Megapolitan

Pasar Santa Meredup, Sosiolog Sebut Ada Perubahan Tren Anak Muda dan Dinamika Kota

Advertisement

Pasar Santa, yang pernah menjadi primadona ruang kreatif anak muda di Jakarta Selatan, kini menunjukkan tanda-tanda meredup. Lorong-lorong yang dulu ramai oleh hiruk pikuk pencari kopi, piringan hitam, barang thrift, hingga zine, kini didominasi oleh deretan kios yang tertutup dan suasana lengang. Perubahan ini, menurut sosiolog, mencerminkan pergeseran tren anak muda dan dinamika kota yang terus bergerak.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai meredupnya Pasar Santa merupakan bagian dari proses perubahan sosial yang inheren dalam perkembangan ruang kota. “Pasar Santa sebelumnya dikenal sebagai ruang kreatif anak muda di daerah Blok M, Jakarta Selatan. Itu menjadi salah satu landmark atau ikonik anak muda. Tapi kemudian mengalami penurunan dan sepi saat ini,” ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com.

Rakhmat menjelaskan, keberhasilan Pasar Santa di masa lalu terletak pada kemampuannya menciptakan komunitas yang erat antara pedagang dan pengunjung, serta menjadi wadah ekspresi kultural dan kreatif yang kuat. Namun, ruang kreatif semacam itu rentan kehilangan daya tarik jika tidak mampu mengikuti pergeseran tren konsumsi dan kebutuhan sosial generasi muda.

Perubahan tren anak muda menjadi faktor krusial. Rakhmat menyebutkan, generasi muda saat ini cenderung bergeser ke tempat-tempat yang lebih terintegrasi dan mudah diakses, seperti pusat perbelanjaan atau area publik yang menawarkan berbagai fasilitas. “Salah satu penyebabnya juga karena ada pergantian atau suksesi generasi, dari milenial mengalami perubahan cepat secara masif dengan generasi Gen Z,” katanya.

Di tengah lanskap komersial Jakarta yang terus berkembang, Pasar Santa dinilai kehilangan kekuatan magnet sosialnya. Selain tren, keterbatasan ruang fisik gedung bertingkat Pasar Santa juga menjadi kendala. Berbeda dengan tempat lain yang menawarkan ruang terbuka lebih luas, keterbatasan ruang di Pasar Santa dapat membatasi interaksi sosial dan pengalaman kolektif.

“Ukuran dan keterbatasan ruang fisik memang dapat mempengaruhi daya tarik sosial suatu tempat. Ruang yang terbatas dapat membatasi interaksi sosial dan pengalaman kolektif yang terjadi dalam suatu komunitas,” ucap Rakhmat. Ia menambahkan, kawasan seperti Blok M memiliki keunggulan karena lebih luas dan terintegrasi dengan area publik lain, memberikan pengunjung lebih banyak pilihan untuk dijelajahi.

Keterbatasan Ruang Fisik dan Hilangnya Momentum Viral

Kondisi Pasar Santa saat ini menggambarkan keterbatasan tersebut. Ruang terbuka yang seharusnya menjadi titik berkumpul pengunjung hanya ditemukan di lantai paling atas. Lantai dasar dan dua didominasi kios yang berfungsi seperti pasar konvensional, dengan lorong-lorong sempit yang lebih terasa seperti gedung perdagangan daripada ruang publik.

Bangunan tiga lantai ini seolah menyisakan “cangkang” dari identitas lamanya. Area yang masih menyediakan ruang untuk duduk santai dan interaksi komunal hanya ada di lantai 3, sementara lantai bawah lebih menyerupai pasar konvensional dengan kios kebutuhan rumah tangga, pakaian, hingga jasa permak.

