Perkembangan pesat era digital melahirkan berbagai profesi baru, salah satunya adalah live host. Sosok yang kerap tampil energik di layar gawai ini kini menjadi pilihan karier yang menjanjikan, memandu siaran langsung di platform belanja daring.
Dengan pembawaan yang ramah dan suara yang tak henti mengalir, para live host memamerkan beragam produk, menjawab pertanyaan penonton, dan tak lupa terus mengajak untuk melakukan transaksi. “Check out-nya sekarang yuk Kakak,” menjadi sapaan khas yang akrab terdengar.
Ririn, salah satu yang menekuni profesi ini sejak awal 2024, mengaku awalnya hanya iseng mencoba. Tanpa pengalaman khusus di bidang penjualan, ia merasa memiliki kriteria yang dibutuhkan. Namun, dari sekadar coba-coba, pekerjaan ini perlahan menjelma menjadi rutinitas yang ia jalani hingga kini.
Jam Panjang di Depan Kamera
Hari-hari Ririn kini dipenuhi dengan siaran langsung yang berlangsung berjam-jam, bahkan sering kali mendekati atau melebihi durasi kerja normal. “Untuk waktunya tergantung pada perusahaan, ada yang 6 jam, 8 jam dan 9 jam,” kata Ririn saat dihubungi, Jumat (17/4/2026).
Sistem kerja terbagi dalam beberapa shift, mulai dari pagi, siang, hingga malam. Bahkan, di beberapa perusahaan, siaran bisa berjalan hampir tanpa henti selama 24 jam, dengan pembagian dua hingga tiga shift. “Hampir semua perusahaan yang memiliki pekerjaan sebagai host live itu bekerja selama 24 jam. Mereka membagi menjadi 3 shift atau 2 shift,” jelasnya.
Dalam satu sesi siaran, Ririn harus mengelola segalanya sendiri: membuka live, mempromosikan produk, hingga merespons interaksi penonton. Ia dituntut untuk mengatur ritme bicara, menjaga suasana tetap hidup, dan memastikan minat beli penonton terus terjaga. Biasanya, dalam satu sesi live, host mendapat waktu istirahat sekitar satu hingga dua jam untuk memulihkan tenaga sebelum kembali tampil.
Berbicara untuk Menjual
Kemampuan berbicara lancar saja tidak cukup. Menurut Ririn, seorang host harus mampu menjual produk secara efektif. Salah satu strategi yang kerap digunakan untuk menarik perhatian penonton adalah permainan harga. “Biasanya untuk menarik perhatian penonton untuk masuk live kita melakukan permainan harga produk. Misal harga asli di Rp 500.000 menjadi Rp 200.000 dalam beberapa waktu, dengan ketentuan tertentu,” ungkapnya.
Semua itu dilakukan sembari menjaga interaksi tetap hidup. Di balik setiap siaran, terdapat target omzet yang tidak bisa diabaikan. Dalam sehari, seorang host bisa dituntut menghasilkan belasan juta rupiah, dengan target bulanan yang jauh lebih besar. “Kalau dari tempat yang sekarang sehari live harus tembus Rp 8 – 15 juta. Omzet satu bulan Rp 70 juta 1 orang,” kata Ririn.
Jika target tidak tercapai, evaluasi menjadi konsekuensi yang harus dihadapi, bahkan berujung pada kemungkinan penggantian. “Evaluasi, Jika tidak bisa mengatasi, host akan diganti (cutt off),” tegasnya.
Ririn mengakui, tidak semua orang mampu bertahan di profesi ini. Ada yang piawai berbicara di depan kamera, namun belum tentu bisa menjual. Di situlah tekanan mulai terasa, terutama ketika performa tidak sesuai harapan. “Sedangkan yang dicari sebuah perusahaan adalah seorang host yang bisa menjual produk. Di sana lah tekanan akan muncul dan merasa tidak nyaman,” ujarnya.
