Presiden China Xi Jinping mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera mencapai gencatan senjata dan mendukung solusi diplomatik guna mengakhiri krisis yang semakin memanas di Selat Hormuz. Ini merupakan kali pertama pemimpin tertinggi China tersebut secara eksplisit menyerukan pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut yang telah berulang kali diblokade sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
“Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk lalu lintas normal, yang sejalan dengan kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional,” ujar Xi Jinping dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, pada Senin (20/4/2026), seperti dikutip dari South China Morning Post.
Xi menegaskan, “China menganjurkan gencatan senjata segera dan komprehensif, mendukung semua upaya yang kondusif untuk memulihkan perdamaian dan bersikeras untuk menyelesaikan perselisihan melalui jalur politik dan diplomatik.”
Krisis Selat Hormuz Lumpuhkan Ekonomi Global
Kebuntuan di Selat Hormuz telah menimbulkan dampak signifikan terhadap rantai pasokan minyak global. Situasi ini menyebabkan kekacauan di pasar energi internasional dan menyeret pertumbuhan ekonomi dunia ke titik terendah.
Langkah diplomatik Xi Jinping ini muncul di tengah persiapan Pakistan untuk menjadi tuan rumah putaran baru perundingan antara AS dan Iran. Namun, optimisme tersebut dibayangi oleh ketegangan baru di kawasan menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua minggu pada Rabu (22/4/2026).
Iran menuduh Washington melanggar gencatan senjata setelah kapal perusak rudal USS Spruance dilaporkan menembaki sebuah kapal kargo berbendera Iran sekitar 550 kilometer di sebelah timur selat. Insiden ini merupakan penggunaan kekuatan pertama yang diketahui terhadap kapal sejak blokade angkatan laut AS diberlakukan terhadap pelabuhan Iran.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa negosiator AS akan bertolak ke Pakistan pada Senin untuk melanjutkan pembicaraan damai. Namun, Iran menyatakan tidak memiliki rencana untuk menghadiri perundingan tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan di masa depan.
Panggilan telepon Xi Jinping dengan Putra Mahkota Arab Saudi ini menandai percakapan kedua dalam seminggu dengan para pemimpin Timur Tengah yang menyerukan de-eskalasi di kawasan tersebut.
Visi Stabilitas Timur Tengah ala China
Percakapan dengan Mohammed bin Salman merupakan komunikasi kedua Xi Jinping dalam sepekan dengan pemimpin Timur Tengah untuk membahas de-eskalasi. Pekan sebelumnya, saat bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi di Beijing, Xi telah menyampaikan proposal empat poin untuk menjaga stabilitas kawasan.
“Kita tidak boleh membiarkan dunia kembali ke hukum rimba,” tegas Xi kala itu, menekankan pentingnya tatanan internasional.
Bagi China, ketidakstabilan di Timur Tengah menjadi ancaman serius. Gangguan pasokan minyak tidak hanya meningkatkan biaya transportasi global, tetapi juga berpotensi melemahkan permintaan terhadap ekspor China. Para analis memperingatkan bahwa selama blokade di Selat Hormuz berlanjut, cadangan energi strategis China akan terus menipis.
Upaya China Damaikan AS-Iran
Pejabat senior China secara konsisten menyerukan gencatan senjata dan telah terlibat dalam serangkaian upaya diplomatik untuk menenangkan situasi. Bulan ini saja, Menteri Luar Negeri Wang Yi dan utusan khusus Timur Tengah Zhai Jun telah berkomunikasi dengan berbagai pejabat, mulai dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi hingga Peter Wilson, duta besar Inggris untuk China, sebagai bagian dari upaya mereka untuk mempromosikan pembicaraan damai.
Upaya China untuk mengurangi ketegangan ini mendapat apresiasi dari Teheran maupun Washington. Araghchi menyatakan penghargaan yang mendalam atas upaya konsisten China dalam meredakan ketegangan. Sementara itu, Presiden Trump meyakini Beijing telah berperan dalam membawa Iran ke meja perundingan awal bulan ini.
Minggu lalu, Trump mengungkapkan bahwa ia telah bertukar surat dengan Xi dan mendesaknya untuk tidak memasok senjata ke Iran. China sendiri membantah memiliki rencana untuk melakukan hal tersebut.
Konflik di Timur Tengah ini juga menyebabkan Trump menunda kunjungan yang direncanakannya ke China. Kendati demikian, Trump menyatakan tidak berpikir bahwa perang tersebut akan mengubah dinamika kunjungannya. Beijing belum mengkonfirmasi tanggal pasti kunjungan Trump pada bulan Mei mendatang.






