Sains

Es Abadi Puncak Jaya Terancam Hilang, Pakar UGM: 2025, Tahun Terburuk Gletser Dunia

Advertisement

Lapisan es abadi di Puncak Jaya, Papua, yang telah bertahan selama ribuan tahun kini menghadapi ancaman kepunahan. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan penyusutan drastis tutupan es di wilayah tersebut. Kondisi ini sejalan dengan laporan global “Climate Chronicles” edisi April 2026 yang mengindikasikan tahun 2025 sebagai salah satu tahun terburuk bagi gletser dunia sejak 1975.

Berdasarkan pemantauan BMKG di Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, pada akhir 2024, luasan tutupan es hanya tersisa sangat sedikit. Angka ini menyusut sekitar 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi dari total 0,23 kilometer persegi yang tercatat pada tahun 2022. Fenomena serupa juga terjadi di seluruh dunia, di mana Bumi kehilangan sekitar 408 gigaton es sepanjang tahun 2025, sebagaimana diungkapkan dalam laporan Nature Reviews Earth & Environment.

Dua gunung es tropis yang mengalami degradasi paling signifikan adalah Puncak Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Puncak Jaya di Indonesia. Pakar Hidrometeorologi dan Klimatologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa penyebab utama fenomena ini adalah gangguan pada mekanisme pelepasan energi matahari yang dikenal sebagai albedo.

Mengenal Efek Albedo dan Pemanasan Global

Albedo merujuk pada rasio energi matahari yang dipantulkan kembali oleh suatu permukaan ke atmosfer. Idealnya, es dan gletser memiliki nilai albedo yang sangat tinggi karena kemampuannya memantulkan sebagian besar radiasi matahari, sehingga menjaga suhu tetap dingin dan es tetap utuh.

Namun, perubahan penggunaan lahan yang masif telah mengubah keseimbangan ini. “Penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi yang masif membuat nilai albedo yang dikembalikan ke atmosfer menurun, sehingga terjadi penumpukan energi radiasi di atmosfer, kemudian terjadi pemanasan global, dan menyebabkan mencairnya gletser,” terang Emilya pada Jumat (17/4/2026).

Dampak dari Papua hingga Pesisir Jawa

Mencairnya es di pegunungan tropis dan wilayah kutub secara otomatis berkontribusi pada peningkatan volume air laut secara global. Bagi masyarakat Indonesia, dampak ini tidak hanya terasa di Papua, tetapi juga meluas hingga ke daerah pesisir yang jauh dari pegunungan es.

Advertisement

Emilya menyoroti fenomena abrasi dan kenaikan muka air laut yang kian parah di pesisir utara Jawa, seperti di Semarang. “Meskipun kenaikan muka air tidak hanya disebabkan oleh peningkatan volume air laut, fenomena tersebut merupakan dampak yang nyata dirasakan,” jelasnya.

Langkah Terakhir: Dekarbonisasi Lintas Sektor

Untuk menekan laju penyusutan gletser yang tersisa, Emilya menekankan urgensi dekarbonisasi lintas sektor dan penerapan regulasi pemanfaatan lahan yang ketat. Upaya ini memerlukan kolaborasi dari berbagai tingkatan, mulai dari kebijakan pemerintah hingga perubahan perilaku di tingkat rumah tangga.

“Di tingkat rumah tangga, kita bisa membantu dengan melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan apabila mungkin, berpartisipasi dalam usaha penghijauan untuk membantu menurunkan suhu udara dalam jangka panjang,” tuturnya.

Kehilangan es di Puncak Jaya bukan sekadar hilangnya lanskap alam yang indah, melainkan sebuah sinyal peringatan bagi keseimbangan ekologi Indonesia. Jika kenaikan suhu bumi tidak segera diatasi, lapisan es Papua yang telah menjadi saksi sejarah ribuan tahun ini mungkin akan lenyap dalam dekade ini.

Advertisement