Maraknya isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai pengganti ikan tenggiri dalam pembuatan siomay mendorong masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih jajanan favorit ini. Pedagang siomay mengungkapkan sejumlah perbedaan mencolok antara siomay berbahan baku asli dengan yang menggunakan ikan sapu-sapu, baik dari segi warna, tekstur, hingga aroma.
Angga (31), seorang pedagang siomay di Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat, menjelaskan bahwa konsumen dapat membedakan siomay berkualitas dengan melihat warna dan merasakan teksturnya. Menurutnya, siomay yang murni menggunakan daging tenggiri atau campuran ikan berkualitas biasanya memiliki warna yang lebih terang, bahkan cenderung putih.
“Kalau saya itu kerja juga, ada bosnya di PIK, ini pakainya tenggiri sama tuna, tuh, dagingnya cerah warnanya agak putih, empuk ini dijamin,” kata Angga saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (20/4/2026).
Sebaliknya, siomay yang menggunakan ikan sapu-sapu cenderung memiliki warna yang lebih gelap. Perbedaan kualitas daging sapu-sapu juga akan terasa saat dikunyah dan dicium aromanya. “Siomay yang pakai sapu-sapu biasanya lebih alot, keras, lebih amis juga,” jelas Angga.
Ciri Tekstur dan Aroma yang Berbeda
Wandi (56), pedagang siomay laris di Cengkareng, Jakarta Barat, yang telah berjualan selama 25 tahun, turut mengamini perbedaan tersebut. Ia menyebut siomay ikan sapu-sapu memiliki tekstur yang berbeda saat dipegang atau digigit.
“Kalau saya tuh dulu ikut bos, dia dagingnya tenggiri. Saya tahu itu pakainya tenggiri, soalnya beda dia rasanya kentara, terus enggak lengket, kalau sapu-sapu pasti agak lengket,” ucap Wandi.
Wandi tidak menampik adanya oknum pedagang yang nakal dan sengaja menggunakan ikan sapu-sapu untuk menekan biaya produksi. “Ada lah udah enggak usah saya rahasiakan juga semua orang pasti udah tahu, ya memang ada aja sih yang kayak begitu, tapi saya enggak ya,” ungkapnya.
Selisih Harga Bahan Baku yang Jauh
Alasan utama penggunaan ikan sapu-sapu adalah selisih harga bahan baku yang signifikan. Daging sapu-sapu liar menjadi jalan pintas bagi sebagian pedagang untuk meraup keuntungan lebih besar.
“Kalau pakai sapu-sapu itu saya pernah tahu ada yang jual Rp 25.000 atau Rp 35.000 gitu. Kalau ikan tenggiri itu dia bisa sampai hampir Rp 100.000. Lumayan kan (selisihnya),” kata Wandi.
Siasat Pedagang Hadapi Kenaikan Harga
Meskipun harga ikan tenggiri terus mengalami kenaikan, banyak pedagang siomay yang memiliki siasat agar tidak merugikan konsumen. Mereka memilih untuk mencampur bahan dasar siomay dengan daging ayam atau ikan lain yang lebih terjangkau, namun tetap aman dan lezat.
Angga, misalnya, memilih mencampur tenggiri dengan tuna untuk menghemat modal tanpa mengorbankan kualitas dan rasa.
“Kalau setahu saya pakai tuna itu enggak ngubah rasanya. Kalau pakai tuna itu rasanya tetap enak, kayak siomay yang mahal-mahal biasanya,” ucap Angga.
Sementara itu, Wandi lebih memilih mencampurnya dengan bahan baku lain demi keberlangsungan usahanya.
“Kalau sekarang ya enggak 100 persen tenggiri juga sih. Dicampur kan pakai tepung, terus pernah juga nyoba dicampur daging ayam. Tapi kalau pakai sapu-sapu alhamdulillah saya enggak pernah,” kata Wandi.






