Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku sejak Sabtu (18/4/2026) berimbas pada industri transportasi udara. Sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia, termasuk Garuda Indonesia, Citilink, dan TransNusa, mengindikasikan adanya penyesuaian harga tiket pesawat.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan penyesuaian harga tiket secara proporsional. “Kami akan melakukan penyesuaian harga tiket secara proporsional dan diukur dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta kepatuhan terhadap ketentuan regulator,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Senada, Direktur Utama PT Citilink Indonesia Darsito Hendroseputro menegaskan bahwa maskapai akan melakukan penyesuaian harga tiket dengan pendekatan yang terukur. “Kami akan melakukan penyesuaian harga tiket dengan pendekatan yang terukur dan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk keberlangsungan operasional perusahaan, daya beli masyarakat, serta ketentuan regulator,” jelas Darsito.
Sementara itu, TransNusa secara spesifik menyebutkan rencana kenaikan harga tiket pesawat berkisar antara 10 hingga 14 persen. Direktur Utama TransNusa, Bayu Sutanto, saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (7/4/2026) menuturkan, “Kemungkinan kenaikannya rata-rata (tidak semua rute sama) berkisar 10-14 persen.” Kenaikan tarif ini, menurut Bayu, sejalan dengan Keputusan Menteri Perhubungan (KM) Nomor 83 Tahun 2026 mengenai penyesuaian biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sebesar 38 persen bagi pesawat jet dan nonjet yang efektif berlaku sejak 6 April 2026.
Bagaimana dengan Tiket Bus?
Di tengah penyesuaian harga tiket pesawat, nasib harga tiket bus masih menjadi pertanyaan. Direktur Utama PO Sumber Alam, Anthony Steven Hambali, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada kenaikan harga tiket bus penumpang. “Untuk saat ini, karena BBM belum naik, maka tidak ada kenaikan harga tiket bus di Sumber Alam,” kata Anthony kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Senin (20/4/2026).
Namun, berbeda dengan PO Sumber Alam, DAMRI masih melakukan evaluasi mendalam. Head of Corporate Communication DAMRI, P Septian Adri S., menjelaskan bahwa perusahaan masih menghitung dampak kondisi saat ini terhadap tarif layanan. “Terkait penyesuaian harga BBM, saat ini kita masih melakukan evaluasi dan perhitungan lebih lanjut dampaknya terhadap operasional, termasuk tarif layanan,” ujar Septian melalui pesan WhatsApp, Selasa (22/4/2026).
Septian menambahkan, prinsip penyesuaian tarif akan selalu mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk daya beli masyarakat dan penugasan layanan publik. “Apabila terdapat kebijakan resmi terkait penyesuaian tarif, akan kita sampaikan lebih lanjut,” tuturnya.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah mengumumkan penyesuaian harga BBM non-subsidi per Sabtu (18/4/2026). Kenaikan signifikan terjadi pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Berdasarkan laman resmi Pertamina, harga Pertamax Turbo naik dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter. Dexlite mengalami kenaikan dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter, sementara Pertamina Dex meningkat dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter. Harga BBM subsidi, seperti Pertalite (Rp 10.000 per liter) dan Biosolar subsidi (Rp 6.800 per liter), dilaporkan masih stabil.






