Money

Lima Negara Asean Bertemu Bahas Tren Keselamatan Penerbangan Regional dan Global

Advertisement

JAKARTA, Kompas.com – Lima negara anggota ASEAN, yakni Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia, bersama International Air Transport Association (IATA) dan European Union Aviation Safety Agency (EASA), menggelar pertemuan 5th In-Person Meeting on Regional Data Sharing Initiative di Bali. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen bersama yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) Regional Aviation Safety Data and Information Sharing Initiative, yang disepakati pada tahun 2024, serta bertujuan untuk memperkuat harmonisasi proses dan standardisasi data keselamatan penerbangan antarnegara.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan negara-negara di kawasan untuk mengimplementasikan pertukaran data keselamatan. Tujuannya adalah memperkuat pengawasan berbasis data (data-driven safety oversight) di kawasan Asia Pasifik.

“Melalui inisiatif ini, kita mengambil langkah konkret menuju pendekatan keselamatan yang lebih terkoordinasi dan berbasis data,” ujar Sokhib dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026). Ia menambahkan bahwa kolaborasi regional menjadi kunci dalam meningkatkan keselamatan penerbangan seiring dengan perkembangan industri yang menjadikan data sebagai instrumen penting untuk pengawasan yang efektif.

Sokhib juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarnegara dalam pengumpulan dan pertukaran data keselamatan, termasuk pengembangan dashboard yang mampu menampilkan tren keselamatan regional dan global. “Kolaborasi ini menunjukkan apa yang dapat kita capai ketika bekerja bersama,” jelasnya. “Upaya kolektif dalam pengelolaan dan analisis data telah menghasilkan wawasan bermakna untuk mendukung peningkatan keselamatan penerbangan.”

Isu Strategis Keselamatan Penerbangan Dibahas

Dalam pertemuan tersebut, berbagai isu strategis keselamatan penerbangan dibahas, mencakup analisis kejadian Ground Proximity Warning System (GPWS) yang termuat dalam laporan wajib (Mandatory Occurrence Report/MOR). Selain itu, dibahas pula pertukaran metodologi pemantauan Safety Performance Indicators (SPI) serta pengembangan dashboard analisis data keselamatan.

“Kami juga menyambut baik semakin luasnya partisipasi dalam inisiatif ini, yang memperkaya perspektif serta memperkuat kapasitas kolektif dalam meningkatkan keselamatan penerbangan,” kata Sokhib.

Indonesia, melalui penyelenggaraan pertemuan ini, menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasi regional dan membangun sistem keselamatan penerbangan yang lebih kuat, terintegrasi, dan proaktif. “Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga kesempatan untuk saling belajar dan merumuskan langkah konkret ke depan dalam meningkatkan keselamatan penerbangan,” tutupnya.

Advertisement

Sokhib berharap kegiatan ini dapat semakin memperkuat sinergi antarnegara dan pemangku kepentingan, serta mendukung terciptanya sistem keselamatan penerbangan yang berkelanjutan di tingkat regional maupun global.

Tren Keselamatan Penerbangan Global dan Regional

Tren keselamatan penerbangan global periode 2025-2026 menunjukkan dinamika yang kompleks. Komunitas penerbangan internasional terus mendorong peningkatan standar keselamatan melalui visi ambisius dari International Civil Aviation Organization (ICAO) yang menargetkan nol korban jiwa dalam operasi penerbangan komersial pada 2030 dan seterusnya. Visi ini tertuang dalam Global Aviation Safety Plan (GASP), yang menjadi acuan bagi negara-negara dalam memperkuat sistem keselamatan penerbangan.

Namun, data terbaru menunjukkan adanya tantangan yang masih perlu diatasi. Berdasarkan catatan Aviation Safety Network, jumlah korban jiwa akibat kecelakaan pesawat pada 2025 mencapai 548 orang, meningkat signifikan lebih dari 30 persen dibandingkan 404 korban pada 2024. Meskipun demikian, laporan dari IATA mencatat jumlah kecelakaan justru menurun menjadi 51 kejadian dari total 38,7 juta penerbangan, dibandingkan 54 kecelakaan pada tahun sebelumnya.

Untuk menjaga konsistensi standar keselamatan, ICAO terus menjalankan program audit global melalui Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP). Program ini bertujuan memastikan setiap negara mematuhi standar internasional yang tercantum dalam berbagai Annex ICAO, sekaligus mendorong peningkatan kualitas pengawasan keselamatan penerbangan di tingkat nasional.

Perkembangan Keselamatan Penerbangan di Asia-Pasifik

Di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, perkembangan keselamatan penerbangan menunjukkan tren yang relatif positif. Indonesia mencatat tingkat Effective Implementation (EI) navigasi penerbangan sebesar 80,91 persen per November 2024, melampaui rata-rata regional yang berada di kisaran 63,44 persen.

Penguatan sistem keselamatan juga dilakukan melalui penyelarasan kebijakan nasional dengan standar global. Pemerintah Indonesia mengimplementasikan National Aviation Safety Plan (NASP) yang sejalan dengan GASP ICAO, dengan fokus pada pendekatan pengawasan berbasis risiko. Selain itu, modernisasi sektor navigasi terus dilakukan, termasuk melalui kerja sama AirNav Indonesia dengan ICAO dalam penerapan Fatigue Risk Management System (FRMS) untuk meningkatkan keselamatan operasional penerbangan.

Advertisement