kita melihat ‘harga obral’ di sebelah harga asli yang lebih tinggi, otak kita tertuju pada angka yang lebih tinggi. Diskon ini terasa seperti sebuah kemenangan, jadi kita membenarkan membeli lebih banyak untuk ‘memaksimalkan diskon’,” ujarnya.

Pembelian makanan juga mengaktifkan pelepasan dopamin, menciptakan ekspektasi kesenangan saat dikonsumsi. Sayangnya, kepuasan instan ini seringkali mengalahkan pertimbangan rasional mengenai anggaran belanja.

4. Efek Stimulan Minuman Berkafein

Mengonsumsi minuman berkafein sebelum berbelanja dapat berdampak negatif pada keputusan pembelian. “Kafein adalah stimulan yang meningkatkan energi, kewaspadaan, dan dopamin, yang dapat membuat kamu merasa lebih berorientasi pada penghargaan,” jelas Jacobson.

Keadaan yang meningkat ini dapat mendorong impulsivitas, membuat aktivitas berbelanja terasa lebih menarik.

Strategi Mencegah Belanja Impulsif

Salah satu langkah awal untuk mencegah pembelian ganda adalah dengan memeriksa stok bahan makanan di rumah sebelum berangkat berbelanja. Jacobson mengingatkan pentingnya mengetahui apa saja yang sudah menipis agar pengeluaran lebih terarah dan efisien.

Untuk menghentikan kebiasaan impulsif, disarankan untuk makan terlebih dahulu sebelum pergi ke supermarket, lalu menyusun daftar belanja yang ketat. “Buat kebiasaan ‘berhenti dan jeda’ sebelum menambahkan barang ke keranjang kamu. Jeda ini mengganggu pembelian impulsif, dan memberi otakmu waktu untuk beralih dari keputusan otomatis yang didorong oleh penghargaan ke pilihan yang lebih disengaja,” pungkas Hranchuk.

Advertisement