Kiper legendaris Italia, Gianluigi Buffon, mengenang kembali insiden kontroversial antara Zinedine Zidane dan Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006, sambil menyayangkan performa Timnas Italia yang tiga kali beruntun gagal tampil di ajang yang sama.
Dalam sebuah wawancara terbaru, Buffon yang menjadi salah satu saksi mata kejadian tersebut, mengaku mendengar benturan keras saat Zidane menanduk Materazzi. “Saya berada sekitar 15 meter dari kejadian itu dan saya bisa mendengar bunyinya. Kalau dia melakukan hal itu kepada orang lain, orang itu pasti sudah pingsan,” ujar Buffon, seperti dikutip dari The Guardian.
Buffon mengungkapkan perannya dalam memastikan wasit menyadari insiden tersebut. “Asisten wasit tidak melihatnya. Satu-satunya yang menyaksikannya adalah saya. Jadi, saya berlari menghampiri wasit dan asistennya untuk menarik perhatian mereka. Materazzi tergeletak di lapangan, Zidane tak bergerak, saya sedang memprotes, dan akhirnya pertandingan dihentikan,” jelasnya.
Insiden yang terjadi menjelang akhir babak perpanjangan waktu itu, tak lama setelah Buffon melakukan penyelamatan gemilang atas sundulan Zidane, meninggalkan kesan mendalam bagi sang kiper. Buffon mengaku merasakan perasaan campur aduk, terlebih laga tersebut merupakan pertandingan terakhir Zidane di kancah sepak bola profesional. “Saya merasa terguncang dan diliputi perasaan campur aduk. Saya tahu itu adalah pertandingan terakhir Zidane, dan dia adalah salah satu pemain terhebat dan paling berkelas dalam sejarah sepak bola. Dan saya merasa sedih bahwa karirnya berakhir dengan cara seperti itu,” tambahnya.
Italia kala itu berhasil keluar sebagai juara Piala Dunia 2006 melalui drama adu penalti, dengan Buffon menjadi salah satu pahlawan kemenangan timnas.
Penurunan Performa Timnas Italia
Di sisi lain, Buffon juga menyuarakan keprihatinan atas kondisi terkini tim nasional Italia. Azzurri tercatat mengalami rentetan kegagalan dalam tiga edisi Piala Dunia berturut-turut, termasuk kegagalan terbaru di babak kualifikasi Piala Dunia 2026.
“Ini merupakan masa yang menyakitkan bagi sepak bola Italia dan bagi saya sendiri,” ucap Buffon. “Seandainya mereka memberitahu saya bahwa hal ini akan terjadi 12 tahun yang lalu, saya pasti akan berkata bahwa jauh lebih mudah melihat 1.000 alien di sekeliling saya daripada melihat Italia gagal lolos ke tiga turnamen berturut-turut. Namun, itulah kenyataannya.”
Buffon menilai ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kemunduran performa timnas, mulai dari meningkatnya level persaingan internasional hingga berkurangnya kehadiran pemain kreatif di skuad Italia.
Perlunya Perubahan dan Pemahaman Akar Masalah
“Untuk mengatasi hal ini, kami perlu memahami mengapa ada kesulitan-kesulitan tersebut. Kami perlu berubah,” tegas Buffon. “Jika kami memahami analisis ini dengan jelas, kami memiliki potensi untuk menciptakan masa depan yang jauh lebih baik. Namun, jika Anda menyangkal adanya masalah, maka masalah itu akan selalu ada.”
Menurut Buffon, meskipun Italia masih memiliki pemain berkualitas, namun ada elemen krusial yang hilang. “Kami memiliki beberapa pemain hebat, tapi yang kurang adalah talenta kreatif sejati seperti (Roberto) Baggio, (Alessandro) Del Piero, atau (Francesco) Totti yang dulu membantu kami meraih kemenangan,” pungkasnya.






