Global

Gencatan Senjata AS-Iran Segera Berakhir, Kapan Tepatnya?

Advertisement

Ketidakpastian menyelimuti nasib gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan segera berakhir, menimbulkan pertanyaan mengenai langkah selanjutnya kedua negara. Gencatan senjata, yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Selasa, 7 April 2026 malam waktu Washington DC (Rabu, 8 April 2026 pagi WIB), seharusnya berakhir pada Selasa, 21 April 2026 malam (Rabu, 22 April 2026 pagi WIB).

Namun, dalam pernyataan terbarunya kepada Bloomberg News pada Senin (20/4/2026), Trump mengindikasikan bahwa ia menganggap gencatan senjata akan berakhir pada Rabu malam waktu Washington (Kamis, 23 April 2026 pagi WIB). Ia juga menekankan kecil kemungkinan perpanjangan kesepakatan jika tidak ada hasil negosiasi yang konkret.

Sementara itu, laporan dari kantor berita Reuters yang mengutip sumber dari Pakistan menyebutkan bahwa gencatan senjata akan berakhir pada Rabu (22/4/2026) pukul 20.00 waktu setempat (ET), atau sekitar pukul 03.30 dini hari Kamis waktu Iran (Kamis pukul 07.00 WIB).

Negosiasi Masih Terganjal Ketidakpastian

Di tengah tenggat waktu yang semakin dekat, belum ada kepastian apakah Iran akan berpartisipasi dalam pembicaraan lanjutan yang direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan bahwa keputusan mengenai partisipasi Teheran dalam perundingan tersebut belum diambil.

Sinyal yang muncul pun cenderung beragam. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Senin menyatakan bahwa negaranya terbuka untuk negosiasi, namun menolak jika dilakukan di bawah tekanan dari AS. Ia juga mengingatkan bahwa Iran telah menyiapkan opsi lain jika jalur diplomasi gagal, termasuk kemungkinan konfrontasi.

Situasi ini menciptakan atmosfer yang dipenuhi ketidakpastian menjelang berakhirnya gencatan senjata. Hingga kini, belum jelas apakah kesepakatan akan diperpanjang atau justru berakhir tanpa tindak lanjut diplomatik.

Jika negosiasi benar-benar dilanjutkan, prosesnya diperkirakan tidak akan mudah. Dikutip dari Al Jazeera, kedua pihak masih memiliki sejumlah perbedaan mendasar. Isu-isu tersebut mencakup sengketa di Selat Hormuz, sanksi ekonomi, kompensasi perang, program nuklir Iran, hingga hubungan regional Teheran.

Advertisement

Meskipun demikian, Amerika Serikat dan Iran disebut masih berupaya menyelesaikan berbagai perbedaan tersebut melalui jalur diplomasi, meski peluang keberhasilannya belum dapat dipastikan.

Trump Kembali Beri Peringatan

Di tengah ketidakpastian tersebut, Presiden Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait kemungkinan negosiasi. Dalam wawancara via telepon dengan program radio konservatif The John Fredericks Show, ia menyatakan keyakinannya bahwa Iran pada akhirnya akan bersedia berunding.

Namun, Trump juga mengeluarkan peringatan tegas jika Teheran menolak. “Mereka akan bernegosiasi. Jika tidak, mereka akan melihat masalah yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” ujar Trump.

Ia menegaskan bahwa kesepakatan yang diinginkan harus memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. “Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Tidak ada akses, tidak ada peluang untuk itu. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi karena bisa menjadi kehancuran dunia,” katanya.

Trump juga menilai langkah yang diambil AS terhadap Iran bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan. “Kami tidak punya pilihan dalam hal Iran. Ini bukan soal pilihan, kami harus melakukannya,” ujarnya.

Advertisement