Money

ICCC Gabung Aliansi Indo-Pasifik, Akses Pasar RI Makin Luas

Advertisement

JAKARTA — Indonesia Canada Chamber of Commerce (ICCC) resmi bergabung dalam aliansi bisnis Indo-Pasifik yang beranggotakan 21 negara. Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses pasar bagi pelaku usaha Indonesia seiring dengan tren penguatan ekspor yang mulai terlihat pada awal tahun 2026.

Kesepakatan bersejarah ini ditandatangani pada 16 April 2026, disaksikan langsung oleh Perdana Menteri Kanada, Mark Carney. Momen ini menandai pertama kalinya kamar dagang Kanada di kawasan Indo-Pasifik bersatu dalam satu platform kolaboratif.

Ketua ICCC, Vivien Kusumowardhani, menekankan posisi strategis Indonesia dalam hubungan Kanada dengan kawasan Indo-Pasifik. “Indonesia telah lama menjadi bagian dari strategi Indo-Pasifik Kanada,” ujarnya melalui keterangan pers yang diterima pada Rabu (22/4/2026).

“Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini, ICCC dapat berperan lebih aktif dalam membentuk arah diskusi perdagangan dan investasi di tingkat regional,” lanjut Vivien.

Bergabungnya ICCC ke dalam aliansi ini mencerminkan pergeseran pendekatan global menuju kerja sama regional yang lebih terkoordinasi. Hal ini penting di tengah persaingan global yang ketat dalam menarik investasi dan memperkuat rantai pasok di Asia Tenggara.

Sebagai salah satu ekonomi terbesar dengan pertumbuhan tercepat di kawasan, Indonesia dinilai memiliki potensi yang semakin krusial dalam peta perdagangan Indo-Pasifik.

Akses Pasar dan Jaringan Bisnis Kian Terbuka

Melalui aliansi bisnis Indo-Pasifik ini, ICCC menargetkan peningkatan visibilitas Indonesia dalam jaringan perdagangan dan investasi Kanada. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan mendorong misi dagang dan kemitraan yang lebih terarah.

Akses bagi pelaku usaha Kanada ke pasar Indonesia diproyeksikan akan menjadi lebih jelas. Sementara itu, anggota ICCC dari kedua negara akan memiliki kesempatan untuk terhubung dengan jaringan bisnis Indo-Pasifik yang lebih luas.

Vivien menambahkan bahwa langkah strategis ini sangat relevan dengan dinamika global saat ini, yang mendorong diversifikasi rantai pasok dan penguatan kehadiran di Asia Tenggara.

“Perusahaan global saat ini tengah mendiversifikasi rantai pasok dan memperkuat kehadiran mereka di Asia Tenggara, dengan Indonesia semakin dipandang sebagai pasar prioritas,” jelasnya.

“Melalui jaringan CCIP, anggota ICCC memiliki lebih banyak peluang untuk berkolaborasi langsung dengan mitra di berbagai negara di kawasan Indo-Pasifik, serta mendorong inisiatif lintas negara dan pertukaran wawasan pasar,” tambah Vivien.

Ke depannya, ICCC berencana terlibat dalam misi dagang bersama di kawasan ASEAN dan Kanada, dialog kebijakan regional, serta kolaborasi sektoral di bidang energi, infrastruktur, dan perdagangan digital.

Ekspor RI Tumbuh, Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama

Sejalan dengan potensi terbukanya akses pasar baru, kinerja ekspor Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai 22,17 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 376,9 triliun (dengan kurs Rp 17.000 per dollar AS). Angka ini naik 1,01 persen dibandingkan Februari 2025.

Advertisement

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kenaikan ekspor secara tahunan ini didorong oleh sejumlah komoditas utama.

“Peningkatan ekspor Februari secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan ekspor beberapa komoditas,” ujarnya dalam rilis BPS di Kantor Pusat BPS, Rabu (1/4/2026).

“Ekspor lemak dan minyak hewan nabati naik 16,19 persen dengan andil 2,17 persen terhadap peningkatan total ekspor,” lanjut Ateng.

Selain itu, komoditas nikel dan barang daripadanya mencatat kenaikan signifikan sebesar 74,84 persen dengan andil 1,84 persen. Mesin dan perlengkapan elektrik juga mengalami peningkatan 28,43 persen dengan andil 1,21 persen.

Secara struktur, ekspor nonmigas mencapai 21,09 miliar dollar AS (sekitar Rp 358,5 triliun). Sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan nilai 18,55 miliar dollar AS. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 0,39 miliar dollar AS, dan sektor pertambangan serta lainnya sebesar 2,15 miliar dollar AS.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia dari Januari hingga Februari 2026 mencapai 44,32 miliar dollar AS (sekitar Rp 753,4 triliun), mengalami peningkatan 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ateng menjelaskan bahwa kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan ekspor nonmigas, meskipun terjadi penurunan pada ekspor migas.

“Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan yang menjadi pendorong utama dengan andil 5,36 persen,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan tersebut didukung oleh komoditas seperti minyak kelapa sawit, nikel, kendaraan bermotor roda empat, semikonduktor dan komponen elektronik, serta kimia dasar organik.

Dari sisi pasar tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok tercatat sebesar 10,46 miliar dollar AS, naik 18,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor ke Amerika Serikat, India, dan Uni Eropa juga menunjukkan peningkatan, meskipun ada penurunan ekspor ke kawasan ASEAN.

Kinerja ekspor yang positif ini berhasil menjaga neraca perdagangan Indonesia tetap surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada Februari 2026, surplus tercatat sebesar 1,27 miliar dollar AS (sekitar Rp 21,6 triliun). Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan dari Januari hingga Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dollar AS (sekitar Rp 37,9 triliun).

Advertisement