Money

Petani Sawit Perempuan Naik Kelas, Hasil Kebun Ikut Terdongkrak

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com — Para petani perempuan di sentra perkebunan kelapa sawit kini mulai mengambil peran yang lebih signifikan dalam pengelolaan kebun. Perubahan ini menandai pergeseran dari sekadar mengikuti kebiasaan menjadi pengelola yang lebih mandiri, yang berpotensi mendongkrak hasil kebun secara lebih optimal.

Di berbagai wilayah sentra sawit rakyat, perempuan semakin aktif terlibat dalam seluruh proses budidaya. Keterlibatan mereka mencakup pemilihan bibit unggul, penentuan waktu pemupukan yang tepat, hingga memastikan proses panen dilakukan sesuai standar. Peran yang kian besar ini tumbuh seiring dengan kesadaran bahwa keberhasilan kebun tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan juga oleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam.

“Saya benar-benar baru mengetahui kalau sawit yang masih kecil itu tidak boleh dipotong dulu,” ujar Ida Farida, seorang petani sawit dari Desa Mendik, Paser, Kalimantan Timur, melalui keterangan pers yang diterima Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

“Sebelumnya saya belum tahu, jadi asal panen saja. Sekarang jadi tahu ilmunya, jadi lebih paham mana yang sudah layak dipanen dan mana yang belum, supaya hasilnya juga bisa lebih bagus,” lanjut Ida Farida, menjelaskan perbedaannya sebelum dan sesudah mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Sebelum memahami teknik panen yang tepat, Ida Farida mengaku kerap memanen tandan buah segar (TBS) yang belum mencapai kematangan sempurna. Kondisi ini berdampak langsung pada nilai jual yang diterima, yang seringkali tidak optimal saat diserahkan kepada pabrik kelapa sawit.

Perubahan fundamental dalam cara pandang dan praktik bertani mulai dirasakan Ida Farida setelah ia mengikuti pelatihan PERKASA (Petani Berkualitas dan Sejahtera). Program pelatihan ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas petani melalui pembelajaran praktis yang langsung diaplikasikan di lapangan.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta tidak hanya dibekali pemahaman mengenai kriteria panen yang tepat, tetapi juga diajarkan aspek-aspek perawatan kebun yang sebelumnya kerap terabaikan. Pengetahuan baru ini membuka mata para petani terhadap pentingnya setiap detail dalam budidaya sawit.

“Saya juga baru tahu kalau pohon sawit yang sudah mati tidak boleh dibiarkan,” ungkap Ida Farida.

“Dulu saya biarkan saja karena tidak tahu. Setelah dijelaskan, ternyata itu bisa jadi sumber penyakit dan menular ke tanaman lain, jadi sekarang langsung ditebang,” tambahnya, mengilustrasikan praktik baru yang ia terapkan.

Advertisement

Dari Kebiasaan Turun-Temurun ke Standar Budidaya Modern

Sebelum adanya program pendampingan seperti PERKASA, pengelolaan kebun sawit oleh banyak petani perempuan masih mengacu pada kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Keterbatasan akses terhadap informasi terkini dan minimnya pendampingan teknis membuat praktik budidaya yang diterapkan belum sepenuhnya selaras dengan standar agronomi yang baik.

Syarifah, yang juga merupakan peserta pelatihan PERKASA sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Desa Sembuluh Dua, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut secara langsung berdampak pada produktivitas hasil perkebunan. Menurutnya, banyak petani yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai teknik pemupukan, panen, serta perawatan tanaman yang benar.

“Masyarakat sebelumnya tidak mengetahui bagaimana cara pemupukan, panen, dan perawatan tanaman yang benar sehingga hasil yang didapat tidak maksimal,” ujar Syarifah.

“Setelah ikut pelatihan PERKASA kami jadi tahu waktu yang tepat, cara yang benar, dan alasan di balik setiap tindakan di kebun. PERKASA telah membuka wawasan kami dan membuat kami lebih yakin dalam mengelola kebun sendiri,” lanjutnya, menekankan perubahan positif yang dirasakan.

Pelatihan PERKASA dirancang dengan skema pembelajaran yang mengombinasikan 40 persen teori dasar dan 60 persen praktik langsung di lapangan. Dengan durasi tiga hari, skema ini bertujuan agar para petani dapat segera mempraktikkan teknik yang telah dipelajari dan secara bertahap meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengelola kebun secara mandiri.

Pendampingan Berkelanjutan untuk Menjaga Produktivitas

Untuk memastikan bahwa hasil pelatihan benar-benar terinternalisasi dan diterapkan dalam praktik sehari-hari, perusahaan pelaksana program melakukan monitoring secara berkala pascapelatihan. Pendampingan berkelanjutan ini menjadi kunci utama agar perubahan cara bertani tidak hanya bersifat sementara, melainkan mampu membentuk standar baru yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas kebun.

Selain itu, perusahaan juga menyediakan layanan konsultasi agronomi yang dapat diakses melalui pesan WhatsApp di nomor 0811-2220-1210. Layanan ini tidak terbatas hanya bagi peserta pelatihan, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum yang memiliki keinginan untuk mempelajari praktik budidaya kelapa sawit yang lebih baik dan berkelanjutan.

Sebagai upaya penyebaran pengetahuan yang lebih luas, perusahaan turut membagikan buku berjudul “TAP untuk Negeri: Berbagi Pengalaman untuk Bangsa”. Buku ini merangkum standar prosedur agronomi secara komprehensif dengan bahasa yang disederhanakan agar lebih mudah dipahami dan diakses oleh berbagai kalangan petani.

Advertisement