PT Pertamina Patra Niaga sedang mengkaji kemungkinan kenaikan harga untuk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax 92 dan Pertamax Green 95. Keputusan final mengenai penyesuaian harga ini masih menunggu hasil evaluasi dan koordinasi dari pihak pengambil keputusan.
“Masih dalam tahap evaluasi,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, seperti dikutip dari Kompas.com pada Selasa (21/4/2026). Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah harga kedua jenis BBM tersebut akan mengalami kenaikan atau tidak.
Roberth menambahkan bahwa pihaknya masih menunggu kelanjutan proses evaluasi dan koordinasi internal sebelum pengumuman resmi dikeluarkan. “Ini masih menunggu hasil evaluasi dan koordinasi,” jelasnya.
Sebelumnya, telah terjadi penyesuaian harga pada beberapa jenis BBM nonsubsidi per tanggal 18 April 2026. Pertamax Turbo mengalami kenaikan dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter. Dexlite kini dijual seharga Rp 23.600 per liter dari harga sebelumnya Rp 14.200, sementara Pertamina Dex naik dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter. Untuk Pertamax 92, harganya masih bertahan di Rp 12.300 per liter, dan Pertamax Green 95 di Rp 12.900 per liter.
Potensi Kenaikan Pertamax Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya telah mengindikasikan adanya potensi kenaikan harga Pertamax. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang dipengaruhi oleh ketegangan konflik di Timur Tengah.
“Kalau harganya (minyak dunia) turun, ya enggak naik (harga Pertamax). Tapi kalau harganya begini (naik) terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian,” ujar Bahlil pada Senin (20/4/2026).
Kenaikan harga yang telah terjadi pada Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite merupakan bagian dari tahap pertama penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Tahap selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan situasi harga minyak global.
“Kalau untuk BBM nonsubsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian,” jelas Bahlil.
Sementara itu, Bahlil memastikan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga dan meringankan beban masyarakat.