Di balik kemampuan tampil yang terlihat spontan, Ririn menyebut bahwa calon host biasanya mendapatkan pelatihan. Materi tidak selalu teori, melainkan juga contoh praktik dari host lain yang dianggap lebih unggul. Beberapa perusahaan juga menyediakan panduan atau script dasar. “Script-nya kayak tata cara penjualan, misalkan kita udah bisa ngomong nih di depan kamera, terus belajar bagaimana cara narik orang biar tertarik nonton live kita, trus baru mikirin bagaimana barang harus terjual,” tuturnya.
Meski begitu, kemampuan improvisasi tetap menjadi kunci. Seorang host tidak hanya dituntut berbicara, tetapi juga mampu membaca situasi dan menjaga interaksi tetap hidup.
Menjaga Senyum di Tengah Tekanan
Sebagai seorang host, profesionalisme mutlak dituntut. Masalah pribadi tidak boleh terbawa ke layar. Ia harus tetap terlihat ceria, ramah, dan penuh energi, apa pun kondisi yang sedang dihadapi. Untuk menjaga hal tersebut, Ririn memilih fokus penuh saat siaran berlangsung dan menghindari distraksi yang bisa mengganggu konsentrasi. “Kalau saya pribadi untuk menjadi kestabilan mood saya, cukup fokus pada pekerjaan, usahakan tidak membawa ponsel pribadi saat melakukan live, karena itu akan memecah konsentrasi,” ujarnya.
Di tengah tuntutan tersebut, Ririn melihat pekerjaannya sebagai bagian dari perubahan besar di dunia kerja. Baginya, profesi ini bukan hanya tentang menjual produk, tetapi juga belajar memahami dinamika ekonomi digital yang terus bergerak. Ia percaya pekerjaan ini masih akan relevan dalam jangka panjang, seiring dengan semakin kuatnya peran platform digital dalam kehidupan sehari-hari. “Saat ini saya melihat semua serba digital, dan sebagai host ini merupakan pekerjaan yang bisa dijalani dalam jangka panjang,” katanya.
Puncak Penjualan di Jam Malam
Di balik panjangnya durasi siaran, terdapat pola waktu yang diam-diam menentukan keberhasilan sebuah live streaming. Andini (26), host live lainnya, mengatakan malam hari menjadi momen paling krusial. Bukan tanpa alasan, perilaku penonton di waktu ini berbeda dibandingkan siang hari. “Sekitar 20.00 WIB sampai 23.00 malam. Tapi tergantung produk juga,” kata dia kepada Kompas.com, Jumat.
Andini, yang masuk ke dunia live streaming di tengah keterbatasan opsi kerja, menjelaskan bahwa pada jam tersebut sebagian besar orang sudah berada di rumah dan memiliki waktu luang untuk bersantai. Kondisi itu membuat mereka lebih lama bertahan di siaran langsung, tidak sekadar lewat, tetapi benar-benar menyimak hingga akhirnya tertarik membeli.
Tidak hanya jumlah penonton yang meningkat, potensi transaksi juga ikut naik. Malam hari kerap menjadi waktu ketika daya beli lebih tinggi. “Selain itu, di malam hari juga biasanya daya beli lagi naik. Banyak yang habis gajian atau memang sengaja nunggu malam buat checkout. Jadi bukan cuma penontonnya yang banyak, tapi peluang closing juga lebih tinggi dibanding siang,” kata dia.
Jika siang hari cenderung singkat, malam justru memberi ruang bagi interaksi yang lebih panjang. Di situlah strategi mulai dimainkan. “Orang bisa stay 10–20 menit, bahkan lebih. Jadi di situ kita biasanya main strategi, misalnya tahan produk best seller sampai jam-jam peak, atau bikin flash sale di tengah live supaya orang yang sudah nonton lama jadi langsung checkout,” ujarnya.
Menonton untuk Hiburan
Di balik riuhnya siaran langsung yang berlangsung berjam-jam, ada penonton seperti Zahra (26) yang menjadi bagian dari dinamika tersebut. Ia mengaku awalnya hanya menonton live streaming sebagai cara mengisi waktu luang, terutama di malam hari saat sedang senggang. “Sebenarnya iseng aja sih, tapi karena kalau malam tuh kan suka bosen ya, scrol-scroll sosmed akhirnya nonton live,” katanya melalui pesan WhatsApp, Jumat.
