Global

China Bantah Kapal yang Ditahan AS Berisi “Hadiah” untuk Iran

Advertisement

BEIJING – Pemerintah China membantah keras tudingan Amerika Serikat (AS) bahwa kapal yang dicegat di Teluk Oman pada Minggu (19/4/2026) berisi “hadiah” dari Beijing untuk Iran. Bantahan ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri China pada Rabu (22/4/2026), menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya.

Trump mengklaim kapal kargo berbendera Iran yang disita oleh pasukan AS itu memuat “hadiah dari China” yang “tidak terlalu menyenangkan”. Pernyataan tersebut, menurut Trump, membuatnya sedikit terkejut mengingat adanya pemahaman yang ia kira terjalin dengan Presiden China Xi Jinping.

Keterkejutan Trump semakin beralasan mengingat seminggu sebelumnya, Xi Jinping disebut telah meyakinkannya bahwa China tidak akan melakukan pengiriman senjata ke Iran. Komentar Trump ini muncul setelah mantan Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, menulis di platform X (sebelumnya Twitter) bahwa kapal tersebut berlayar dari China ke Iran dan diduga terkait dengan pengiriman bahan kimia untuk rudal.

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa kapal yang dimaksud adalah kapal kontainer asing. China, tegas Guo, menentang segala bentuk asosiasi dan spekulasi yang tidak berdasar.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai komentar Trump, Guo Jiakun menyatakan bahwa China telah menyampaikan posisinya. “Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China selalu memberikan contoh yang baik dalam memenuhi kewajiban internasionalnya,” ujar Guo.

China memang dikenal sebagai mitra dekat Teheran. Beijing juga kerap menyatakan sikap menentang serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai tindakan ilegal. Namun, di sisi lain, China juga mengkritik serangan terhadap negara-negara Teluk dan menyerukan agar Selat Hormuz kembali dibuka.

Advertisement

AS Menahan Kapal yang Menuju Iran

Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kapal bernama Touska tersebut sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran. Pada Minggu (19/4/2026), kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance melepaskan beberapa tembakan dari meriam kaliber lima inci untuk melumpuhkan sistem propulsi kapal tersebut.

Tindakan ini, menurut CENTCOM dalam unggahan di X, dilakukan setelah kapal tersebut diperingatkan untuk mengosongkan ruang mesinnya.

Insiden penahanan kapal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Selat tersebut dilaporkan praktis tertutup sejak dimulainya perang Iran.

Pada Jumat (17/4/2026), Iran sempat membuka kembali selat tersebut sebagai bentuk apresiasi atas gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah di Lebanon. Namun, sehari kemudian, Iran menutupnya kembali sebagai respons atas blokade yang diberlakukan oleh militer AS terhadap kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju pelabuhan Iran.

Advertisement