TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Perjuangan 24 tahun menabung akhirnya berbuah manis. Karim (55) dan Edoh (52), pasangan suami istri penjual cilok dan bubur keliling di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, akan segera menunaikan ibadah haji. Mereka dijadwalkan berangkat ke tanah suci pada musim haji tahun 2026, tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 04 KJT pada Kamis, 23 April 2026.
Keberangkatan ini menjadi kejutan bagi keduanya. Prediksi awal mereka adalah bisa berangkat pada tahun 2028, setelah mendaftarkan diri pada tahun 2014. Namun, takdir berkata lain, rezeki mereka tahun ini terbuka lebih cepat.
“Kami tak menyangka hasil menabung kami sebagai tukang cilok dan bubur keliling selama 24 tahun untuk ibadah haji bisa terwujud tahun ini. Saya jualan cilok dan suami jualan bubur keliling pak. Ini nikmat tak terhingga kami yang diberikan Alloh SWT,” ujar Edoh sambil mengusap air mata dengan ujung kerudungnya saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Rabu (22/4/2026).
Edoh menceritakan, niat ibadah haji setiap muslim pasti akan terkabul, tanpa memandang status ekonomi. Buktinya, ia dan suaminya yang selama ini hidup sederhana di rumah kontrakan kecil, berbekal keahlian memasak cilok dan bubur untuk dijual keliling setiap hari selama 24 tahun, kini bisa mewujudkan impian mereka.
“Sampai akhirnya Alhamdulillah saya besok akan berangkat dengan suami. Selama 24 tahun kami menabung Rp 50 ribu, Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu hasil jualan dan sisa kebutuhan keseharian keluarga. Kami yakin dan tak goyah sampai akhirnya diridhoi dan berhasil,” tambah Edoh, duduk di samping suaminya yang berbadan kekar.
Selama proses menabung, pasangan ini berhasil membeli rumah sendiri yang sederhana setelah 20 tahun menyewa kontrakan. Bahkan, saat menghadapi kewajiban pelunasan biaya haji, Edoh tak ragu menambah usahanya.
“Saat saya 2018 lalu mesti bayar mendadak Rp 10 juta lagi, saya bilang ke suami, saya akan jadi pembantu di tetangga pak setelah jualan cilok. Biar membantu biaya pelunasan dan Alhamdulillah berhasil,” kata Edoh. Rumahnya pun ramai didatangi tetangga dan keluarga untuk memberikan doa restu usai pengajian selamatan keberangkatan.
Pasangan ini tinggal bersama putri mereka yang berusia 22 tahun dan menantunya. Keduanya selalu memberikan dukungan penuh dalam usaha menabung untuk ibadah haji.
Perjuangan Tak Kenal Lelah
Karim dan Edoh tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Mathlaul Khaer Cintapada sejak diberitahukan kepastian berangkat beberapa bulan lalu.
“Sebagai pedagang cilok yang dilakukan bersama suaminya berjualan bubur, selama ini berjalan penuh lika-liku dan banyaknya rintangan dihadapi. Tapi Alhamdulillah, ibadah Haji bisa berangkat, rumah meski kecil bisa kebeli sendiri usai puluhan tahun tinggal di kontrakan,” ujar Edoh, diamini suaminya.
Bahkan, sepekan sebelum keberangkatan, Karim masih setia berjualan bubur dua kali sehari, pagi dan sore. Para pelanggan setianya selalu menanti dagangannya yang dijual dengan berjalan kaki sejauh 3 hingga 5 kilometer dari rumahnya.
“Bapak kemarin-kemarin sebelum berangkat masih jualan dan berjalan kaki sejauh 3 hingga 5 kilometer dari rumah dan menuju jalan baru penghubung antar Kota Tasikmalaya menuju Sindangkasih, Ciamis,” tutur Edoh dengan kerudung merahnya.
Kini, keduanya sumringah dapat melunasi biaya haji sebesar Rp 62 juta per orang dan bersiap menuju tanah suci. Mereka berharap kisah mereka dapat menjadi inspirasi.
“Yang penting yakin, niat kuat, berusaha. Bismillah pasti bisa. Alhamdulillah,” pungkasnya.






