JAKARTA, Kompas.com – Badan Pusat Statistik (BPS) angkat bicara menanggapi keraguan sejumlah pihak terhadap data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 yang mencapai 5,12 persen. BPS menegaskan bahwa angka tersebut akurat dan disusun berdasarkan metodologi standar internasional yang teruji.
Direktur Neraca Produksi BPS, Puji Agus Kurniawan, menjelaskan bahwa BPS menggunakan berbagai variabel dan pendekatan dalam menghitung Produk Domestik Bruto (PDB) untuk memastikan ketepatan data. “Kami menyampaikan tadi berapa data yang digunakan untuk menghitung PDB. Jadi kalau misalkan di luar menghitung atau mengestimasi, pasti variabelnya tidak sebanyak yang digunakan oleh BPS,” ujar Puji dalam Workshop Wartawan di kantor BPS, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Metodologi Standar Internasional
Penghitungan PDB dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Indonesia mengacu pada Sistem Neraca Nasional (SNN) 2008. Standar ini juga digunakan secara global, sehingga data ekonomi Indonesia dapat dibandingkan dengan negara lain dan memiliki kualitas yang terjamin.
Puji merinci, salah satu pendekatan utama yang digunakan adalah sisi produksi atau lapangan usaha. Dalam pendekatan ini, BPS menghitung secara rinci 17 kategori sektor ekonomi, mulai dari pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, hingga berbagai sektor jasa.
“Secara teknis dia lebih spesifik juga waktunya. Karena ketika saya berbicara ada 17 kategori dari pertanian sampai hulu, itu metodenya beda-beda, tergantung dengan data yang tersedia,” ungkap Puji.
Tiga Pendekatan untuk Akurasi
Selain pendekatan produksi, BPS juga mengandalkan pendekatan pengeluaran dan pendapatan untuk memverifikasi akurasi data ekonomi. Pendekatan pengeluaran mencakup komponen seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non-profit, belanja pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), perubahan inventori, serta ekspor dan impor barang serta jasa.
Sementara itu, pendekatan pendapatan digunakan untuk menghitung PDB berdasarkan kompensasi tenaga kerja, konsumsi barang modal tetap, surplus usaha, serta pajak dikurangi subsidi atas produksi. Dengan menerapkan ketiga pendekatan ini secara bersamaan, BPS memastikan bahwa angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis telah melalui proses verifikasi yang komprehensif dan kredibel.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025
Sebelumnya, BPS melaporkan bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 tumbuh sebesar 5,12 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya, yaitu kuartal I 2025, yang tercatat tumbuh 4,87 persen (yoy).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut didapatkan dari Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 5.947 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp 3.396,3 triliun.
“Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 bila dibandingkan dengan kuartal II 2024 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,12 persen,” kata Edy dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Pertumbuhan ekonomi pada periode April-Juni 2025 ini juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2024 tercatat sebesar 5,05 persen secara tahunan.






