ISLAMABAD, KOMPAS.com – Ibu kota Pakistan, Islamabad, masih dalam kesiagaan tinggi menanti kedatangan delegasi Amerika Serikat dan Iran untuk perundingan penting yang mendadak ditunda. Penundaan ini membuat aktivitas kota tetap dibatasi dengan pengamanan ketat, memengaruhi kehidupan sehari-hari warga.
Sejumlah jalan utama masih ditutup, aktivitas pemerintahan banyak dilakukan dari rumah, dan sekolah kembali digelar secara daring. Situasi ini mulai menguji kesabaran warga yang terdampak secara ekonomi dan sosial akibat pembatasan yang berkepanjangan.
Warga Mulai Lelah dengan Pembatasan
Sejak rencana perundingan diumumkan, kawasan yang ditetapkan sebagai “zona merah” di Islamabad, lokasi utama negosiasi, telah ditutup ketat oleh aparat keamanan. Pembatasan ini menyulitkan banyak warga dalam menjalani aktivitas normal, mulai dari bekerja hingga mengakses layanan dasar.
“Kami harus tinggal di sini, zona merah ditutup. Anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah, dan toko-toko kadang tutup,” ujar Zainab Ali Uthmankhail, seorang pekerja kantoran, seperti dikutip AFP. Ia menambahkan bahwa situasi ini sangat mengganggu dan membuang waktu, meskipun ia juga merasa senang karena Pakistan berkontribusi pada sesuatu yang positif.
Perundingan Ditunda Mendadak, Ketidakpastian Menggantung
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dijadwalkan tiba pada Rabu (22/4/2026) pagi. Namun, Gedung Putih tiba-tiba mengubah rencana tersebut. Delegasi Iran pun turut menunda keputusan terkait kehadiran mereka dalam perundingan. Penundaan mendadak ini memperpanjang ketidakpastian di Islamabad, yang sebelumnya telah menjadi tuan rumah putaran pertama negosiasi AS-Iran pada awal bulan, yang berakhir tanpa kesepakatan.
Dampak Ekonomi Kian Terasa
Pembatasan ketat yang diberlakukan tidak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga menghantam ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan pekerja harian.
“Dampak lockdown adalah kami tidak melihat pelanggan sama sekali di pasar. Pemerintah tidak tahu apa dampak satu hari lockdown terhadap rumah tangga kami,” kata Muhammad Ahsan (35), pemilik kios perhiasan kecil. Ia menggambarkan kondisi yang semakin sulit, “Kompor kami tidak menyala, kami tidak menemukan makanan (di pasar).”
Tidak hanya usaha kecil, perusahaan besar pun turut merasakan dampaknya. Salah satu kilang minyak utama bahkan dilaporkan menghentikan sementara produksinya akibat gangguan distribusi.
Meskipun banyak yang terdampak, sebagian warga tetap merasa bangga karena Pakistan memainkan peran penting dalam upaya mengakhiri konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global. Namun, mereka juga bersiap menghadapi gangguan lanjutan jika perundingan kembali dijadwalkan.
“Kami memberikan pengorbanan kecil untuk mengurangi pengorbanan yang lebih besar,” ujar dokter muda Syed Umar Hasnain Shah. “Jadi kami akan terus berkorban.”






