JAKARTA, KOMPAS.com – Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng MinyaKita berpotensi mengalami penyesuaian dalam waktu dekat. Usulan kenaikan HET ini datang dari Menteri Perdagangan Budi Santoso, menyusul tren peningkatan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan wacana penyesuaian harga tersebut setelah menggelar Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di kantornya, Rabu (22/4/2026). Aturan yang berlaku saat ini, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025, menetapkan HET MinyaKita sebesar Rp 15.700 per liter.
“Ini MinyaKita memang lama tidak ada penyesuaian. Tadi Mendag mengusulkan penyesuaian,” ujar Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta.
Meskipun demikian, Zulhas meminta Kementerian Perdagangan untuk melakukan perhitungan yang matang terlebih dahulu sebelum menetapkan besaran kenaikan HET. Proses perhitungan ini juga akan melibatkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta instansi terkait lainnya.
“Menghitung bareng-bareng nanti baru kita rapat secara khusus,” tambahnya.
Ditemui terpisah usai rapat, Menteri Perdagangan Budi Santoso membenarkan bahwa HET MinyaKita yang berlaku saat ini sudah ditetapkan sejak beberapa tahun lalu. Ia menekankan pentingnya penyesuaian harga sesuai dengan dinamika pasar yang terus berubah.
“Sudah 3 tahun lebih ya, Rp 15.700 (HET Minyakita). Kan semua harus disesuaikan,” kata Budi Santoso, yang akrab disapa Busan. Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menambahkan bahwa usulan kenaikan harga MinyaKita akan didiskusikan lebih lanjut sebelum diajukan dalam rapat terbatas di tingkat kementeriannya.
Hingga kini, Kementerian Perdagangan belum merinci berapa persen kenaikan HET MinyaKita yang akan diajukan. “Ya nanti, kan dari hasil rapat tadi kita akan kaji, kita hitung lagi. Kita hitung bareng-bareng,” ujar Busan.
Faktor Kenaikan CPO Global
Kenaikan harga CPO global menjadi salah satu pemicu utama usulan penyesuaian HET MinyaKita. Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak bumi.
Menurut proyeksi Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), harga CPO di pasar global diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan. Jika pada kuartal kedua 2026 harga CPO berada di kisaran 1.165 dollar AS per ton, proyeksi untuk bulan April naik menjadi 1.440 dollar AS per ton. Tren kenaikan terus berlanjut pada Mei menjadi 1.701 dollar AS per ton, dan bahkan mencapai 1.783 dollar AS per ton pada Juni 2026.
Perang di Timur Tengah menyebabkan harga minyak bumi melonjak. Kondisi ini mendorong sejumlah negara untuk beralih menggunakan CPO sebagai bahan baku biodiesel. “Tekanan harga global berpotensi memberi efek nyata pada pasar domestik,” tulis IPOSS dalam catatannya.






