Isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay mencuat di tengah maraknya penangkapan ikan invasif tersebut di DKI Jakarta. Sejumlah pedagang mengakui adanya praktik tersebut demi menekan biaya produksi, meskipun mereka sendiri tetap menggunakan ikan berkualitas.
Wandi (56), seorang penjual siomay di Cengkareng, Jakarta Barat, yang telah berjualan selama 25 tahun, membenarkan adanya pedagang yang menggunakan daging ikan sapu-sapu. “Ada lah udah enggak usah saya rahasiakan juga semua orang pasti sudah tahu, ya memang ada aja sih yang kayak gitu (pakai ikan sapu-sapu_), tapi saya enggak ya,” ujarnya kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Menurut Wandi, oknum pedagang nekat menggunakan ikan sapu-sapu karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan ikan tenggiri. “Kalau pakai sapu-sapu itu saya pernah tahu ada yang jual Rp 25.000 atau Rp 35.000 per kg gitu, nah kalau ikan tenggiri itu dia bisa sampai hampir Rp 100.000 per kg. Lumayan kan (selisihnya),” jelasnya.
Setia pada Ikan Tenggiri
Wandi menegaskan bahwa ia tidak pernah menggunakan ikan sapu-sapu dalam racikan siomaynya. Sejak awal berdagang, ia mengikuti resep dari bosnya yang menggunakan ikan tenggiri sebagai bahan utama. Ia mendapatkan pasokan ikan tenggiri dari pedagang di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara.
“Kalau saya tuh dulu ikut bos, dia dagingnya tenggiri, saya tau itu pakainya tenggiri, soalnya beda dia rasanya kentara, terus enggak lengket, kalau sapu-sapu pasti agak lengket,” tuturnya.
Meskipun usahanya kini berjalan mandiri setelah membeli dua gerobak dari bosnya sekitar 10 tahun lalu, Wandi mengakui kualitas siomaynya tidak sepenuhnya sama seperti dulu. Hal ini lantaran harga ikan tenggiri yang terus meroket.
“Nah waktu awal-awal masih sama itu saya supplier-nya juga, tapi kalau sekarang ya enggak 100 persen tenggiri juga sih. Dicampur kan pakai tepung, terus pernah juga nyoba dicampur daging ayam. Tapi kalau pakai sapu-sapu alhamdulillah saya enggak pernah,” ungkapnya.
Tuna sebagai Alternatif
Senada dengan Wandi, Angga (25), penjual siomay di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, juga menyatakan tidak pernah menggunakan ikan sapu-sapu. Ia mengaku bekerja untuk seorang bos di kawasan PIK.
“Kalau saya itu kerja juga, ada bos nya di PIK, ini pakainya tenggiri sama tuna, tuh, dagingnya cerah warnanya agak putih, empuk ini dijamin,” kata Angga.
Menurut Angga, pencampuran ikan tenggiri dengan tuna menjadi salah satu strategi untuk menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas rasa. “Kalau setahu saya pakai tuna itu enggak ngubah rasa nya, kadang kalau tepuk kan jadi agak beda ya. Kalau pakai tuna itu rasanya tetap enak, kayak siomay yang mahal-mahal biasanya,” jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu ciri siomay yang diduga menggunakan ikan sapu-sapu adalah warnanya yang cenderung lebih gelap dibandingkan siomay berbahan dasar tenggiri.
Dukungan Pengawasan
Angga mengaku belum pernah secara langsung menemukan pedagang yang menggunakan daging ikan sapu-sapu. Namun, ia menyatakan dukungannya terhadap pengawasan pangan olahan jika memang bahan tersebut terbukti berbahaya bagi kesehatan konsumen.
“Saya jujur sih enggak tahu juga ya, tapi kalau memang dia bahaya, mengandung apa itu yang bahaya, ya sebaiknya jangan lah, apalagi kalau diambil dari kali kan sapu-sapu nya,” tuturnya.






