SUMBAWA, NTB – Di tengah kepulan asap dari tungku kayu di rumah panggungnya yang sederhana di Desa Lekong, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Hapsah (62) tak pernah berhenti berkarya. Tangan keriputnya dengan cekatan membungkus kue lemper menggunakan daun pisang, satu per satu dilipat rapi. Kesibukan ini telah menjadi rutinitasnya demi menghidupi keluarga.
“Iya, jualan kue lemper dan pisang goreng. Kalau sore hingga malam jualan kue apem. Alhamdulillah, keuntungan bisa dari Rp 60.000 sampai Rp 80.000 per hari,” ujar Hapsah kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026) siang, sembari memastikan adonan kue di atas tungku matang sempurna.
Aktivitas ibu rumah tangga ini dimulai sejak subuh. Berbagai jajanan pasar seperti lemper, apem, hingga pisang goreng ia jajakan. Kondisi ini ia jalani setelah suaminya meninggal belasan tahun lalu, memaksanya menjadi tulang punggung keluarga dan harus berjuang sendirian mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Suami sudah meninggal belasan tahun lalu, saya berusaha berjualan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Biasanya saya juga jualan aneka kue yang lain. Tergantung permintaan pelanggan,” tuturnya. Meski usianya senja, semangatnya tak pernah padam, sama seperti saat pertama kali ia belajar membuat kue di masa muda.
Keahlian Hapsah terlihat jelas dalam setiap proses pembuatan kue. Dengan teknik yang telah teruji, ia tak hanya sekadar mengaduk adonan. Di atas tungku api yang menyala, Hapsah memastikan kematangan merata dan tekstur yang pas sebelum dibungkus rapi. Kecekatan tangannya juga terlihat saat memindahkan alat masak, menunjukkan kekuatan fisik dan mental yang terasah selama bertahun-tahun bekerja keras. Asap dari tungku dan uap dari kukusan menjadi saksi bisu ketekunannya.
Dari Pekerja Migran Menjadi Pelaku UMKM
Jalan hidup Hapsah tidaklah mudah. Setelah purna dari masa baktinya sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI), ia terjun ke dunia usaha. Beban hidup semakin bertambah berat ketika ia harus memikul tanggung jawab sebagai orang tua tunggal atau single parent. Sendirian, Hapsah berjuang membesarkan dan menyekolahkan empat orang anaknya.
“Dulu rasanya berat sekali, belasan tahun sejak suami saya meninggal. Saya jualan harus bangun subuh, buat kue, jualan, sampai pulang sore terus urus anak,” kenangnya. Meski berat, tekadnya tak pernah goyah. “Tapi, kalau tidak saya yang berjuang, siapa lagi?” ujar Hapsah sambil tersenyum getir namun penuh kebanggaan di dapur rumahnya yang sederhana.
Kini, pengorbanan Hapsah telah membuahkan hasil manis. Keempat anaknya telah dewasa, mandiri, dan semuanya telah berumah tangga. Mereka memiliki kehidupan masing-masing, namun tak pernah melupakan jasa ibunda tercinta.
Tinggal Sendiri, Ditemani Cucu
Meskipun anak-anaknya telah berkeluarga, Hapsah memilih untuk tetap tinggal di rumah lamanya di Desa Lekong. Ia ingin tetap mandiri dan tidak merepotkan anak cucunya. Namun, rumahnya tidak pernah sepi. Setiap hari, ia ditemani oleh cucu-cucunya yang lucu. Celoteh dan tawa mereka menjadi obat penenang dan penyemangat bagi nenek Hapsah.
Di tengah kesibukannya mengurus tungku, membungkus kue, dan mengatur kukusan, kehadiran cucu membuat hari-harinya terasa hangat dan penuh warna.
Teladan Nyata Semangat Kartini
Pada peringatan Hari Kartini, sosok Hapsah menjadi representasi nyata dari ketangguhan perempuan Indonesia, khususnya di Sumbawa. Jika R.A. Kartini berjuang dengan pena dan surat untuk mencerdaskan bangsa, Hapsah berjuang dengan tangan, keringat, dan ketabahan demi masa depan keluarganya.
Ia membuktikan bahwa menjadi wanita bukan berarti lemah. Di balik asap tungku, aroma daun pisang, dan uap kukusan, tersimpan hati yang besar dan semangat yang tak pernah padam. Usia 62 tahun bukan penghalang untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi keluarga.
“Selama tangan ini masih bisa bergerak membuat kue, selama kaki ini masih kuat melangkah, saya akan terus berjuang. Ini cara saya membahagiakan anak cucu,” pungkas Hapsah dengan mata berbinar.
Hapsah adalah bukti hidup dari filosofi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Setelah melewati masa-masa sulit, kini ia menikmati hasilnya dengan tenang, tetap bekerja, dan tetap menjadi pahlawan bagi keluarganya sendiri.