Rakhmat juga menyoroti peran momentum viral dan jejaring sosial dalam menentukan keberlangsungan ruang kota. Ia menilai, Blok M yang lebih dulu viral mendapatkan keuntungan dari efek jaringan yang kuat, menarik perhatian lebih luas dan membentuk persepsi sosial. “Pasar Santa, meskipun memiliki produk menarik yang unik secara kreativitas dan kultural, mungkin tidak mendapatkan perhatian yang cukup untuk menciptakan buzz yang dapat menarik berbagai lapisan sosial,” kata Rakhmat.

Ia menyimpulkan, faktor sosial seperti dinamika komunitas, pola konsumsi anak muda, serta kemampuan tempat untuk beradaptasi sangat menentukan apakah ruang kreatif bisa bertahan.

Kondisi Lapangan: Dari Kios Kosong hingga Ruang Terbuka di Lantai Atas

Di lapangan, gambaran keterbatasan ruang itu terlihat nyata. Lantai dasar masih diisi kios perlengkapan rumah tangga, toko emas, alat tulis, pakaian, hingga jasa penjahit. Aktivitas jual beli tetap berlangsung, namun lebih banyak pedagang yang duduk menunggu pelanggan.

Lantai dua menunjukkan sedikit perubahan dengan adanya kedai kopi, kios thrift, dan beberapa tenant kreatif yang tersisa. Namun, lorongnya dipenuhi kios kosong, menciptakan suasana timpang dengan banyak ruang mati yang memutus arus pengunjung.

Lantai 3 menjadi satu-satunya ruang yang terasa lebih “terbuka” dengan dominasi tenant makanan dan tempat duduk. Namun, posisinya yang paling atas membuat tidak semua pengunjung memilih naik, terutama ketika lantai bawah sudah terlihat sepi. Hal ini menciptakan pengalaman berkunjung yang tidak utuh, di mana pengunjung harus melewati lorong-lorong kosong terlebih dahulu untuk mencapai titik yang masih hidup.

Pemprov DKI: Pasar Rakyat Harus Beradaptasi

Kepala Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, menyatakan bahwa setiap pasar memiliki karakteristik, segmentasi pengunjung, dan dinamika usaha yang berbeda. Penilaian kondisi pasar harus dilakukan berdasarkan data dan pemantauan lapangan secara objektif.

“Karena itu, evaluasi terhadap kondisi suatu pasar dilakukan secara objektif melalui pemantauan lapangan, data aktivitas perdagangan, serta masukan dari para pedagang dan pengelola,” ujar Ratu saat dihubungi, Rabu (22/4/2026).

Advertisement

Menurutnya, naik-turunnya aktivitas pasar rakyat maupun ruang usaha kreatif dipengaruhi banyak faktor, mulai dari perubahan pola konsumsi masyarakat, tren gaya hidup, aksesibilitas kawasan, konektivitas transportasi, inovasi tenant, agenda kegiatan komunitas, hingga perkembangan pusat aktivitas ekonomi di wilayah sekitar.

“Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana setiap pusat perdagangan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan tren pasar,” kata Ratu. Pemprov DKI mendorong pasar rakyat tidak hanya menjadi pusat transaksi jual beli, tetapi juga ruang interaksi sosial, kewirausahaan, dan kreativitas masyarakat melalui penguatan UMKM, promosi usaha lokal, penyelenggaraan event tematik, serta peningkatan kenyamanan sarana dan prasarana.

Pedagang: Omzet Turun, Pengunjung Tak Lagi Betah Nongkrong

Fathan (27), pemilik kedai kopi yang telah berjualan di Pasar Santa sejak 2016, mengenang masa keemasan pasar tersebut. “Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, bahkan lebih kalau ada event atau weekend panjang,” kata Fathan.

Namun, kini situasinya berubah drastis. Omzet hariannya turun menjadi rata-rata Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, bahkan kadang di bawah itu saat weekday sepi. Penurunan ini bukan hanya soal jumlah pengunjung, tetapi juga perubahan perilaku. Anak muda yang dulu bisa berjam-jam nongkrong kini datang sebentar lalu pergi.

