Megapolitan

“Saya Sampai Enggak Bisa Nangis Lagi”, Cerita Ibu di Jakarta yang Terjebak Parental Burnout

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Kehidupan di ibu kota yang serba cepat, ditambah tuntutan ekonomi yang terus merangkak naik, telah menciptakan lanskap yang semakin menekan bagi para orang tua. Fenomena parental burnout, atau kelelahan ekstrem dalam mengasuh anak hingga hilangnya energi emosional, kini menjadi realitas yang dihadapi banyak keluarga di Jakarta, tak terkecuali bagi mereka yang harus menyeimbangkan karier dan peran domestik.

Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh pasangan yang sama-sama bekerja, tetapi juga oleh para orang tua tunggal yang memikul beban ganda. Di balik rutinitas sehari-hari yang tampak berjalan normal, tersembunyi cerita tentang rasa bersalah, kehilangan jati diri, hingga meledaknya emosi akibat hal-hal sepele.

Rutinitas Tanpa Henti di Tengah Kota

Sesa (34), seorang ibu dua anak yang menetap di Jakarta Timur, mengaku telah terbiasa memulai harinya sejak subuh. Sebagai admin finance, ia harus lihai mengatur waktu antara tuntutan pekerjaan kantor dan kebutuhan rumah tangga. “Rutinitas saya jujur kayak enggak ada habisnya. Saya bangun jam 04.30 pagi. Kadang sebelum alarm karena udah kepikiran aja,” ungkap Sesa saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/4/2026).

Setiap pagi, Sesa langsung disibukkan dengan menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anaknya. Ia juga harus memastikan anak sulungnya yang duduk di bangku TK siap berangkat sekolah, sementara adiknya yang masih balita seringkali rewel. Kondisi bisa menjadi semakin genting ketika anak-anak sulit diajak mandi atau menangis, sementara ia harus memastikan seragam rapi, tas lengkap, dan sepatu tidak tertinggal.

Meskipun mendapat dukungan dari sang suami, Sesa merasa beban utama pengasuhan tetap berada di pundaknya. Ia menjelaskan bahwa suaminya lebih banyak membantu tugas-tugas yang terlihat, sementara tanggung jawab tak kasatmata seperti mengingat jadwal imunisasi, stok susu dan popok, hingga kebutuhan sekolah tetap menjadi urusannya. “Saya merasa saya ini bukan cuma ibu, tapi kayak manajer rumah tangga,” tuturnya.

Beban tersebut tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga mental. Pikiran Sesa nyaris tidak pernah berhenti berputar, bahkan saat tubuhnya sudah merasakan kelelahan. “Orang lihatnya saya cuma ngurus anak. Padahal saya mikirin semuanya, bahkan sebelum kejadian,” ujarnya. Ketika anaknya tiba-tiba membutuhkan kertas karton untuk sekolah, pikirannya langsung dipenuhi pertanyaan: di mana membelinya, apakah sempat, dan apa yang harus dikorbankan.

Tekanan semakin bertambah mengingat Jakarta tidak memberi ruang untuk keterlambatan. Sedikit saja terlambat, kemacetan bisa membuat ia tiba di kantor pukul 09.00 WIB. Sepulang kerja, rutinitas rumah tangga kembali menanti. “Pulang kerja itu bukan istirahat. Saya sampai rumah langsung urus anak lagi. Anak minta ditemenin main, anak minta makan,” keluh Sesa.

Ia sering baru bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sekitar pukul 23.00 WIB. Namun, setelah itu pun, pikirannya tetap aktif. “Saya pernah sampai titik enggak bisa nangis lagi. Rasanya datar aja. Bangun, jalanin rutinitas, ulang lagi,” katanya. Ketika tekanan memuncak, emosinya pernah meledak karena hal kecil, seperti saat anaknya menumpahkan air. Peristiwa tersebut selalu diikuti oleh rasa bersalah yang menghantui.

Terjebak di Tengah Tekanan Ekonomi dan Sosial

Masalah ekonomi memperparah kondisi yang dialami Sesa. Biaya hidup di Jakarta yang tinggi, ditambah kebutuhan anak yang kerap datang mendadak, membuat ia dan suami merasa terus dikejar. “Kadang saya mikir, kita kerja dua-duanya, tapi kok rasanya tetap ngejar-ngejar,” ujarnya.

