PATI, Indonesia – Setelah penantian panjang yang membentang bertahun-tahun, ribuan petani di Kabupaten Pati akhirnya menerima kabar gembira. Bantuan stimulan untuk mengatasi kerugian akibat gagal panen (puso) yang disebabkan oleh bencana banjir pada tahun 2023, tahap kedua, secara resmi disalurkan dengan total nilai mencapai Rp 15 miliar. Bantuan ini ditujukan bagi sekitar 6.700 petani yang tersebar di empat kecamatan, yaitu Pati, Sukolilo, Jakenan, dan Kayen.
Penyaluran bantuan dilakukan melalui buku rekening, memungkinkan petani untuk mencairkan dana secara bertahap sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pihak bank. Kepala Desa Wegil, Heri Priyanto, menyampaikan rasa syukurnya atas terealisasinya bantuan tersebut.
Heri menuturkan bahwa perjuangan panjang yang dilakukannya bersama para kepala desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta dukungan dari pemerintah daerah dan pusat, akhirnya membuahkan hasil. “Alhamdulillah, ini sangat membantu petani. Kami sudah dua kali ke Jakarta untuk memperjuangkan bantuan ini, dan akhirnya hari ini benar-benar terealisasi,” ujarnya.
Di Desa Wegil sendiri, luas lahan yang terdampak puso mencapai 9,14 hektare, dengan total bantuan yang diterima sekitar Rp 72 juta. Meskipun tergolong kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain, bantuan ini tetap dianggap sangat berarti bagi para petani untuk memulai kembali musim tanam. “Dana ini nantinya digunakan untuk membeli bibit, biaya pengolahan lahan, dan kebutuhan pertanian lainnya. Intinya untuk mendukung penanaman padi kembali,” tambahnya.
Upaya Koordinasi Lintas Sektor
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan ini sempat mengalami penundaan, bahkan nyaris dicoret dari daftar penerima. Namun, berkat upaya berbagai pihak, termasuk dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), bantuan tersebut akhirnya dapat dicairkan.
“Ini perjuangan panjang. Awalnya sempat dicoret, tetapi setelah dilakukan koordinasi intensif dengan pemerintah pusat, akhirnya bisa direalisasikan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa setiap hektare lahan yang terdampak mendapatkan bantuan sebesar Rp 8 juta. Pemerintah berharap bantuan ini mampu memperkuat ketahanan pangan daerah, khususnya menjelang musim tanam berikutnya.
Perjuangan Aspirasi Petani
Anggota DPR RI Sri Wulan menegaskan bahwa bantuan ini merupakan hak para petani yang harus diperjuangkan. Ia mengaku telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk memastikan bantuan dapat tersalurkan.
“Kami menerima aspirasi petani, kemudian kami pelajari dan cross-check ke BNPB. Ini adalah hak petani, sehingga harus diperjuangkan sampai terealisasi,” ungkapnya.
Sebelumnya, ribuan petani sempat menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor BPBD Kabupaten Pati pada bulan Juni 2024. Aksi tersebut dilatarbelakangi oleh tuntutan pencairan bantuan puso yang dinilai terlalu lama tertunda, dan menjadi salah satu bentuk tekanan agar pemerintah segera merealisasikan bantuan tersebut.
Kini, dengan cairnya dana bantuan tersebut, para petani dapat kembali bernapas lega. Diharapkan bantuan ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga menjadi langkah awal pemulihan sektor pertanian di Kabupaten Pati.






