SEMARANG, KOMPAS.com – Puluhan siswa, santri, balita, ibu menyusui, hingga tenaga pendidik di Demak mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi paket makanan bergizi gratis (MBG). Insiden ini diduga terjadi pada Sabtu (18/4/2026), setelah mereka menyantap makanan yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebonagung.
Gejala keracunan seperti mual, muntah, diare, dan pusing mulai dirasakan para penerima manfaat pada Minggu (19/4/2026). Dinas Kesehatan Demak mencatat, sebanyak 61 dari 76 total penerima yang terdampak masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas setempat, termasuk RS Getas Pandawa, RS Sultan Fattah, dan RS PKU Gubug.
“Mayoritas adalah siswa, sebanyak 59 anak, ditambah santri, balita, ibu menyusui, hingga tenaga pendidik,” ungkap Sekretaris Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Jawa Tengah, Hanung Triyono, dalam laporannya pada Selasa (21/4/2026).
Investigasi Awal Ungkap Potensi Penyebab Keracunan
Hasil investigasi awal yang dilakukan tim Satgas MBG Jawa Tengah menduga keracunan disebabkan oleh kombinasi faktor pasca-produksi, terutama terkait waktu konsumsi dan cara penyimpanan makanan. Menu yang didistribusikan pada hari itu terdiri dari nasi goreng, telur ceplok, tahu goreng, acar timun wortel, susu, dan jeruk.
Laporan menunjukkan bahwa makanan tidak langsung dikonsumsi setelah didistribusikan. Sebagian santri baru memakan jatah MBG mereka di pondok pesantren pada pukul 13.30 WIB hingga sore hari, yang dinilai melampaui batas aman konsumsi. Selain itu, ditemukan pula bahwa nasi goreng dicampur dengan kuah acar, suatu kombinasi yang berpotensi mempercepat kerusakan makanan.
“Analisis kami menunjukkan adanya kemungkinan keterlambatan konsumsi. Proses memasak nasi goreng dilakukan terlalu awal, yakni pukul 03.00 WIB. Selain itu, kombinasi menu antara susu dan jeruk juga berpotensi memicu gangguan pencernaan,” jelas Hanung.
Fasilitas Dapur SPPG Kebonagung Dievaluasi
Temuan lain yang mengemuka adalah kondisi fasilitas dapur SPPG Kebonagung. Evaluasi mendapati adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang terbatas, kondisi air yang agak keruh, lantai yang kotor, serta ketiadaan seorang chef saat proses penyajian.
Atas temuan ini, tim Reskrim telah memasang garis polisi di lokasi dapur SPPG Kebonagung untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
Operasional Dihentikan Sementara, SOP Dievaluasi
Menyikapi insiden tersebut, Hanung memastikan bahwa operasional SPPG Kebonagung telah dihentikan sementara sejak 19 April 2026. Penghentian ini dilakukan sembari menunggu hasil uji laboratorium terkait penyebab keracunan.
Satgas MBG Jawa Tengah juga menyatakan komitmennya untuk mengevaluasi prosedur operasional standar (SOP) pelaksanaan program MBG. Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
“Kondisi para penerima manfaat saat ini sudah berangsur membaik dan diproyeksikan beberapa di antaranya sudah dapat kembali ke rumah besok pagi,” ujar Hanung, memberikan kabar baik mengenai pemulihan para korban.