“Sekarang sudah banyak pilihan, coffee shop standalone, mall baru, tempat yang lebih rapi, lebih nyaman, lebih konsisten branding-nya,” ujar Fathan, menyoroti kalahnya Pasar Santa bersaing dengan tempat-tempat baru yang menawarkan kenyamanan lebih konsisten.

Ia juga menyoroti hilangnya kurasi tenant yang dulu membuat identitas Pasar Santa kuat. Faktor media sosial juga mempercepat perpindahan tren. Meskipun begitu, Fathan melihat peluang jika Pasar Santa melakukan pembaruan serius, “Kalau ada rebranding yang serius, masih bisa hidup lagi. Lokasi ini sebenarnya masih strategis.”

Senada dengan Fathan, Theo (28), pedagang kaos dan barang thrift yang berjualan sejak 2017, mengakui kondisi pasar kini tidak lagi mendukung pertumbuhan usaha. Pendapatannya yang dulu bisa mencapai Rp 800 ribu hingga Rp 1,5 juta sehari, kini anjlok menjadi Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Ia menilai pola belanja anak muda berubah, di mana barang thrift kini mudah ditemukan melalui platform online.

“Sekarang thrift juga banyak online. Jadi orang tidak perlu datang langsung. Mereka tinggal scroll, pilih, bayar,” kata Theo.

Theo juga menilai Pasar Santa kehilangan magnet utamanya. Kios-kios yang kosong menciptakan efek psikologis yang membuat pengunjung enggan menjelajah lebih jauh. “Kalau orang naik ke atas dan lihat banyak yang tutup, ya mereka malas lanjut jalan. Itu efek psikologis juga,” katanya.

Di lantai dasar, Warni (52), pedagang perlengkapan plastik rumah tangga yang telah berjualan sejak 2010, juga merasakan dampak penurunan arus pengunjung. Ia masih mengingat masa ketika Pasar Santa ramai dikunjungi anak muda. Namun, ritme Pasar Santa kini berubah, dan pendapatannya ikut turun seiring dengan perubahan perilaku belanja masyarakat yang beralih ke online.

Pengunjung: Blok M Lebih Terbuka dan Punya Banyak Pilihan

Hafiz (25), seorang pengunjung yang datang pada akhir pekan, mengaku kunjungannya ke Pasar Santa kali ini didorong oleh rasa nostalgia. Ia menilai Pasar Santa masih memiliki unsur yang dulu membuatnya menarik, tetapi pengalaman ruangnya sudah berbeda.

Hafiz membandingkan Pasar Santa dengan Blok M yang kini kembali ramai. “Di Santa itu kan lebih seperti pasar dalam gedung. Tidak ada ruang terbuka yang besar, kafenya juga kecil-kecil di dalam kios,” tuturnya. Menurut Hafiz, Blok M lebih mudah membangun suasana karena menyediakan ruang publik yang memungkinkan orang bergerak dan menikmati aktivitas sosial, serta menawarkan lebih banyak pilihan dalam satu area yang saling terhubung.

Andra (27), karyawan swasta yang sesekali berkunjung, juga menilai Pasar Santa kini lebih sering menjadi tempat nostalgia. Ia merasa Pasar Santa kehilangan konsistensi dan tenant yang berubah-ubah, sehingga kurang memiliki tujuan spesifik saat dikunjungi. “Kalau Blok M sekarang lebih hidup sih. Lebih rapi, lebih banyak pilihan baru, dan selalu ada hal yang bikin orang balik lagi,” ujar Andra.

Agus (55), satpam Pasar Santa, mengakui kondisi pasar tidak seramai dulu. “Iya sekarang lebih sepi dibanding dulu. Kalau dulu kan ramai terus, terutama lantai atas. Sekarang ya lebih pelan,” kata Agus. Ia menyebut keramaian masih terlihat pada akhir pekan, namun tidak sepadat masa kejayaannya. Agus menilai kondisi ini lebih tepat disebut perubahan ritme, bukan pasar yang benar-benar mati, meskipun pengunjung kini datang lebih singkat dan tidak lagi bertahan lama.

Advertisement