Money

Laba Fore Coffee (FORE) Rp 9,43 Miliar di Awal 2026, Penjualan Melonjak

Advertisement

JAKARTA, CNN Indonesia – PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) membukukan laba bersih senilai Rp 9,43 miliar pada kuartal I-2026, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 5,87 miliar. Kinerja positif ini didorong oleh lonjakan penjualan dan keberhasilan ekspansi gerai yang gencar dilakukan sepanjang tahun 2025.

Pertumbuhan laba Fore tidak lepas dari peningkatan pendapatan usaha yang solid. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dirilis Senin (20/4/2026), penjualan neto perseroan melonjak menjadi Rp 444,46 miliar pada tiga bulan pertama 2026, melampaui angka Rp 291,69 miliar di kuartal I-2025. Kenaikan ini berdampak langsung pada laba bruto yang meroket dari Rp 181,04 miliar menjadi Rp 273,67 miliar.

Ekspansi Gerai Dorong Kinerja Positif

Dampak positif ekspansi bisnis pasca-IPO pada April 2025 terlihat jelas dalam laporan keuangan Fore. Hingga akhir Maret 2026, Fore mengoperasikan 335 kedai kopi di seluruh Indonesia, bertambah dari 316 gerai pada akhir tahun sebelumnya. Selain itu, lini bisnis baru berupa gerai donat juga mulai berkembang, dari dua gerai menjadi tujuh gerai. Di kancah internasional, Fore memperluas jejaknya dengan empat gerai kopi di Singapura melalui entitas anak.

Seiring dengan pertumbuhan gerai, jumlah karyawan tetap Fore juga mengalami peningkatan. Per Maret 2026, perusahaan mempekerjakan 324 karyawan tetap, naik dari 290 orang pada akhir 2025.

Pendapatan Meningkat, Laba Bruto Naik Signifikan

Peningkatan penjualan neto yang signifikan berkontribusi langsung pada laba bruto perseroan. Pada kuartal I-2026, laba bruto tercatat sebesar Rp 273,67 miliar, melonjak dari Rp 181,04 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi operasional, laba operasional juga menunjukkan tren positif, mencapai Rp 16,26 miliar, meningkat dari Rp 9,43 miliar di kuartal I-2025.

Namun, peningkatan aktivitas operasional juga diiringi dengan kenaikan beban operasional. Total beban operasional pada kuartal I-2026 mencapai Rp 257,41 miliar, lebih tinggi dibandingkan Rp 171,61 miliar pada kuartal I-2025. Beban ini mencakup beban penjualan serta beban umum dan administrasi.

Beban Pajak Tekan Laba Bersih

Setelah memperhitungkan seluruh penghasilan dan beban lain-lain, laba sebelum pajak penghasilan Fore tercatat sebesar Rp 15,18 miliar. Perseroan kemudian membukukan beban pajak penghasilan neto sebesar Rp 5,75 miliar, yang menghasilkan laba bersih periode berjalan sebesar Rp 9,43 miliar.

Sementara itu, laba komprehensif periode berjalan mencapai Rp 9,55 miliar. Angka ini mencerminkan adanya tambahan penghasilan komprehensif lain yang bersumber dari selisih kurs.

Akumulasi Rugi Menyusut Berkat Kinerja Positif

Perbaikan kinerja laba yang dicapai Fore juga berdampak positif pada posisi ekuitas perseroan. Akumulasi rugi tercatat menyusut menjadi Rp 168,37 miliar per 31 Maret 2026, membaik dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp 177,80 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi laba yang dihasilkan secara bertahap mulai menekan rugi ditahan perusahaan.

Secara keseluruhan, ekuitas Fore mengalami peningkatan menjadi Rp 690,14 miliar, naik dari Rp 680,59 miliar pada akhir tahun sebelumnya.

Advertisement

Aset Stabil, Kas Menurun Akibat Ekspansi

Dari sisi neraca, total aset Fore tercatat sebesar Rp 1,16 triliun per akhir Maret 2026, yang relatif stabil dibandingkan posisi akhir 2025. Aset tersebut terbagi atas aset lancar senilai Rp 424,54 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp 739,71 miliar.

Posisi kas dan bank tercatat sebesar Rp 253,80 miliar, mengalami penurunan dari Rp 327,53 miliar pada akhir 2025. Penurunan ini sejalan dengan penggunaan kas untuk aktivitas investasi dan pendanaan.

Total liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 474,11 miliar, sedikit menurun dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp 479,58 miliar.

Arus Kas Tertekan Belanja Modal dan Pendanaan

Dalam periode Januari-Maret 2026, Fore Coffee mencatat kas neto dari aktivitas operasi sebesar Rp 40,05 miliar. Namun, arus kas dari aktivitas investasi dan pendanaan masing-masing tercatat negatif sebesar Rp 60,30 miliar dan Rp 53,47 miliar.

Angka negatif ini mencerminkan adanya belanja modal yang dilakukan perusahaan, serta pembayaran kewajiban keuangan, termasuk liabilitas sewa.

Dampak IPO Terhadap Struktur Modal

Ekspansi yang dilakukan Fore terjadi setelah perseroan resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada April 2025. Perseroan melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan melepas 1,88 miliar saham baru pada harga Rp 188 per saham, setelah memperoleh pernyataan efektif dari OJK pada 27 Maret 2025.

Pasca-IPO, modal ditempatkan dan disetor penuh mencapai Rp 624,29 miliar, dengan tambahan modal disetor sebesar Rp 233,02 miliar.

Manajemen Fore menyatakan bahwa laporan keuangan konsolidasian interim ini telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan diselesaikan pada 20 April 2026.

Advertisement