Dalam seminggu, ia bisa menonton hampir setiap hari, meski dengan durasi yang berbeda-beda, tergantung situasi dan ketertarikannya pada siaran yang sedang berlangsung. Bagi Zahra, daya tarik utama bukan semata pada produk, melainkan cara host membawakan siaran. Interaksi yang terjalin antara host dan penonton membuat pengalaman menonton terasa lebih hidup dibandingkan sekadar melihat katalog belanja biasa. “Biasanya karena cara host-nya ngomong yang menarik. Karena suka lihatnya interaksi antar chat penonton dan host-nya itu. Kalau belanjanya sih jarang,” kata dia.
Meski tidak selalu berujung pada transaksi, ia mengakui live streaming memberi pengalaman yang lebih. Produk bisa dilihat secara langsung saat digunakan, sehingga memberikan gambaran yang lebih meyakinkan. “Kalau live itu lebih real, bisa lihat barangnya langsung dipakai atau dicoba. Jadi lebih yakin dibanding cuma lihat foto,” katanya.
Dalam kondisi tertentu, ketertarikan itu bahkan membuatnya bertahan lebih lama di satu siaran, berpindah dari satu live ke live lainnya hingga menemukan yang paling menarik. Interaksi pun tak jarang terjadi, meski hanya sebatas pertanyaan sederhana terkait produk. “Kadang iseng tanya juga sih, terutama soal ukuran atau detail produk,” ucap dia.
Pada akhirnya, kata Zahra, keputusan untuk membeli tidak lepas dari peran host itu sendiri. Cara mereka berbicara dan meyakinkan penonton menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan. “Kalau host-nya meyakinkan, kita jadi lebih percaya sama produknya,” katanya.
Alternatif di Tengah Keterbatasan Lowongan Kerja
Pakar marketing Yuswohady melihat profesi host live sebagai bagian dari pergeseran menuju pola kerja yang lebih fleksibel di tengah tekanan ekonomi. Menurut dia, kondisi saat ini mendorong masyarakat mencari sumber penghasilan alternatif, termasuk melalui pekerjaan berbasis digital. “Jadi, PHK di mana-mana, kemudian kerjaan makin sulit, sementara kebutuhan, inflasi tinggi. Jadi pekerjaan gig namanya, pekerjaan gig itu menjadi pilihan sekarang,” kata dia saat dihubungi, Jumat.
Host live pun masuk dalam kategori pekerjaan gig yang tidak terikat waktu dan tempat. Selain itu, profesi ini dinilai lebih terbuka karena tidak memerlukan banyak persyaratan, selama memiliki kemampuan komunikasi dan menjual. “Karena untuk menjadi sales atau menjadi host ini relatif juga sebenarnya enggak begitu sulit yang penting bisa jualan kan?” katanya.
Meski menawarkan fleksibilitas dan peluang, pekerjaan ini tetap memiliki risiko, terutama karena tidak adanya kepastian pendapatan. Namun, di tengah terbatasnya lapangan kerja formal, profesi ini dinilai menjadi alternatif yang realistis. “Jadi ini bisa menjadi bumper atau menjadi absorber dari sektor formal yang tidak mampu menampung luapan tenaga kerja. Ini bisa menjadi alternatif untuk gig pekerja ini,” katanya.
Di Area Abu-abu
Di sisi lain, pengamat ketenagakerjaan Tadjuddin Noer menyoroti belum adanya regulasi yang mengatur profesi ini. Akibatnya, pekerja host live berada dalam posisi rentan tanpa perlindungan yang jelas. “Belum ada regulasi khusus untuk itu, mereka kan bisa berbuat apa saja dengan aplikasi-aplikasi,” ujar Tadjuddin melalui sambungan telepon, Jumat.
Menurut dia, tidak ada standar baku terkait jam kerja, kontrak, maupun jaminan sosial. Minimnya pengawasan juga membuka celah praktik tidak sehat yang berpotensi merugikan konsumen. “Perlu (regulasi khusus) karena itu nanti jadi satu profesi kemudian kalau enggak ada regulasi digunakan orang untuk menipu segala macam itu,” kata dia.






