Global

Bila Dana Perang AS Dialihkan ke Hal Berguna, 87 Miliar Orang Masih Tetap Hidup

Advertisement

LONDON, KOMPAS.com – Dana sebesar 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 34,2 triliun yang dihabiskan Amerika Serikat (AS) setiap minggunya untuk perang di Iran dinilai dapat menyelamatkan lebih dari 87 juta nyawa di seluruh dunia. Pernyataan ini dilontarkan oleh Kepala badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, dalam sebuah kritik tajam terhadap kebijakan AS.

Fletcher menyampaikan pandangannya tersebut saat berbicara di Chatham House, London, pada Senin (20/4/2026). Ia secara tegas menyebutkan, “Kita bisa mendanai itu dalam waktu kurang dari dua minggu dari perang yang ceroboh ini. Sekarang, tentu saja, kita tidak bisa.”

Dampak Normalisasi Kekerasan dalam Diplomasi

Selain menyoroti besarnya anggaran yang terbuang untuk perang, Fletcher juga memperingatkan tentang dampak berbahaya dari normalisasi kekerasan dalam ranah diplomasi internasional. Ia mencontohkan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengembalikan Iran ke “zaman batu” sebagai retorika yang sangat berisiko.

Menurut Fletcher, bahasa seperti itu dapat memberikan lampu hijau bagi calon-calon otokrat di seluruh dunia untuk menggunakan ancaman dan taktik serupa, termasuk penghancuran warga sipil dan infrastruktur publik. Ia menambahkan, ucapan tersebut juga merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional karena secara sengaja menargetkan warga sipil.

Fletcher, yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat (OCHA), menggambarkan hubungannya dengan pemerintahan Trump seperti menaiki rollercoaster. Ia mengamati adanya perbedaan mendasar antara seni bernegara tradisional dengan pendekatan tim Trump.

“Jika dia (Trump) mengakhiri 14 perang, berikanlah Hadiah Nobel Perdamaian, tapi mari kita benar-benar mengakhirinya daripada hanya sekadar membicarakannya,” sindir Fletcher, menyoroti perbedaan antara retorika dan aksi nyata.

Advertisement

Krisis Pendanaan Bantuan Kemanusiaan

Saat ini, PBB tengah menghadapi krisis pendanaan bantuan kemanusiaan yang signifikan, dengan pemotongan anggaran mencapai 50 persen. Krisis ini dipicu oleh pemotongan bantuan luar negeri dari AS dan negara-negara internasional lainnya, yang disebabkan oleh pergeseran ideologi serta pembengkakan anggaran pertahanan.

Teguran untuk Inggris

Tidak hanya mengkritik AS, Fletcher juga memberikan teguran keras terhadap perpolitikan Inggris. Mantan diplomat Inggris ini menuduh para politisi di negaranya telah membentuk “pasukan tembak melingkar” (circular firing squad) selama lebih dari satu dekade, yang membuat posisi Inggris kini dalam kondisi yang meringkuk.

Ia menyayangkan pemotongan bantuan luar negeri Inggris yang drastis, dari komitmen 0,7 persen dari pendapatan nasional bruto menjadi angka yang jauh lebih kecil. “Inggris cenderung terlalu percaya diri pada hal yang seharusnya rendah hati, dan terlalu rendah hati pada hal yang seharusnya percaya diri. Saat ini, kompetensi yang tenang adalah hal yang baik,” tuturnya.

Perlindungan Pekerja Kemanusiaan

Terakhir, Fletcher menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para pekerja kemanusiaan. Ia mencatat bahwa lebih dari 1.000 pekerja kemanusiaan tewas dalam tiga tahun terakhir, banyak di antaranya menjadi korban serangan drone.

“Jangan hanya memberi kami pernyataan bahwa pekerja kemanusiaan harus dilindungi. Angkat teleponnya, hubungi orang-orang yang membunuh kami, dan berhenti mempersenjatai mereka yang melakukan ini,” pungkasnya, menekankan perlunya tindakan nyata untuk mengakhiri kekerasan terhadap pekerja kemanusiaan.

Advertisement