Regional

Terungkap, Peserta SNBT yang Sewa Joki UTBK Incar Jurusan Kedokteran

Advertisement

SURABAYA, KOMPAS.com – Kasus pemanfaatan jasa joki dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) memunculkan fakta mengejutkan. Peserta yang nekat menyewa joki ternyata mengincar satu kursi di Fakultas Kedokteran salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, saat meninjau pelaksanaan UTBK di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Rabu (22/4/2026).

“Iya, kedokteran (jurusan yang diincar peserta penyewa joki), kedokteran salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur,” ungkap Atip kepada awak media di Gedung Rektorat Unesa, Rabu.

Namun, Atip menambahkan bahwa pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian terkait profil lengkap pelaku. “Nanti kita akan memberikan respons setelah selesai penyelidikan. Kita masih menunggu lagi penyelidikan,” ucapnya.

Sanksi Tegas Menanti

Wakil Menteri Atip menegaskan bahwa peserta seleksi yang terbukti menyewa joki akan mendapatkan sanksi tegas berupa diskualifikasi dari ujian. Lebih lanjut, mereka juga akan di-blacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia seumur hidup.

“Karena ini sangat mencederai dari tujuan pendidikan kita yang mengedepankan integritas dan kejujuran. Jadi, boleh saja kita melakukan kekeliruan di dalam proses-proses keilmuan, tapi tidak boleh tidak jujur,” tegasnya.

Tindakan tegas ini diambil untuk mencegah praktik serupa terulang di tahun-tahun mendatang. “Ya, sekarang enggak ada ditemukan dan setelah dia diterima itu, ditemukan bukti-bukti itu, maka menurut saya itu harus dikeluarkan,” tandasnya.

Hingga saat ini, baru satu kasus joki UTBK yang terdeteksi di wilayah Jawa Timur. “Tapi kalau ditemukan kasus yang sama, maka sanksi dan tindakannya seperti yang saya sampaikan tadi, harus tegas,” tuturnya.

Advertisement

Profil Joki dan Motif Ekonomi yang Meragukan

Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Martadi, kembali mengonfirmasi bahwa pelaku joki tersebut memang mendaftar pada jurusan kedokteran.

“Ya, benar (pelaku) mendaftar jurusan kedokteran di salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur,” tegas Martadi.

Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dilakukan tim supervisi Unesa, pelaku joki diketahui berinisial H, dengan usia antara 23 hingga 24 tahun. “Berdasarkan pengakuannya dia berasal dari Surabaya. Tapi kan pengakuannya juga berubah-ubah,” kata Martadi.

Pelaku juga sempat mengaku terpaksa melakukan perbuatannya karena faktor ekonomi. Namun, pengakuan ini menimbulkan keraguan di pihak Unesa.

“Dia bilang kalau dari keluarga miskin, bapaknya meninggal, tapi saya enggak percaya karena bajunya saja bermerek, kacamatanya juga mahal,” jelas Martadi.

Lebih lanjut, pelaku juga mengaku bukan mahasiswa aktif. “Dugaan saya ada dua kemungkinan karena dia tidak dibekali KTP, tidak dibekali kartu mahasiswa,” terangnya.

Sebagai tindak lanjut, pihak kampus telah menyerahkan pelaku joki UTBK tersebut kepada pihak Polrestabes Surabaya untuk proses hukum lebih lanjut.

Advertisement