Regional

Cerita Umam, Calon Haji Termuda Asal OKU Timur yang Didaftarkan sejak Usia 3,5 Tahun

Advertisement

PALEMBANG, KOMPAS.com – Muhammad Khtibul Umam Azzamzami, santri asal Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, akan menjadi jemaah haji termuda dalam kelompok terbang perdana dari Palembang. Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, Umam berangkat menuju Tanah Suci bersama ayah, Kamali (58), dan dua anggota keluarga lainnya. Keberangkatan mereka tergabung dalam kloter pertama yang dijadwalkan terbang dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, menuju Jeddah pada Rabu (22/4/2026).

Sebelum memulai perjalanan spiritualnya, Umam telah meminta restu dari Pondok Pesantren Lirboyo, tempatnya menimba ilmu. Setelah mendapatkan izin, ia segera fokus pada persiapan keberangkatan yang menurutnya tidak memerlukan banyak hal selain memperbanyak mengaji.

“Teman-teman alhamdulillah mendoakan saya. Kalau persiapan tidak banyak, lebih banyak mengaji saja,” ujar Umam saat ditemui di Asrama Haji Palembang, Selasa (21/4/2026).

Umam mengungkapkan rasa syukurnya dapat menunaikan ibadah haji bersama sang ayah. Pendaftaran haji untuk Umam sebenarnya sudah dilakukan sejak ia berusia 3,5 tahun. Sempat tertunda karena belum mencapai usia minimal keberangkatan, kini cita-cita tersebut akhirnya terwujud.

“Seharusnya berangkat tahun lalu, tetapi karena belum 18 tahun jadi ditunda. Alhamdulillah sekarang bisa berangkat. Harapannya sehat dan menjadi haji yang mabrur,” katanya. Berbeda dengan remaja seusianya yang mungkin memiliki cita-cita materialistis, Umam justru memiliki impian sederhana untuk meneruskan jejak sang ayah di bidang pertanian dan perkebunan.

“Inginnya jadi bos sawit seperti bapak saja,” ungkapnya, menunjukkan kesederhanaan dalam aspirasi masa depannya.

Kisah di Balik Pendaftaran Haji Sejak Dini

Sang ayah, Kamali, menceritakan bahwa niat untuk mendaftarkan Umam berhaji sudah ada sejak tahun 2012, bersamaan dengan pendaftaran anggota keluarga lainnya. Ia memiliki keinginan kuat agar seluruh keluarganya dapat menunaikan rukun Islam kelima ini secara bersamaan.

Advertisement

“Saya memang berniat agar keluarga bisa berangkat haji bersama-sama,” ujar Kamali. Meskipun begitu, satu anggota keluarga terpaksa menunda keberangkatan karena sedang mengandung, sehingga tahun ini mereka berangkat berlima.

Kamali menambahkan, Umam sejak kecil dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan tidak pernah menuntut hal-hal yang berlebihan. Ia tidak pernah meminta kendaraan seperti mobil atau motor, melainkan justru meminta untuk didaftarkan haji.

“Dia tidak pernah minta mobil atau motor. Tapi, pernah minta didaftarkan haji. Dari situ saya makin yakin untuk memberangkatkan dia,” katanya, mengenang momen yang semakin memperkuat keyakinannya.

Hasil Kebun Menjadi Modal Utama

Kamali, yang berprofesi sebagai petani sawah dan kelapa sawit di Buay Madang Timur, OKU Timur, mengumpulkan biaya haji dari hasil panen perkebunannya. Selain itu, ia juga aktif mengelola sebuah pesantren di kampung halamannya.

Dari kedua usaha tersebut, Kamali secara konsisten menabung hingga akhirnya mampu mendaftarkan seluruh anggota keluarga untuk menunaikan ibadah haji.

“Ini semua panggilan Allah. Mudah-mudahan kami diberi kelancaran dan menjadi haji yang mabrur,” tuturnya, mengakhiri cerita dengan harapan penuh keyakinan.

Advertisement