Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, yang awalnya dijadwalkan berakhir pada Selasa (21/4/2026). Keputusan ini diambil setelah menerima permintaan dari Pakistan, dengan harapan Iran dapat mengajukan proposal yang terpadu.
Trump menyatakan melalui platform Truth Social bahwa perpanjangan tersebut merupakan respons atas permintaan dari Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan. “Mengingat bahwa Pemerintah Iran sedang mengalami perpecahan yang parah, hal yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, serta atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta untuk menunda serangan terhadap Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat menyusun usulan yang terpadu,” terang Trump, dikutip dari The Guardian, Rabu (22/4/2026).
Rencana Pembicaraan Lanjutan dan Blokade
Meskipun gencatan senjata diperpanjang, Trump menegaskan bahwa militer AS akan tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. “Oleh karena itu, saya telah memerintahkan angkatan bersenjata kita untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siaga dan siap, serta akan memperpanjang gencatan senjata hingga usulan mereka diajukan dan pembicaraan selesai, bagaimanapun hasilnya,” lanjutnya.
Menurut laporan Euronews, Pakistan sebelumnya telah berencana menjadi tuan rumah putaran kedua pembicaraan AS-Iran. Namun, kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Islamabad ditunda oleh Gedung Putih, menyusul penolakan Iran untuk memulai kembali negosiasi.
Sebelumnya, kedua negara telah memberikan peringatan bahwa mereka siap melanjutkan pertempuran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Seorang pejabat senior Iran sempat menyatakan kesediaan negaranya untuk menghadiri pembicaraan lanjutan, asalkan AS menghentikan kebijakan tekanan dan ancaman. “Para negosiator Iran bersedia hadir asalkan AS menghentikan kebijakan tekanan dan ancaman, serta menolak negosiasi yang bertujuan memaksa Iran menyerah,” demikian kutipan dari Reuters, Rabu (22/4/2026).
Sesi pembicaraan pertama antara AS dan Iran di Islamabad yang digelar beberapa hari sebelum pengumuman Trump tersebut dilaporkan tidak membuahkan hasil kesepakatan.
Awal Mula Konflik AS-Iran
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kali ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran. Dampak dari konflik ini dengan cepat meluas ke negara-negara Teluk seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke berbagai pangkalan militer AS di wilayah tersebut, serta ke wilayah Israel. Iran juga segera mengambil langkah menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak negara-negara Teluk.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah lama berupaya menggulingkan kepemimpinan Iran. Namun, keterlibatan Trump dalam perang tersebut diwarnai oleh alasan yang berubah-ubah dan terkadang saling bertentangan, yang menimbulkan kebingungan di pasar global terkait perkiraan akhir dari konflik ini.