Sesa mengaku sempat terbersit keinginan untuk berhenti bekerja. Namun, keputusan itu berisiko besar terhadap kondisi keuangan keluarga. “Jadi kayak terjebak,” tutur Sesa.

Daycare: Pilihan Pahit yang Diperlukan

Tanpa dukungan keluarga yang memadai, Sesa akhirnya mengambil keputusan berat untuk menitipkan anak keduanya di daycare. “Saya tipe ibu yang merasa, ‘masa sih anak gue dititipin ke orang lain?’ Tapi lama-lama saya sadar saya enggak punya pilihan,” katanya. Ia mengaku sempat menangis saat pertama kali meninggalkan anaknya.

Advertisement

Kekhawatiran terbesar Sesa adalah soal keamanan, terutama setelah maraknya kasus daycare yang viral. Oleh karena itu, ia melakukan survei yang ketat, mulai dari kebersihan, keberadaan CCTV, rasio pengasuh, hingga prosedur darurat. “Saya bahkan tanya apakah mereka ada pelatihan P3K atau enggak,” ujar Sesa.

Meskipun awalnya sulit, anaknya kini mulai beradaptasi dan terlihat lebih bahagia. “Daycare itu kayak penyelamat, walaupun mahal,” ujar Sesa. Biaya yang ia keluarkan mencapai sekitar Rp 2 juta per bulan, sebuah jumlah yang besar, namun menurutnya penting demi menjaga kewarasannya.

Single Parent: Beban Ganda Tanpa Ruang Berbagi

Berbeda dengan Sesa, Dianova (36), seorang single parent di Jakarta Selatan, harus menjalani segalanya seorang diri. “Kalau saya jujur ya, hidup saya itu kayak kerja terus,” kata Dianova.

Bekerja sebagai kasir retail, Dianova bangun pukul 04.00 WIB dan pulang hingga larut malam. Anaknya dititipkan kepada tetangga. “Kadang saya merasa bersalah banget, karena anak saya kayak dibesarkan sama orang lain,” ucap Dianova.

Namun, baginya, bekerja adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. “Kalau saya capek, saya tetap harus jalan. Kalau saya sakit, saya enggak bisa rebahan,” katanya. Ia bahkan pernah tetap memasak dan mengantar anak sekolah saat demam tinggi.

Tekanan ekonomi menjadi sumber stres utama bagi Dianova. “Saya pernah pinjam uang untuk bayar uang daftar ulang sekolah,” ujarnya. Parental burnout yang dialaminya hadir dalam bentuk kesunyian: kelelahan yang membuat hati terasa kosong. “Karena anak saya cuma punya saya. Harusnya saya jadi tempat nyaman. Tapi saya malah jadi orang yang bikin dia takut,” tuturnya.

Daycare sebagai Penopang Keluarga Bekerja

Martha Mulyadani, pengelola Trust DayCare di Jakarta Barat, menyatakan bahwa mayoritas orang tua yang menitipkan anak di tempatnya adalah pasangan pekerja. “Mayoritas karena suami-istri sama-sama bekerja…” kata Martha.

Menurutnya, daycare kini menjadi solusi praktis karena orang tua dapat memantau anak melalui CCTV. “Daycare juga bukan satu-satunya tempat pendidikan anak. Harus ada kerja sama,” ujarnya.

Faktor Sosial dan Sistem Kerja Memperberat Beban

Tuti Budirahayu, Dosen sekaligus Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, menilai parental burnout dipicu oleh berbagai faktor, tidak hanya ritme kehidupan kota. Ia menyebutkan bahwa kelelahan akibat pekerjaan dapat menurunkan energi untuk mengasuh anak, bahkan memicu jarak emosional.

“Interaksi dengan anak menjadi kaku, mekanis, sering memberi perintah, melarang, dan anak cenderung menjauh dari orangtua,” ujar Tuti. Ia juga menyoroti perubahan struktur keluarga dari keluarga besar menjadi keluarga inti sebagai faktor yang turut memperberat beban pengasuhan.

Advertisement