Regional

Melatih Empati di Balik Jeruji, Seniman Yogyakarta Lukis Tahanan dan Bawa Makanan ke Mapolres Bantul

Advertisement

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Belasan seniman meresapi kehidupan di balik jeruji dengan melukis langsung di dalam ruang tahanan Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu (22/4/2026). Kegiatan ini merupakan upaya menumbuhkan empati terhadap sesama melalui pengalaman langsung yang tak biasa.

Para seniman, yang membawa peralatan melukis mereka, terlihat memasuki ruang tahanan dan berkarya di sana selama kurang lebih satu jam. Suasana di dalam ruangan diwarnai suara sayup-sayup lagu-lagu bertema Indonesia yang dinyanyikan oleh para seniman. Peliputan oleh awak media tidak diizinkan selama kegiatan berlangsung di dalam sel.

Usai sesi melukis, para seniman keluar dengan membawa hasil karya mereka. Sebagian besar lukisan berbentuk sketsa hitam putih yang merekam kondisi di dalam tahanan.

Menumbuhkan Empati dan Kemanusiaan

Budayawan Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengajak para seniman untuk belajar merasakan dan memahami kehidupan orang lain.

“Mereka saya ajak berkunjung ke dalam tahanan itu akan bertemu sejumlah tahanan yang sedang apes nasibnya apa pun kasusnya,” ujar Butet di Mapolres Bantul, Rabu.

Menurut Butet, seniman sejatinya harus memiliki empati dan simpati terhadap sesama manusia dan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan fondasi penting dalam kehidupan berdemokrasi.

“Hari ini kita tahu semua bahwa rezim hari ini cenderungnya mengkhianati demokrasi, tidak membelajarkan kepada khalayak tentang praktik-praktik berdemokrasi,” kritik Butet.

“Kalau seniman tidak punya sensitivitas kepada manusia dan kemanusiaan itu namanya seniman mblegedes,” tegasnya.

Selain menuangkan gagasan melalui lukisan, para seniman juga membawa makanan untuk para tahanan sebagai bentuk perhatian.

Advertisement

“Saya bawakan makanan, meskipun di tahanan makannya bergizi, bergizi yang sesungguhnya bukan dari maling bergizi,” kata Butet, menyiratkan makna kepedulian di balik pemberian makanan tersebut.

Hasil karya para seniman ini rencananya akan dikurasi dan dipamerkan kepada masyarakat luas.

“Lukisannya nanti akan diseleksi oleh kurator untuk dipamerkan di legareca, mini galeri di dekat Madukismo sana. Supaya masyarakat juga bisa terinspirasi empati kemanusiaannya,” jelas Butet.

Pembelajaran Bersama di Balik Jeruji

Salah satu pelukis yang mengikuti kegiatan tersebut, Ampun Sutrisno, mengaku merasakan langsung kondisi para tahanan yang hidup dalam keterbatasan.

Ia berharap pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi para tahanan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

“Kalau pertama saya pertama merasakan rasa dia, bagaimana menghibur support kepada dia. Mas semangat di rumah ada orang yang mencintai anda,” ungkap Ampun, menggambarkan upayanya memberikan dukungan emosional kepada para tahanan.

“Yang terpenting jangan mengulangi lagi,” imbuhnya.

Ampun membawa pulang sketsa yang menggambarkan kondisi para tahanan. Ia mengaku tidak akan mewarnai lukisan tersebut, mempertahankan nuansa hitam putih yang merefleksikan keseriusan dan realitas yang ia saksikan.

Advertisement