Bauran energi bersih global menunjukkan lonjakan signifikan, didorong oleh pertumbuhan pesat energi baru terbarukan (EBT) di China dan India. Laporan terbaru dari lembaga think tank Ember menempatkan kedua negara Asia tersebut di garis depan dalam transisi energi, seiring dengan krisis energi yang melanda dunia.
China dan India Pimpin Pertumbuhan Energi Terbarukan
Berdasarkan analisis Ember, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di China diproyeksikan mencapai 887 terawatt hour (TWh) pada tahun 2025. Angka ini melampaui total pertumbuhan permintaan listrik global yang diperkirakan sebesar 849 TWh. Tren positif ini juga terlihat dari penurunan penggunaan pembangkit energi fosil di China sebesar 0,9 persen atau setara 56 TWh pada tahun lalu. Sementara itu, India mencatat penurunan yang lebih drastis, yakni 3,3 persen atau 56 TWh.
Analis Data Senior Ember, Nicolas Fulghum, menjelaskan bahwa China dan India kini secara agresif mengejar strategi diversifikasi energi dengan memasukkan energi terbarukan ke dalam bauran energi mereka. “Dan sumber-sumber inilah yang menjadi pendorong terbesar perubahan dalam sistem listrik mereka saat ini,” ungkap Fulghum, mengutip laporan yang dilansir dari Euro News pada Rabu (22/4/2026).
China memimpin dunia dalam penggunaan energi surya, menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan kapasitas dan produksi surya global tahun lalu. Selain itu, negara ini juga menjadi kontributor utama peningkatan energi angin global dengan tambahan kapasitas 138 TWh. India, di sisi lain, mencatat peningkatan rekor dalam produksi energi surya, angin, dan tenaga air. Fulghum menambahkan bahwa selama bertahun-tahun, India telah mengalami pertumbuhan pembangkit fosil yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Eropa masing-masing menambah 85 TWh dan 60 TWh energi surya pada tahun lalu, meskipun bahan bakar fosil di kedua kawasan tersebut mengalami sedikit peningkatan. “AS dan Eropa masing-masing menambah 85 terawatt hour dan 60 terawatt hour energi surya tahun lalu, sementara bahan bakar fosil mengalami sedikit peningkatan,” papar Fulghum.
Pangsa Energi Terbarukan Tembus Sepertiga Bauran Listrik Dunia
Laporan Ember menganalisis data listrik dari 215 negara, dengan fokus pada catatan tahun 2025 di 91 negara yang mewakili 93 persen permintaan global. Hasilnya menunjukkan bahwa pangsa energi terbarukan, termasuk surya, angin, tenaga air, dan energi bersih lainnya, untuk pertama kalinya mencapai lebih dari sepertiga bauran listrik dunia pada tahun lalu. Angka tersebut meningkat menjadi 33,8 persen atau setara dengan 10.730 TWh.
Angin Segar bagi Iklim dan Krisis Energi
Fulghum menilai pencapaian ini sebagai angin segar bagi dunia yang terus berjuang menghadapi perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Analisis ini juga sangat relevan di tengah krisis energi global yang diperparah oleh konflik geopolitik.
“Capaian seperti energi terbarukan melampaui batu bara memang penting, tetapi tidak menceritakan keseluruhan kisah sektor listrik. Perbedaan besar dibanding 10–15 tahun lalu, ketika pemerintah hanya berjanji membangun energi terbarukan, adalah bahwa sekarang janji-janji tersebut jauh lebih dapat dipercaya,” ucap Fulghum.
Energi surya yang tumbuh sebesar 30 persen pada 2025 berhasil memenuhi tiga perempat kenaikan bersih permintaan listrik tahun lalu. Jika digabungkan dengan energi angin, kedua sumber energi terbarukan ini mampu memenuhi 99 persen kenaikan tersebut.
Penurunan Pembangkit Fosil dan Peran Penyimpanan Energi
Secara global, pembangkit berbahan bakar fosil mengalami penurunan sekitar 0,2 persen pada 2025, atau setara dengan 38 TWh. Fulghum mengungkapkan bahwa penyimpanan baterai juga mengalami pertumbuhan seiring dengan percepatan energi surya di seluruh dunia, dengan kapasitas penyimpanan meningkat 46 persen pada 2025.
Ember memperkirakan kapasitas baterai yang ditambahkan tahun lalu cukup untuk memindahkan 14 persen produksi energi surya tambahan dari siang hari ke waktu lain dalam sehari. Hal ini menjadi komponen krusial untuk memaksimalkan pemanfaatan energi surya di luar jam produksi.
“Meski pertumbuhan yang dipercepat dan peningkatan permintaan listrik akibat pembangunan kendaraan listrik, pompa panas, serta elektrifikasi sektor industri, energi bersih akan mampu secara struktural memenuhi peningkatan permintaan tersebut dalam beberapa tahun ke depan, sebelum kemudian membalikkan tren dan mengurangi penggunaan pembangkitan fosil,” kata Fulghum.
Di Amerika Serikat, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan menekan pelaku industri untuk meningkatkan produksi batu bara, minyak, dan gas, serta mengurangi dukungan terhadap EBT. Namun demikian, tren penurunan pembangkit fosil justru terus terjadi di Eropa.
Transisi Energi Terus Berkemajuan di Tengah Tantangan
Dekan Columbia University Climate School, Alexis Abramson, menyatakan bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk menghambat energi bersih di AS, transisi energi secara global terus mengalami kemajuan. Ia menyoroti bahwa ketidakstabilan harga minyak akibat konflik global semakin mendorong banyak pihak untuk melihat energi terbarukan sebagai solusi keamanan nasional.
“Saat kita melihat harga minyak sangat tidak stabil saat ini karena perang, saya pikir semakin banyak orang melihat argumen keamanan nasional sebagai alasan untuk memikirkan bagaimana kita meningkatkan elektrifikasi dan memanfaatkan tambahan energi surya dan angin, yang tidak bergantung pada negara lain,” sebut Abramson.






