Regional

FKKG Jateng Dorong Laki-laki Ambil Peran untuk Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Advertisement

SEMARANG – Forum Kesetaraan dan Keadilan Gender (FKKG) Jawa Tengah mendesak pelibatan laki-laki secara masif dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Data menunjukkan angka kekerasan di provinsi ini masih tergolong tinggi, bahkan masuk lima besar nasional.

Ketua FKKG Jawa Tengah, Tsaniyatus Solihah, mengungkapkan bahwa pada periode Januari hingga November 2025, tercatat sebanyak 2.633 korban kekerasan. Rinciannya meliputi 1.075 perempuan dan 1.558 anak. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2024, di mana terdapat 2.368 korban (1.019 perempuan dan 1.349 anak) dalam periode Januari-Desember.

“Angka kekerasan di Jawa Tengah itu masih lima terbesar di nasional,” ujar Tsaniyatus Solihah saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan selama ini cenderung didominasi oleh keterlibatan perempuan, seperti melalui kelompok PKK. Padahal, peran laki-laki sangat krusial untuk memutus mata rantai kekerasan, termasuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Gubernur yang baru ini pun (menginisiasi) kecamatan berdaya yang salah satunya menjadi rumah perlindungan perempuan dan anak, itu pun sudah diupayakan di level kecamatan. Tetapi sampai saat ini kan KDRT itu masih tinggi,” tambahnya.

Melibatkan Laki-Laki dalam Edukasi

Tsaniyatus Solihah menyoroti bahwa masih banyak laki-laki yang belum sepenuhnya memahami dan menyadari berbagai bentuk KDRT. Oleh karena itu, edukasi dan penyadaran yang melibatkan laki-laki menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya kekerasan.

Advertisement

“Dalam konteks KDRT, banyak sekali laki-laki tidak paham bahwa membentak itu adalah salah satu bentuk kekerasan. Harapannya kalau kita ngomongin tentang satu poin kekerasan itu, ini lebih masif lagi digerakkan pelibatan laki-laki dalam pencegahan kekerasan,” jelasnya.

DP3AP2KB melalui FKKG Jawa Tengah sebenarnya telah berupaya menginisiasi gerakan “Pria Peduli Perempuan dan Anak” atau yang disingkat Garpu Perak sejak tahun 2022. Upaya ini kemudian ditindaklanjuti dengan penerbitan surat edaran oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar Kabupaten/Kota membentuk Garpu Perak di wilayah masing-masing.

“2023 itu Kota Semarang sudah terbentuk, lalu kabupaten-kota seperti Kabupaten Pati, dan lainnya mereka juga sudah membentuk,” katanya.

Gerakan Garpu Perak mengampanyekan partisipasi aktif laki-laki dalam pencegahan kekerasan, partisipasi dalam program kontrasepsi, hingga pengambilan peran yang lebih besar dalam pengasuhan anak. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan bahwa gerakan ini belum sepenuhnya diikuti dan belum cukup efektif dalam menyadarkan para laki-laki.

“Faktanya di lapangan gerakan ini ya masih menjadi sebuah gerakan saja dan tidak menjadi kesadaran baik dari OPD ataupun masyarakat bahwa edukasi itu penting untuk laki-laki,” pungkasnya.

Advertisement