WASHINGTON, KOMPAS.com – Amerika Serikat saat ini dihadapkan pada tantangan monumental dalam upaya mengamankan material nuklir dari wilayah Iran, sebuah operasi yang dinilai jauh lebih kompleks dibandingkan pengalaman sebelumnya dalam menangani uranium bekas Uni Soviet.
Sejarah mencatat, AS pernah berhasil memindahkan uranium dari negara-negara pecahan Uni Soviet. Namun, situasi di Iran kini dipandang sebagai misi paling rumit yang pernah dihadapi, sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal pada Minggu (19/4/2026).
Persoalan krusial yang membayangi para negosiator bukan sekadar kesepakatan tertulis, melainkan bagaimana mengeluarkan uranium yang telah diperkaya secara signifikan dari lokasi yang kini hancur lebur akibat serangan udara dan rudal pada Juni lalu.
Serangan tersebut dilaporkan telah menghancurkan sebagian besar fasilitas nuklir utama Iran, menyebabkan material sensitif tersebut terjebak di bawah reruntuhan beton dan besi. Kondisi ini membuat lokasi tersebut belum dapat diinspeksi oleh badan internasional selama hampir setahun.
Operasi Pemindahan Uranium Terkompleks dalam Sejarah
Para pakar keamanan menilai, upaya di Iran ini berpotensi menjadi operasi pemindahan uranium paling kompleks dalam sejarah manusia. Andrew Weber, seorang peneliti senior di Council on Strategic Risks dan mantan pejabat Pentagon yang pernah terlibat dalam operasi serupa, menyatakan adanya banyak ketidakpastian.
“Ada banyak ketidakpastian karena serangan AS pada bulan Juni, persyaratan logistik, risiko keamanan, dan ketegangan kebijakan luar negeri,” kata Weber.
Ketidakpastian mengenai integritas kontainer penyimpanan uranium, ditambah dengan ketegangan politik antara Washington dan Teheran, menciptakan labirin logistik yang sangat sulit ditembus.
Fokus utama kekhawatiran global tertuju pada persediaan uranium Iran yang diklaim telah diperkaya hingga tingkat 60 persen. Material ini secara teknis hanya membutuhkan sedikit langkah lagi untuk mencapai tingkat 90 persen, atau weapon-grade, yang dapat digunakan sebagai inti bom nuklir.
Sebagian besar uranium tersebut diyakini tersimpan dalam terowongan bawah tanah di kompleks Isfahan dan fasilitas pengayaan Natanz. Namun, kedua lokasi ini mengalami kerusakan struktural parah akibat serangan udara.
Dampak Serangan AS-Israel
Sebelum konflik memanas, Teheran dilaporkan telah memperkuat pintu masuk fasilitas nuklir tersebut. Namun, gempuran rudal justru memperdalam titik masuk dan berpotensi mengubur silinder-silinder uranium di bawah ribuan ton puing.
Pemerintahan Donald Trump, yang dikabarkan akan melanjutkan pembicaraan minggu ini, tetap bersikeras agar uranium tersebut disingkirkan dari wilayah Iran. Sebagai insentif, muncul laporan bahwa Washington bersedia mencairkan dana luar negeri Iran senilai 20 miliar dollar AS yang selama ini dibekukan.
Meskipun demikian, Teheran masih memberikan sinyal yang kontradiktif. Di satu sisi, mereka menawarkan pengenceran uranium, namun di sisi lain membantah klaim bahwa mereka telah setuju untuk menyerahkan seluruh persediaan tersebut ke pihak asing.
Pengalaman Proyek Sapphire dan Operasi Lain
Meskipun tantangan di Iran terlihat sangat sulit, AS sebenarnya memiliki pengalaman dari operasi rahasia di masa lalu. Referensi paling utama adalah Proyek Sapphire yang dilakukan pada tahun 1994.
Kala itu, Washington berhasil mengangkut 600 kilogram uranium dari sebuah pabrik di Kazakhstan yang terbengkalai setelah runtuhnya Uni Soviet. Operasi tersebut dilakukan dalam kerahasiaan tinggi, dengan tim ahli menghabiskan lebih dari satu bulan untuk mengemas ulang material berbahaya tersebut ke dalam ratusan kontainer khusus.
Proses pengirimannya pun dilakukan dengan menggunakan dua pesawat angkut raksasa C-5 yang harus melakukan pengisian bahan bakar di udara sebanyak tiga kali. Tujuannya adalah untuk memastikan muatan nuklir tersebut tidak jatuh ke tangan yang salah sebelum tiba di Laboratorium Nasional Oak Ridge, Tennessee.
Pengalaman serupa juga terjadi di Georgia pada 1998, ketika AS dan Inggris bekerja sama mengevakuasi uranium dari reaktor penelitian Soviet. Dari rangkaian keberhasilan inilah, Departemen Energi AS membentuk “program pengemasan bergerak” yang siap diterjunkan ke titik-titik panas di seluruh dunia, dilengkapi dengan peralatan sinar-X, timbangan digital presisi, hingga kotak sarung tangan pelindung.
Perbedaan Kasus Iran
Namun, apa yang dihadapi di Kazakhstan atau Georgia tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan Iran. Di Iran, tim teknis kemungkinan besar tidak dapat langsung masuk ke dalam fasilitas.
Karena uranium disimpan dalam bentuk gas di dalam silinder berat, ada risiko kebocoran akibat tekanan fisik dari bangunan yang runtuh. Jika silinder tersebut rusak, para ahli harus mengubah gas tersebut menjadi bubuk oksida terlebih dahulu agar aman untuk diangkut.
“Ini akan menjadi upaya yang sangat intensif yang akan memakan waktu berminggu-minggu,” kata Scott Roecker, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur Kantor Pemindahan Material Nuklir Departemen Energi dan sekarang berada di Nuclear Threat Initiative.
Pekerjaan tersebut dapat dilakukan menggunakan peralatan jarak jauh khusus, termasuk robot yang dapat memeriksa keberadaan bahan berbahaya dan kerusakan. Setelah material berhasil diamankan dalam bentuk yang stabil, barulah proses verifikasi oleh IAEA dilakukan untuk memastikan tidak ada satu gram pun uranium yang disembunyikan.
Persoalan terakhir yang tidak kalah pelik adalah tujuan akhir dari pengiriman ini. Iran secara tegas menolak jika uranium mereka jatuh ke tangan Amerika Serikat. Beberapa opsi yang muncul dalam meja perundingan adalah mengirimkan material tersebut ke Rusia atau memindahkannya ke Kazakhstan sebagai “bank uranium” yang dikendalikan di bawah pengawasan IAEA.






